
Seperti yang sudah direncanakan, hari ini Raja Roma sedang bersiap diri untuk berkunjung ke kerajaan Kagomara. Rasa penasarannnya yang cukup tinggi membuat Raja Roma rela meletakkan gengsi dan egonya demi menemukan segala hal yang mengganggu pikirannya.
Raja Roma pergi bersama Jenderal, ajudan kerajaan dan beberapa prajurit yang cukup banyak. Dia tidak membawa istri ataupun para selirnya, karena menurut Raja Roma, wanita hanya bisa merepotkan saja. Maka itu, Raja Roma memilih pergi sendiri daripada harus membawa seorang wanita untuk menemaninya.
Sebelum melakukan perjalanan, banyak rencana yang disusun Raja Roma bersama para bawahannya. Salah satunya adalah mencari informasi tentang pria yang disebut sebagai utusan dewa dan naga. Raja Roma sangat penasaran dengan pria asing yang katanya memiliki banyak kehebatan. Raja Roma juga menyuh orang orang kepercayaannnya menyiapkan pasukan untuk menyulnya.
Sementara itu di hari yang sama, Jenita juga terlihat sedang mengatur para penjaganya untuk lebih mempersiapkan diri dan waspada dalam menyambut kedatangan Raja yang paling ditakuti oleh kebanyakan kerajaan di seluruh muka bumi. Meski dalam hatinya ada rasa takut, Jenita mencoba menghadapi rasa takut itu dengan segala macam kesibukan.
Sementara itu, Jack, meski dirinya juga disibukkan dengan membantu menyiapkan segala hal, terutama kesiapan para penjaga, pria itu juga selalu mengawasi gerak gerik Jenita. Jack tahu, hati Jenita sedang dalam keadaan tidak baaik. Meskipun dia sudah berusaha mengiburnya, tapi Jack masih melihat dengan jelas ketakutan Jenita hingga saat ini.
Bukan hanya Jenita yang mengalami panik yang luar biasa. Insana dan Nafata juga mengalami hal yang sama. Jika Insana kepanikannya masih bisa ditoleransi, berbeda dengan Nafata. Wanita itu bahkan sempat enggan keluar kamar karena merasa takut akan kedatangan seorang Raja yang sangat dia benci. Bagaimanapun juga, Nafata masih ingat dengan jelas perlakuan apa yang dilakukan Raja Roma kepada Nafata selama wanita itu dalam tawanan sang Raja.
Nikki, pria yang paling dekat dengan Nafata, selalu memberi Nafata kekuatan. Apa lagi dia sudah menyiapkan segala rencana untuk berjaga jaga bersama Rahul, Insana, serta seseorang yang siap membantu mereka.
"Jangan takut," ucap Jack pada Jenita yang sedang duduk di tepi ranjang. Wanita itu menoleh dan memandang pria yang sedang mengusap kepala Jenita dengan lembut. "Rencana kita pasti akan berjalan lancar."
__ADS_1
Setelah menatap Jack, Jenita kembali meluruskan tatapannya ke arah depan. "Bukannya takut, aku hanya merasa khawatir saja."
Jack tersenyum, lalau dia mengambil salah satu kursi dan meletakannya di hadapan singgasana dan Jack duduk di kursi tersebut dan menggengam kedua tangan Jenita serta menatap matanya denggan tatapan penuh keyakinan.
"Jangan terlalu khawatir, hmm. Percayalah, kamu pasti bisa menghadapi Raja Roma. Jangan takut, ada aku yang selalu berada bersamamu, oke?"
Jenita memangguk pelan. Dia memang butuh dukungan yang menenangkan seperti yang Jack lakukan. Dia hanya wanita yang terjebak dalam keadaan yang tidak pernah dia inginkan. Beruntung dia dipertemukan oleh Jack. Entah apa yang akan terjadi jika Jack dulu di hukum mati. Mungkin yang dialaami Jenita. ceritanya akan berbeda.
"Permisi, Ratu," seorang penjaga istana datang menghampiri kamar Jenita yang pintunya memang terbuka.
"Iya, ada apa?" ucap Jenita.
Deg!
Jenita langsung memandang Jack dengan rasa panik yang kembali datang. Jack hanya mengangguk dan menggenggam tangan Jenita agar lebih tenang. Jenita mengalihlan pandangan ke arah penjaga istana.
__ADS_1
"Baiklah, sebentar lagi saya akan menemuinya."
"Baik, Ratu."
Sementara itu di tempat lain, Raja Damendra justru terlihat mengunjungi istana Raja Roma. Dengan ditemani oleh Ratu Amuba dan pengawalya, Raja Damendra yakin kalau Raja Roma pasti akan senang dengan berita yang dia bawa. Tentu saja berita itu mengenai keberadaan Putrri Nafata.
"Apa! Raja Roma sedang berkunjung ke istana kagomara?" pekik Raja Dan Damendra begitu dia sampai di istana dan disambut oleh penasehat istana.
"Benar, hari ini Yang mulia kami sedang berkunjung ke sana," balas penasehat dengan santai dan sopannya.
"Apa saya boleh tahu, kenapa Raja Roma malah berkunjung bukan segera menyerang Istana Kagomara?" tanya Ratu Amuba.
"Itu hanya langkah awal, justru kami saat ini sedang mempersiapkan diri unruk menyerang kesana," jawab sang penasehat. " Sekarang saya tanya kepada anda, kenapa Yang mulia mendapat informasi yang berbeda dengan yang anda sampaikan."
"Informasi yang berbeda? Apa maksud anda, Tuan?" tanya Raja Damendra.
__ADS_1
"Ya, Raja Roma mendapat informasi dari orang kami kalau yang berkuasa disana masih putri anda, Raja Damedra."
"Apa! Mana mungkin?"