
"Ada kabar bagus."
"Kabar bagus apa?"
"Nafata bisa kita sembuhkan."
Nikki dan Nafata sontak menatap Jack dengan tatapan terkejut. Lalu keduanya saling pandang sejenak dan kembali menatap pria yang ada sedang memandang mereka.
"Menyembuhkan Nafata?" tanya Nikki memastikan dan Jack langsung mengangguk. "Bagaimana caranya?"
Jack lalu merogoh kerah bajunya dan mengambil batu berwarna ungu. "Dengan ini!"
"Batu bercahaya ungu? Bagaimana bisa?"
Jack tersenyum tipis lalu dia menatap Nafata. "Kamu pasti tahu kan? Batu ungu ini bisa menyembuhkan kamu?"
"Ta-pi- i-tu ba-ha-ya," jawab Nafata.
"Aku tahu. Tapi kalau kamu berdiam seperti itu terus, itu akan lebih bahaya lagi buat kamu."
"Tunggu, Jack. Ini sebenarnya bagaimana? Apanya yang bahaya?" Nikki menyela. Dia masih bingung dengan apa yang baru saja dia lihat dan juga dia dengar.
__ADS_1
Lantas, dengan sangat jelas, Jack menceritakan kisah Nafata dan beberapa kisah lain yang saling bersangkut paut. "Dan bahayanya, kemungkinan Naga dan juga Raja Roma akan mengetahui kalau batu ungu ada di pulau ini."
"Waahh! Ternyata begitu ceritanya?" tanya Nikki dan Jack mengangguk. "Lalu bagaimana cara menggunakan batu itu untuk menyembuhkan?"
Untuk kali ini Jack menggeleng, tapi dia langsug menatap Nafata dan berharap dia tahu cara menggunakan batu ungu itu untuk penyembuhan. Namun, jawaban Nafata sama saja. Dia tidak tahu cara menggunakan batu itu.
"Lah, kirain kamu tahu, Nafata," ucap Jack merasa sedikit frustasi.
"Yang penting kita udah tahu, fungsi batu yang kita miliki. Tinggal kita cari tahu, bagaimana cara menggunakannya," ucap Nikki dengan tenang. Mereka memang harus berpikiran positif agar semuanya berjalan lancar.
"Rahul mana? Kok nggak kelihatan?"
"Paling lagi sama Insana, mereka kan akhir akhir ini terlihat makin dekat."
Keduanya nampak terlihat akrab satu sama lain. Saat ini saja tangan mereka saling menggenggam. Entah di mulai sejak kapan, tapi keduanya seperti pasangan kekasih yang tidak ingin dipisahkan.
"Kita istirahat dulu," titah Rahul saat mereka berada di bawah pohon yang rindang dengan rumput terhampar serta suara gemuruh air terjun yang tidak jauh keberadaannya dari tempat mereka. Wanita cantik berkepang dua itu langsung menurutinya dan mereka duduk di atas rumput saling berdampingan.
"Pemandangannya sangat indah, udaranya juga sangat segar. Persis dengan daerah tempat tinggal saya," ucap Rahul dengan tatapan lurus ke arah air terjun.
"Apa Tuan sedang merindukan rumah?" tanya Insana dengan arah mata sama seperti yang Rahul lakukan.
__ADS_1
Rahul mengangguk dan tersenyum kecut. "Entah bagaimana nasib orang tuaku saat ini. Mungkin mereka telah menganggap aku mati."
Insana meraih jemari Rahul dan menggenggamnya dengan erat. "Sabar, saya yakin suatu saat nanti, kalian menemukan jalan pulang."
Rahul tersenyum, lalu dia merebahkan kepalaya diatas paha Insana dengan wajah menatap perut rata wanita itu dan juga benda imut nan mulus dibawahnya. "Apa kalian benar benar tidak tahu, bagaimana cara menghilangkan kutukan itu?"
Kini Insana yang tersenyum masam dengan tatapan lurus ke arah depan. "Seandainya saya tahu, mungkin saat ini saya sudah menikah dan memiliki anak."
"Menikah?"
Insana menganguk. "Dulu, saya sudah berencana menikah dengan seorang pria yang aku cintai. Tapi menjelang pernikahan, kutukan itu datang dan mengahncurkan rencana indah saya. Pria itu memilih pergi bersama wanita yang tidak memiliki mahkota."
"Pada usia berapa kamu akan menikah? Bukankah kamu saat ini masih sangat muda? Mungkin saja kita seumuran?"
"Saya tidak tahu, usia berapa pada saat itu, yang pasti kejadiannya sudah lama. Lagian sudah menjadi budaya palau ini, wanita yang masih memilki, harus menikah di usia yang sangat muda."
"Oh begitu?" ucap Rahul dan Insana nampak memgangguk beberapa kali. "Sayang sekali. Aku cuma bisa memandangi kalian. Tapi sama sekali tidak bisa menikmatinya. Padahal ini kesempatan yang sangat bagus."
Insana terkekeh. Namun saat wanita itu hendak membuka suara, mereka dikejutkan dengan teriakan seseorang.
"Tolong! Tolong!"
__ADS_1
...@@@@@@...