NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Kejutan Untuk Raja Roma


__ADS_3

"Bagaimana? Apa sekarang kalian telah sadar dengan kehebatan pasukan saya?" tanya Raja Roma semakin menunjukkan ke angkuhannya.


Penjaga itu tak menghiraukan ucapan sang Raja tapi dia malah menyuruh Raja Roma untuk mengikutinya. Tanpa ada rasa curiga, Sang raja melangkah menuju istana dengan senyum cerahnya. Namun betapa kagetnya dia saat sampai di aula istana Kagomara.


Di sana, di hadapan Raja Roma, telah berkumpul Jack dan teman temannya dalam keadan baik baik saja. Tentu saja Raja Roma begitu sangat terkejut. Benar benar diluar dari kenyataan yang dia pikirkan sedari tadi.


Yang membuat Raja Roma semakin kaget, di sana dia juga melihat putri Nafata. Putri yang selama ini dia cari dan pernah dia siksa sebagai tawanan, kini berada di hadapan matanya dalam keadaan baik baik saja. Sungguh, semua yang terjadi benar benar diluar dugaan yang diyakini Raja Roma.


"Anda kenapa, Raja Roma? Kaget dengan apa yang anda lihat?" tanya Jack dengan sinisnya. "Seperti inilah kenyataan yang harus anda lihat, Raja Roma. Bukan seperti yang anda impikan."


Raja Roma menggeleng. "Tidak, pasti ini tidak mungkin? Pasukan saya pasti akan segera datang ke sini menyerang kerajaan kecil ini."


"Benarkah?" tanya Jack, dan dia menatap ke arah penjaga yang berdiri di depan sebuah ruangan di belakang aula istana. "Bawa mereka masuk!"


"Baik, Tuan."


Awalnya mata Raja Roma menyipit dengan benak yang bertanya tanya. Raja Roma penasaran, siapa gerangan yang disuruh masuk oleh Jack. Namun tak butuh waktu lama, rasa penasaran Raja Roma terjawab dengan matanya yang melebar, melihat orang orang yang dia kenal tertunduk lesu dengan tangan yang terikat.


"Ini ... tidak mungkin!" pekik Raja Roma begitu melihat ajudan, panglima dan beberapa orang penting kerajaannya, dalam keadaan yang hampir sama dengan dirinya.


"Yang mulia," sapa penasehat dengan lemah. "Maafkan kami."


"Tidak! Ini pasti mimpi! Tidak!" seru Raja Roma frustasi.

__ADS_1


Semua mata yang ada di sana hanya memandang datar ke arah Raja Roma yang terlihat tidak terima dengan apa yang terjadi pada anak buahnya. Bahkan Nafata, yang tadinya merasa takut, kini menatap Raja Roma yang terlihat menyedihkan dengan tatapan tajam. Ada kepuasan tersendiri dalam hati wanita itu. Nafata tidak menyangka, dia turut andil dalam meruntuhkan kekuasan Raja Roma dengan tangannya sendiri.


Jack tersenyum sinis. "Sekarang anda sudah lihat kenyataannya bukan? Tidak semua yang anda inginkan dapat anda wujudkan!"


Raja Roma menatap Jack dengan tatapan penuh benci. Amarahnya menggelegar di dalam dadanya. "Apa hanya ini kekuatan yang anda miliki?" tanya Raja Roma terdengar sangat meremehkan.


"Yah, seperti yang anda lihat, setidaknya kekuatan kami cukup membuat anda dan pasukan anda tidak berdaya," jawab Jack dengan santainya.


"Cih!" Raja Roma berdecih. "Anda hanya beruntung untuk sesaat, Tuan. Saya yakin akan ada pasukan yang lebih besar lagi setelah ini."


"Oh iya?" balas Jack dengan santainya. "Kalau begitu dengan senang hati kami akan menunggu mereka tiba."


"Pasukan yang mana, Yang mulia?" bisik panglima dengan wajah bingungnya.


Panglima, penasehat dan yang lainnya saling pandang dengan wajah yang gelisah. Tentu saja sikap mereka membuat kening Raja Roma berkerut. "Apa yang terjadi? Apa kalian tidak bilang pada mereka untuk melakukan penenyarangan?" tanya Raja Roma lagi.


"Maaf, Yang mulia. Tapi pasukan kapal besar telah kalah dan semuanyaa tenggelam," jawab panglima perang.


"Apa!" pekik Raja Roma. "Mana mungkin?"


"Benar, Yang mulia. Pasukan kapal besar diserang oleh api Naga."


Deg!

__ADS_1


"Naga?" tanya Raja Roma dengan wajah pias dan bibir yang bergetar. Rasa percaya diri dan kesombongannya seketika runtuh mendengar pengakuan panglimanya.


Panglima menggangguk. "Benar, Yang mulia. Semua habis karena serangan Naga."


"Ti-tidak mungkin? Tidak mungkin Naga membantu mereka?" ucap Raja Roma sembari menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kenapa? Anda tidak percaya kalau Naga berada dipihak kami?" ucap Jack setelah sedari tadi hanya menyimak percakapan para tahanannya. "Anda lihat dua orang yang ada disana?"


Mata Raja Roma dan yang lainnya langsung menoleh ke arah sepasang pria dan wanita yang duduk berdampingan, menatap Raja Roma dengan tatapan penuh benci.


"Mereka lah pasangan Naga yang telah anda usik kehidupan tenang mereka!"


"Apa!" semua tawanan membelalakan matanya mendengar ucapan Jack tentang dua orang yang mereka lihat, termasuk Raja Roma.


"Tuan Naga," panggil Jack.


"Iya, Tuan Jack."


"Saya serahkan Raja Roma kepada anda, karena menurut saya, andalah yang berhak menghukumnya!"


Deg!


...@@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2