
Jack mendekatkan kepalanya berusaha mencari celah buat mengintip dari balik anyaman bambu. Namun Jack dibuat kaget saat mendengar suara tangis Ratu. Yang membuat Jack semakin terkejut adalah ucapan Ratu yang nampak berbicara pada seseorang.
"Nafata bangunlah, aku mohon, hiks ... hiks ... aku nggak sanggup lagi memimpin kerajaan ini! Bangunlah, hiks ... hiks ..."
"Nafata? Siapa dia?" gumam Jack. Dia semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Jenita. Semuanya nampak membingungkan dan penuh teka teki. Pikiran Jack berkelana menuju sesuatu yang baru saja dia dengar. Apa hubungan Ratu dengan ayahnnya tidak baik?
Lama Jack terdiam dengan pikiran terus tertuju pada sang Ratu, tiba tiba dia mendengar pintu gubug di buka. Jack langsung saja mencari tempat persembunyikan. Dari balik pohon yang rimbun, Jack melihat raut sedih sang ratu.
Begitu Ratu Jenita benar benar pergi, Jack kembali mendekati gubug dan penasaran, siapa yang tinggal di dalam sana. Tanpa berpikir panjang, Jack membuka pintu gubug dan memasukinya. Matanya menerawang melihat setiap sudut bangunan dari dinding anyaman bambu tersebut.
Saat Jack memasuki ruang kedua, betapa terkejutnya Jack melihat sosok tubuh tergeletak tanpa daya dengan banyak bekas luka. Sosok tubuh yang ternyata wanita itu juga sama terkejutnya begitu melihat Jack. Dia bahkan langsung ketakutan dan menangis seperti memohon agar Jack tidak melakukan apa apa.
"Hy kamu siapa? Jangan takut, aku bukan penjahat," ucap Jack pelan sambil mendekat dan berjongkok dihadapan wanita yang tadi terdengar bernama Nafata. "Tidak perlu takut. Aku tidak akan mencelakai kamu."
__ADS_1
Tapi wanita yang terkapar tak berdaya itu justru semakin ketakutan. Dia terus menangis dan seperti sedang memohon. Jack sadar, wanita itu juga tidak dapat berbicara. Dalam hati Jack berpikir, dia harus menolong wanita itu, tapi bagaimana caranya? Jack terus berpikir keras hingga akhirnya dia menemukan sebuah ide.
"Kamu harus ikut saya. Urusan sang Ratu, biar nanti saya yang bicara, oke?"
Wanita itu hanya terdiam. Mata Jack menerawang mencari sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk menutupi tubuh. Dia melihat kain hitam yang telah usang tergantung di salah satu sisi dinding. Jack meraih kain tersebut dan menggunakannnya untuk menutupi tubuh Nafata.
Kini tubuh ringkih Nafata sudah berpindah dalam bopongan Jack. Dengan sangat hati hati Jack membawa Nafata keluar dari gubug tersebut dan membawanya ke suatu tempat yang dia yakini sangat aman.
Jack benar benar dalam keadaan waspada yang sangat penuh. Dia takut ada yang melihat dia membawa seseorang yang nantinya akan menimbulkan kegemparan dan salah paham. Hingga beberapa saat kemudiam dengan perasaan lega, Jack berhasil membawa dia di tempat yang aman.
"Lebih baik kita bicara di luar," ajak Jack dan Nikki menurutinya. Setelah menemukan tempat aman untuk berbicara, Jack menceritakan semuanya dan tujuan dia mwbawa wanita itu ke tempat ini. Awalnya Nikki terkejut mendengar keadaan wanita itu, tapi keterkejutan itu berangsur hilang dan berubah menjadi senyum terkembang begitu mendengar rencana Jack.
"Oke lah, Jack. Aku ikutin ide kamu aja. Demi keselamatan kita juga, kan?" ucap Nikki dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Sipp!" balas Jack sambil mengacungkan jempolnya.
Sementara itu di saat yang sama, jauh di atas langit.
"Kenapa saya merasa batu bercahaya ungu ada disana, Suamiku," ucap Naga betina sambil menunjuk sebuah pulau.
Naga jantan terkejut karena pulau yang ditunjukan istrinya adalah pulau utama yang dia kutuk dahulu. "Bukankah itu pulau Kagomara? Mana mungkin batu itu ada disana, istriku?"
"Aku tahu, suamiku, tapi itu yang aku rasakan saat ini. Aku merasakan kekuatannya dari arah sana."
Naga jantan pun mau tidak mau menuruti kemauan istri tercintanya. "Baiklah, baiklah. Kita cari tempat untuk mengawasi pulau itu."
Naga betina pun merasa senang. "Terima kasih, suamiku."
__ADS_1
...@@@@@...