
"Loh, airnya berubah warna!"
"Ah iya, kenapa bisa seperti ini?"
"Duh, misteri lagi."
Jack dan Nikki langsung saja naik ke permukaan, sedangkan Rahul masih berusaha mencari batu bercahaya ungu. Air kolam yang berubah menjadi warna ungu pekat itu cukup membuat Rahul kesulitan mencari batu itu. Apa lagi ketika di dalam air, cahaya batu itu malah meredup.
"Ini batunya kemana? Masa nggak ada?" ucap Rahul begitu kepalanya keluar dari dalam kolam. Padahal kolam tersebut tidak terlalu dalam dan memang dirancang khusus agar cukup untuk berendam enam orang.
"Yang bener? Coba raba lagi," ucap Nikki, dan Rahul menurutinya.
"Bisa gawat itu kalau naga sampai tahu," Jack menimpali lalu dia langsung kembali masuk ke dalam kolam, begitu juga dengan Nikki.
Ketiganya tentu saja merasa heran. Batu bercahaya tersebut benar benar tidak bisa mereka temukan. Padahal ada enam tangan yang meraba dasar kolam yang rata dan halus, tapi mereka kesulitan untuk menemukan batu itu.
Hingga beberapa lama kemudian. "Ah ketemu!" seru Nikki sambil mengacungkan tangan kirinya. "Bisa bisanya dia nyelip di dalam pojokan."
"Cepat pisahin!" perintah Jack. Nikki langsung membagi batu itu kembali menjadi tiga bagian dan cahaya batu itu langsung menghilang.
"Gila! Tengah malam malah basah basahan begini," gerutu Rahul.
__ADS_1
"Ya salah sendiri, batunya buat mainan," balas Nikki.
Rahul dan Nikki itu langsung ngeloyor keluar dari kamar Jack begitu naik kepermukaan, sedangkan Jack langsung melepas pakaiannya dan beranjak menuju lemari dekat ranjang tidurnya. Tanpa mereka sadari, air kolam yang tadi sempat berubah warna ungu kembali menjadikan jernih.
Mendengar suara gaduh, Nafata yang sedari tadi sudah terlelap menjadi terbangun. Nafata mencoba menoleh secara perlahan dan seketika mata wanita itu membelalak sempurna saat melihat Nikki tanpa mengenakan pakaian.
Ini memang bukan yang pertama kali mereka saling lihat tubuh satu sama lain tanpa berbusana, tapi yang membuat Nafata terkejut adalah kenapa Nikki buka baju malam malam begini?
"Anda kenapa?" tanya Nafata dengan nada terbata.
Nikki yang sedang mengeringkan rambut sambil mencomot pakaian sedikit terkejut mendengar suara Nafata yang belum tidur.
"Kamu terbangun? Maaf ya?" ucap Nikki merasa tidak enak hati. "Tadi habis main air sama Jack dan Rahul."
"Dingin dong," balas Nikki lalu dia mengenakan pakaiannya. Setelah itu dia mendekat ke arah Nafata. "Tidurlah, sudah sangat malam."
"Anda sendiri juga belum tidur."
"Sebentar lagi saya akan tidur."
Nikki mengusap lembut rambut gadis malang itu dan keduanya saling melempar senyum.
__ADS_1
Pada saat bola bercahaya ungu tadi bersatu, naga betina kembali merasakan kekuatannya. Namun kali ini naga betina benar benar merasakan keanehan yang sangat mengganggu pikirannya. Naga Jantan yang tengah terlelap, langsung terbangun seperti biasa saat sang isyri mendadak gelisah.
"Merasakan kekuatannya lagi?" tanya Naga jantan yang sudah hafal betul dengan apa yang terjadi pada istrinya.
Naga betina sontak mengangguk. "Aneh, sebenarnya apa yang terjadi dengan batu itu?"
Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Bukankah besok kita akan mendekati istana? Kamu tenang saja, Istriku?"
Naga betina sedikit mengulas senyum dan ragu ragu mengangguk. Dia pun kembali berbaring memeluk suaminya.
Dan waktu terus bergerak maju. Kini hari telah berganti. Seperti biasa di pagi hari dari taman belakang istana, tiga pemuda melakukan olah raga ringan bersama. Selain berolah raga, mereka juga membicarakan kejadian yang mereka alami.
"Yakin, Jack, airnya berubah jernih kembali?"
"Benar! Aku aja tadi pas bangun sangat kaget. Padahal belum aku kuras airnya."
"Kenapa makin aneh saja sih di sini? Benar benar bikin pusing," keluh Rahul.
Pada saat ketiganya lagi asyik ngobrol, tiba tiba mereka di datangi Ratu Jenita. Dengan memasang wajah galak, Jenita lansung menatap tajam Jack.
"Siang ini, saya tunggu anda di arena pertarungan! Kita tanding satu lawan satu! Mengerti!"
__ADS_1
...@@@@@@...