
"Apa kamu tahu? Siapa nama putri Raja yang hilang itu?" tanya Jack mencoba memastikan dugaan dalam hatinya.
Insana menatap Jack dengan wajah serius. "Namanya Putri Nafata."
Jack nampak manggut manggut, tapi hatinya cukup bersorak mendengar fakta yang baru dia temukan. Setidaknya sekarang dia mempunyai sesuatu yang bisa dia gunakan jika terdesak nanti.
Jack menatap Nikki dan memberi kode agar menyingkir sebentar dari Rahul dan Insana. Nikki yang mamahami kode dari Jack, sontak saja dia bangkit dan masuk ke dalam rumah. Tak lama setelah itu, Jack menyusulnya.
"Berarti wanita yang ada di kamarku itu, Putri raja?" ucap Nikki antara percaya dan tidak percaya. "Lalu, apa yang akan kita lakukan, Jack? Bukankah kamu lihat kondisi dia seperti apa?"
Jack langsung mengangguk. "Kita memang harus cari tahu, penyebab dia tidak bisa bergerak dan berbicara karena apa? Apa memang ada masalah, atau dia hanya pura pura."
"Pura pura?"
Lagi lagi Jack mengangguk. "Bisa saja dia pura pura bisu buat menghindari pertanyaan tentang harta itu."
Kening Nikki berkerut dan mencerna ucapan Jack. "Bener juga, berarti sekarang kita fokus saja dulu pada Nafata? Gimana?"
__ADS_1
"Setuju! Karena untuk saat ini, dia yang bisa kita gunakan untuk menyelamatkan kita."
Hari ini berlalu dengan berbagai penemuan yang tidak terduga dari seorang Jack. Siang kini telah berganti malam dan para penghuni rumah belakang istana, sedang merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar masing masing.
Mata Nikki terus memandangi tubuh tidak berdaya wanita yang ada di ranjang sebelah. Nikki bangkit dari ranjangnya dan mendekat ke ranjang tersebut lalu duduk di tepi ranjang menatap wajah Nafata.
"Malang sekali nasib kamu, Tuan Putri. Harusnya saat ini kamu lagi bahagia menikmati hidup kamu," gumam Nikki pelan tapi masih bisa terdengar oleh telinga Nafata.
Wanita itu terus menatap wajah tampan lelaki yang sedang membelai rambutnya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Nafata saat ini, yang jelas hatinya merasa lebih tenang, tidak sama seperti sebelumnya.
Seperti biasa, Nikki selalu membuka baju ketika dia hendak tidur. Begitu juga saat ini, Nikki melepas baju di hadapan Nafata. Mata wanita itu mendelik lalu terpejam. Bibir Nikki tersenyum lebar melihat reaksi wajah Nafata.
Perlahan mata Nafata terbuka. Kening wanita itu berkerut saat melihat batu ungu yang menggantung di leher pria di hadapannya. Nikki yang memperhatikan arah pandang Nafata, lansung menggenggam batu itu.
"Apa kamu mengenali batu ini?" tanya Nikki sambil menunjukkan batu berwarna ungu di lehernya. "Kami mendapatkannya di tempat yang berbeda. Kemungkinan gara gara batu ini, kami menjadi tersesat di Pulau ini. Bahkan kami tidak tahu jalan pulang. Entah kenapa batu ini membawa kami kemari. Kami masih belum bisa menemukan jawabannya."
Nafata tercengang mendengarnya. Ada rasa haru saat mendengar ungkapan Nikki yang terdengar getir. Namun yang menjadi pikiran utama Nafata saat ini adalah batu berwarna ungu itu. Jika perkiraannya tidak salah, batu itu adalah batu cahaya ungu milik naga betina.
__ADS_1
Nafata terus memperhatikan batu ungu tersebut. Bahkan saat Nikki sudah mulai terbaring dan memejamkan matanya, pandangan Nafata tak henti hentinya memandang batu tersebut. Tepat tengah malam, mata Nafata sontak membelalak saat melihat dengan jelas batu itu mengeluarkan cahayanya.
Seketika mata Nafata berkaca kaca. Dia seperti menemukan sesuatu yang sangat berharga dari batu bercahaya ungu tersebut. Gadis itu berusaha menggerakkan badannya. Dengan perlahan dia berhasil menggeser badan sedikit demi sedikit.
Karena terlalu semangat untuk mendekati batu itu, Nafata tidak menyadari kalau dia saat ini berada di atas ranjang. Hingga saat tubuhnya berada di tepi ranjang, dia terjatuh.
Gubrak!
Sontak saja, suara gaduh itu mengagetkan semua penghuni kamar karena suaranya terlalu keras.
"Ya ampun!" pekik Nikki begitu melihat Nafata tergeletak di atas lantai. Nikki langsung bangkit dan meraih tubuh wanita itu serta mengangkatnya.
Nafata tidak mensia siakan kesempatan itu untuk meraih batu ungu yang sudah redup.
"Ada apa?" tanya Nikki merasa heran dengan apa yang Nafata lakukan.
Dengan sangat kesusahan, Nafata mengeluarkan suara lirih dan terbata. "Ja-ga ba-tu i-ni."
__ADS_1
"Apa!"
...@@@@@...