NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Kedatangan Raja Damendra


__ADS_3

Hari ini ada yang berbeda di kerajaan Kagomara. Hari ini para penduduk di pulau tersebut sedang bersemangat dan bergembira. Wajah wajah ceria nampak menghiasii para wanita di sepanjang tempat dan di segala suasana. Mereka melakukan segala aktitas dengan penuh suka cita.


Kabar tentang behasilnya para pria dalam melunturkan kutukan Naga, langsung tersebar, dari mulut ke mulut. Kaum wanita yang mahkotanya masih tertahan akibat kutukan Naga, seakan mendapat angin segar begitu mendengar berita bagus itu. Mereka sangat menunggu saat saat datangnya berita bagus seperti hari ini.


Di dalam istana, para pria yang sudah terbangun dari tidurnya, kini nampak sedang berkumpul menikmati makanan yang sudah disiapkan. Wajah mereka juga terlihat lebih segar dan lebih semangat.


"Bagaimana? Apa kalian puas semalam?" tanya Rahul yang juga ikut gabung bersama para pria.


"Puas sekali, Tuan," jawab salah satu pria.


"Aku kurang puas. Baru menikmati satu wanita saja."


"Loh, kok bisa? Semalam kan banyak wanita yang nunggu gilran?."


"Aku terlalu capek karena perjalanan jauh kembali ke pulau ini, jadi baru main satu wanita langsung tidur."


"Yah, nggak seru. Aku aja yang jauh bisa langsung tiga lubang wanita."


"Busyet apa nggak capek?"


"Ya capeklah, tapi enak, gimana dong?"


"Hahaha ... aku aja tiga kali, malah habis makan, pengin bercinta lagi."


"Soal bercinta, ya nanti malam lagi," ucap Rahul. "Kalau siang, waktunya kita berlatih fisik. Kalian ingat kan? Apa pesan Ratu pada kalian?"

__ADS_1


"Ingat, Tuan. Kami pasti akan berlatih dengan giat demi menjaga pulau ini," jawab salah satu pria mewakili pria yang lainnya.


"Terus? Kapan kita akan berlatih, Tuan?"


"Mungkin siang ini," jawab Rahul. "Kalian tunggu saja kabar berikutnya dari Ratu. Sembari mengumpulkan laki laki lain yang baru saja datang."


"Oh begitu? Baiklah! Kami akan siap menunggu perintah, Tuan."


"Baguslah!"


Di saat semua orang sedang sibuk menikmati hari, di dalam sebuah kamar yang letaknya di sebelah kamar utama istana, sepasang pria dan wanita justru sedang berbagi peluh. Suara rintihan kenikmatan menggema dari mulut keduanya.


"Bagaimana, Sayang? Kamu suka posisi seperti ini?" tanya pria bernama Nikki yang sedang duduk santai dengan kaki lurus ke depan sedikit membentang.


"Suka sekali, Tuan. Punya Tuan seperti masuk semua ke dalam lubang saya, akh ..." balas Nafata yang badannya sedang naik turun diatas pangkuan Nikki.


Hal yang sama juga sedang berlangsung di dalam kamar yang yang berbeda. Bahkan pria yang sedang menusuk lubang wanita dari belakang, hendak meraih puncak beberapa saat lagi. Saat ini Jack memang sedang memakai gaya naik kuda.


"Sayang, sebentar lagi aku mau keluar. Kamu nggak berbaring seperri biasanya?" Tanya Jack dengan nafas terengah engah dan pinggang yang terus bergerak maju mundur dengan teratur dan lumayan cepat.


"Kok cepat banget? Perasaan baru nyodok sebentar," protes Jenita. Suaranya juga terdengar berat dengan nafas yang menderu.


"Asataga! Baru sebentar apaan? Orang sedari baru bangun sampai siang begini baru mau keluar, malah dikira sebentar," sungut Jack tak terima, lalu dia menghentikan gerakannya dan mencabut benda menegang miliinya yang sudah basah kuyup. "Sekarang telentang, cepat!"


Mau tidak mau, Jenita menurutinya. Setelah kaki Jenita tentang Jack kembali menyodok lubang nikmat yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"Akhh!" rintih keduanya. Pelan tapi pasti, Jack terus menyodok lubang Jenita tanpa ampun. Tubuh Jenita meliujn liuk tak beraturan.


"Sodokannnya yang kencang, Sayang," Jenita kembali protes.


"Siap!"


Plak! Plok! Plak! Plok!


Suara benturan dua badan mendominasi dan suaranya semakin cepat. Hingga beberapa saat kemudian, tubuh Jack menegang dan bergetar hebat. Permainan nikmat itu akhirnya menemukan puncaknya.


"Akh!"


Crut!


Masih di pulau Kagomara, tepatnya di tepi pulau. Rasa heran ditunjukan oleh dua orang yang baru saja turun dari kapal. Kening mereka sontak saja berkerut semua dengan banyak pertanyaan bermunculan dalam benak mereka.


"Apa yang sedang terjadi di pulau ini? Kenapa banyak pria berdatangan?"


"Benar, Yang mulia. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada pulau ini."


"Lebih baik kita segera ke istana. Jenita pasti tahu, apa yang terjadi.


"Benar ,Yang mulia. Ayo."


Raja dan rombongan bergegas saja melangkah menuju ke istana dengan banyak pertanyaan dalam benak mereka.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2