NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Isi Hati Para Wanita


__ADS_3

Siang itu, saat udara tidak terlalu panas. Di bangunan berbentuk gasebo yang dikelilingi beberapa tanaman hias. Nampak tiga pemuda sedang tersenyum ceria bersama. Mereka tidak hanya bertiga, tapi ada enam wanita cantik berpakaian seragam, duduk bersama mereka.


Satu pria dua wanita, itulah yang terlihat di tempat yang nyaman itu. Sesekali suara tawa mereka menggema disela sela obrolan dan bujuk rayu si pria kepada wanita yang bekerja sebagai pelayan istana.


Bukan hanya mulut yang berbicara, tapi tangan ketiga pria itu juga sesekali bergerilya, menempel pada sesuatu yang indah pada tubuh wanita. Bukannya marah atau kesal, tapi para wanita itu nampak pasrah saat tangan tangan kekar pria itu menempel dengan sengaja ke bagian tubuh mereka.


Mereka pasrah diperlakukan seperti itu, bukan karena mereka wanita murah meriah. Namun mereka adalah wanita yang selalu penasaran dan ingin merasakan sentuhan dari seorang pria. Bertahun tahun mereka menahan hasrat di usia yang seharusnya sudah bisa menikmati sentuhan pria.


"Apa kalian tidak takut sakit? Memakai pakaian setipis ini?" tanya Jack dengan tangan yang mengusap paha salah satu pelayan di sisinya.


"Tidak, Tuan. Kami nyaman memakai pakaian seperti ini," jawab si Pelayan.


"Tapi ini sama ini kalian terlihat sangat jelas loh! Apa kalian tidak risih," tanya Jack lagi sambil menempelkan cari telunjuknya ke arah benda di bawah perut dan dua benda kemar di dada pelayan.


"Hahaha ... tidak, Tuan. Lagian kan, di sini tidak ada laki laki. Jadi kami nyaman saja memakainya."


"Tapi kan sekarang ada kami? Kenapa tidak diganti?" Rahul ikut melontar pertanyaan.


"Mana sempat, Tuan. Lagian sudah terlanjur. Mungkin kalau kutukannya sudah luntur, pakaian baru akan ganti yang lebih tebal."


Ketiga pria itu nampak manggut manggut dengan tangan yang berani masuk ke dalam baju mereka. Para pelayan hanya bisa senyum senyum bahagia. Sesekali mereka jug memekik saat tubuh mereka merasa geli akibat sentuhan tangan kasar ketiga pemuda itu.

__ADS_1


"Ini bulunya kenapa tidak dirapikan? Seperti punya temenmu ini?" tanya Nikki yang kedua tangannya menempel dan memijat dua gundukan daging terbelah yang berada di bawah perut dua wanita di sisinya.


"Belum sempat, Tuan. Tuan lebih suka yang bersih ya?" jawab sang pelayan.


"Semuanya suka sih, cuma kalau lihat yang mulus kayak gini, lebih semangat aja," balas Nikki.


"Kalau aku asal itu lubang wanita, makan aja, asal bikin hasrat naik," jack menimpali.


"Kalau aku sendiri belum tahu. Sepertinya aku dengan Jack satu aliran," Rahul ikut ikutan bersuara, lalu dia menatap pelayan yang ada disisinya. "Jika aku bisa menghilangkan kutukan yang ada pada lubang kalian, apa yang akan kalian lakukan?"


Kening para pelayan berkerut dan saling pandang satu sama lain. "Kalau aku pribadi sih pasti akan seneng sekali, Tuan!" seru salah satu pelayan dengan sangat antusias.


"Jujur ya, Tuan. Kutukan ini benar benar menyiksa kami. Gara gara kutukan ini, kami tidak bisa disentuh oleh laki laki. Tidak ada hubungan ranjang. Tidak bisa melahirkan jadinya. Impian kita benar benar terhalang karena kutukan ini."


Dan satu persatu, para pelayan mengeluarkan isi hatinya. Wajah mereka kali ini berubah sendu. Jelas sekali kalau keinginan dan mimpi mereka semuanya sama. Mereka merindukan sosok laki laki di dalam hidupnya.


"Baiklah ... sebentar lagi, kalian pasti akan terbebas dari kutukan naga laut timur," ucap Jack dengan santainya. Namun berbeda dengan reaksi yang ditunjukkan para pelayan itu.


"Jangan bercanda, Tuan. Kami tahu, Hal itu sangat mustahil terjadi."


Jack menyeringai lalu tangan kirinya menggenggam erat salah satu bukit kembar pelayan yang duduk di sisinya. "Saya tidak sedang bercanda. Saya pastikan, sebentar lagi kutukan itu pasti akan hilang."

__ADS_1


Para pelayan itu masih tidak percaya. Mereka bahkan menatap wajah ketiga pemuda seperti sedang mencari sesuatu dan mereka tidak menemukan apa apa selain wajah serius ketiga pemuda itu.


"Tunggu saja sebentar lagi, kalian pasti akan saya bebaskan."


"Tuan Serius?" Jack mengangguk.


"Benarkah?" Jack kembali mengangguk.


"Wah!" seru semua wanita dengan wajah yang sangat ceria. "Kapan, Tuan?"


"Tunggu saja yah? Secepatnya!" balas Jack sangat meyakinkan.


"Yeee!" sorak semua wanita.


Namun sorakan itu tak berlangsung lama, saat suara menggelegar penuh amarah terdengar diantara mereka.


"Dasar pria! Lagi ditungguin malah asyik bermain asmara dengan yang lain. Tidak bisa dipercaya!"


"Waduh!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2