
"Terus kalau kamu menemukan jalan pulang, apa yang akan kamu lakukan, Tuan?"
Deg!
Jack langsung tertegun dan tatapan matanya menatap lekat wanita yang juga sedang menatapnya. Jack tidak langsung menjawab pertanyaann tersebut. Entah apa yang ada di dalam pikiran Jack saat ini. Untuk pertama kalinya dia menunjukkan wajah bingungnya.
Jenita melepaskan pandangannya ke arah lautan. "Kalau suatu saat, kamu menemukan jalan pulang, maka pulanglah. Aku tahu rasanya rindu kepada orang tua. Aku tahu rasanya rindu pada seseorang yang sudah berada di beda alam seperti apa. Maka dari itu, jika menemukan jalan pulang, gunakanlah kesempatan itu."
"Ratu ..."
"Jangan merisaukan aku. Di sini aku akan baik baik saja. Seperti sebelum kamu datang, aku sudah baik baik saja. Aku yakin setelah kamu pergi, aku juga akan baik baik saja. Jadi jangan buat hatimu merasa berat jika kamu menemukan jalan pulang."
Jack sontak tidak bisa berkata apa apa. Dia langsung meraih kepala Jenita dan menenggelamkan dalam pelukannya. Mulut Jack terbungkam. Dia bingung merangkai kata untuk sekedar menenangkan hati Jenita.
Sang Ratu juga merasakan dadanya bergemuruh hebat. Mau tidak mau, Jenita memang harus siap kehilangan Jack saat jalan pulang itu ada. Jenita tidak ingin menjadi pribadi yang egois hanya karena dia ingin Jack tetap berada di sisinya. Jackk punya keluarga. Jack memiliki orang orang yang mungkin saat ini merasa telah kehilangan Jack.
Cukup lama keduanya saling diam. Hanya deburan ombak dan semilir angin hadir meramaikan keheningan yang melanda dua anak manusia itu. Namun tiba tiba sebuah suara menyapa, hingga keduanya harus terpisah dari pelukan yang sedang mereka lakukan.
"Wah! Sepertinya ada yang sedang memadu asmara! Aduh saya salah tempat kalau begitu."
Jack dan Jenita sontak saja langsung menoleh ke arah sumber suara. "Istri naga!" pekik Jack. "Apa yang sedang anda lakukan?"
__ADS_1
"Istri Naga?" gumam Jenita.
"Iya, dia istri Naga dari laut timur," balas Jack.
Naga betina pun langsung tersenyum lebar. "Anda masih mengingat saya, Tuan Jack?"
"Tentu saja saya masih mengingat anda. Apa yang sedang anda lakukan di sini? Mana suami anda?"
"Seperti anda, saya juga sedang menikmati indahnya alam di sini. Sebentar lagi suami saya datang, Tuan Jack," balas Naga betina.
"Kebetulan kalau suami anda ada di sini. Saya ada perlu sama dia."
Jack dan jenita sontak menoleh ke arah yang ditunjuk Naga betina. Terlihat Naga jantan sedang berjalan di atas lauatan dengan tenang, mendekat ke arah naga betina berada.
"Wah! Ada Tuan Jack. Lama kita tidak berjumpa," seru naga jantan begitu dia mendekati istrinya dan melihat Jack ada disana juga bersama seorang wanita. "Apa Ratu Jenita sekarang menjadi kekasih anda?"
"Anda mengenali saya?" Jenita malah melayangkan pertanyaan karena merasa heran saat Naga Jantan menyebut namanya.
"Tentu saja kami mengenali anda, Ratu Jenita," balas Naga jantan dan dia menatap Jack. "Bagaimana, Tuan Jack? Apa semuanya berjalan dengan lancar?"
"Yah, berkat bantuan anda, sebagian wanita sudah bisa menikmati hidup dan para laki laki juga sudah mulai kembali ke pulau ini."
__ADS_1
"Saya tahu, rencana anda pasti rencana yang terbaik, Tuan Jack. Lalu, bagaimana dengan batu bercahaya ungu? Apa masih kalian butuhkan?"
"Itu dia, Tuan Naga. Saya ingin membicarakan masalah ini dengan anda. Apa kita bisa berbicara sebentar?"
"Apa ini sangat penting?"
"Menurut saya ini sangat penting karena memang ada hubungannya dengan batu bercahaya ungu."
Naga Jantan nampak mengangguk beberapa kali. "Mari kita cari tempat untuk berbicara."
Jack langsung menyetujuinya. Mereka berempat bergegas pergj menjauh dari pantai. Tak lama setelah melangkah, mereka menemukan bekas rumah penduduk dimana pada halaman rumah tersebut ada dipan dan bangku panjang di bawah pohon. Mereka memutuskan untuk singgah di tempat itu.
"Bagaimana, Tuan Jack? Apa yang anda ingin bicarakan dengan saya?" tanya Naga jantan begitu mereka duduk di tempat tersebut.
"Begini, Tuan Naga ..." Jack langsung menceritakan semua yang telah dia pikirkan, termasuk kejadian dimana di bersitegang bersama Raja Damendra. Jack juga menceritakan kemungkinan yang akan terjadi setelah Raja Damendra murka.
Beberapa kali Naga nampak manggut manggut. Dia mengerti kekhawatiran yang Jack hadapi. Naga jantan menatap sejenak sang istri di sebelahnnya, lalu kembali dia menatap Jack. "Mungkin ada satu cara yang bisa kalian lakukan, jika terjadi serangan mendadak pada Pulau ini."
Satu cara?"
...@@@@@@...
__ADS_1