
"Apa lagi yang akan kamu umumkan?"
"Ya tentang Tuan Jack, Tuan Nikki dan Tuan Rahul," balas Jenita
"Mereka?" tanya Nafata. "Emang pengumuman apa?"
"Ya bilang ke semua rakyat, kalau tiga pria ini telah siap membantu melunturkan kutukan Naga dari laut timur."
"Apa! Gila!" pekik Rahul. "Yang benar aja?"
"Tunggu!" teriak Jack saat Jenita dan Nafata hendak beranjak meninggalkan ketiga pria itu. Jack melangkah maju dan berhenti tepat di hadapan Jenita. "Maksudnya apa mengambil keputusan secara sepihak seperti itu? Kita kan belum berunding dan mengambil keputusan."
Jenita menatap sengit kepada pria yang juga menatapnya tajam. "Siapa bilang anda semua belum mengambil keputusan?
"Loh, emang kenyataan, kan, kalau kita belum mengambil keputusan," bantah Jack tak mau kalah.
Jenita tersenyum sinis. "Apa anda lupa? Apa yang anda bicarakan tadi pada para pelayan dengan bahagia? Anda lupa? Atau saya panggil pelayan untuk mengingatkan anda sekalian memberi mereka hukuman karena lalai melaksanakan tugas mereka demi anda? Itu yang anda mau?"
Terkejut, itulah reaksi yang ditunjukkan Jack dan dua temannya saat ini. Jack terbungkam tak bisa membalas ucapan Jenita yang penuh dengan amarah. Jack tidak menyangka, imbasnya akan berbuntut panjang seperti ini.
"Tapi para pelayan tidak salah. Kenapa mereka mendapat hukuman? Kami yang mengajak mereka untuk duduk menemani kami," Nikki ikutan bersuara. Biar bagaimanapun keputusan Jenita benar benar mengerikan.
__ADS_1
"Sekarang Tuan Nikki membela pelayan?" Nafata pun ikutan melempar pertanyaan yang membuat Nikki benar benar kalang kabut.
"Bukan begitu, Putri. Aku hanya ..."
"Hanya apa? Hanya peduli sama keselamatan para pelayan?" cerca Nafata. "Ah, aku tahu! Karena mereka masih rapat jadi Tuan Nikki melindungi mereka."
"Astaga!" pekik Nikki frustasi.
"Tuan tuan tidak perlu khawatir, kami akan mewujudkan keinginan Tuan semuanya. Silakan Tuan istirahat yang cukup, karena kemungkinan mulai besok, Tuan tidak memiliki waktu untuk istirahat. Akan ada banyak wanita berbaris disini, menunggu giliran untuk melakukan ritual bersama anda," ucap Jenita dan dua wanita itu segera saja pergi meninggalkan tiga pria yang nampak sangat frustasi.
"Kok jadi ribet gini sih?" keluh Rahul setelah Jenita dan Nafata menghilang dari pandangan.
"Aku juga kaget. Nggak nyangka, hanya karena iseng jadi seperti ini. Dasar wanita, selalu saja dibikin ribet," gerutu Jack.
"Repot ya, menghadapi kemarahan wanita? Dari pada pusing, mending aku makanlah, lapar."
Jack dan Nikki hanya memandang Rahul yang sedanng sibuk mengisi piring dari tanah liat dengan berbagai menu yang ada di hadapannya. Begitu piring terisi penuh, Rahul langsung saja melahapnya. Jack dan Nikki yang melihat Rahul sepertinya menikmati makanannya, rasa lapar langsung saja mendera keduanya. Tanpa pikir panjang, Jack dan Nikki langsung saja mengambil piring yang tersedia dan mengisinya dengan berbagai hidangan yang ada.
Sementara itu di tempat yang berbeda. Tepatnya di dalam sebuah kamar, Nafata nampak sedang memandangi kamarnya yang telah lama tidak dia gunakan. Selama Nafata menghilang, kamar itu selalu dibersihkan atas perintah Jenita.
"Ratu, kamu serius? Mau mengumumkan tentang sesuatu yang berhubungan dengan Tuan Jack?" tanya Nafata dengan mata yang masih mengedar dan berkeliling meneliti setiap sisi dan sudut kamar.
__ADS_1
"Seriuslah, biar mereka kapok dan bisa menghargai kita," Jenita manjawab dengan sangat antusias. "Mereka itu harus dikasih pelajaran biar tidak memandang sebelah kaum wanita. Mereka saja bisa seenak hati, kenapa kita tidak bisa."
"Tapi mereka seperti orang kaget loh," tanya Nafata sembari duduk di atas ranjang bersama Jenita yang sudah terlebih dahulu berada disana.
"Paling kagetnya cuma sebentar. Nanti kalau di ranjang mereka sudah ada wanita yang pasrah juga, mereka pasti akan senang," balas Jenita.
Nafata nampak menggelengkan kepalanya beberapa saat. "Terus kamu tahu darimana kalau mereka cerita kepada para pelayan."
"Asal tebak saja sebenarnya, dari sikap dan perkaataan mereka lah, aku jadi tahu kalau mereka sudah cerita."
"Bener juga, apa lagi mereka kompak membela pelayan. Kita tidak dihargai sama sekali."
Mendengar ucapan Nikki, sontak saja Jenita mengulum senyum.
"Putri,"
"Apa?"
"Kapan kamu siap menjadi Ratu mengggantikan aku?"
Deg!
__ADS_1
...@@@@...