
Ritual massal telah berakhir. Wajah wajah bahagia, tergambar jelas dari pria dan wanita yang sudah melewati malam panjang mereka. Kini saat pagi menjelang, para pria masih terlelap di dalam tenda karena rasa lelah atas apa yang mereka lakukan semalam. Sedangkan beberapa wanita, sudah banyak yang terbangun dari tidurnya dan mereka sedang menyibukkan diri mempersiapkan hidangan untuk para pria jika mereka terbangun nanti.
Rasa bahagia juga sedang dirasakan oleh ratu Jenita pagi ini. Dia bahagia saat mendengar berita kalau para wanita di pulau ini sudah banyak yang berhasil melunturkan kutukan dari sang Naga. Tentu saja ini yang dia harapkan sejak dulu. Ide Jack benar benar sukses besar.
Jenita yang telah terbangun lebih awal, kini kembali menuju kamarnya setelah tadi sempat menemui lima wanita di ruang tahanan. Betapa kagetnya Jenita saat dia mendengar ada lima wanita yang ternyata penyusup atas perintah seorang Raja. Beruntung, para penyusup itu bisa dilumpuhkan meski kerajaan sedang disibukkan dengan adanya malam ritual bersama.
Sementara itu, di pulau lain. Tepatnya di kerajaan yang di pimpin Raja Roma, semua nampak berkumpul dengan wajah penuh keseriusan. Raja dan para petinggi kerajaan benar benar dibuat bingung dengan laporan yang di ungkapkan oleh empat cenayang kepercayaan Raja.
"Bagaimana mungkin kekuatan batu naga bisa timbul dan menghilang seperti itu? Bagaimana bisa hal itu terjadi!" teriak Raja Roma dengan lantangnya.
"Tapi memang itu yang kami rasakan, Yang Mulia. Entah apa yang terjadi dengan batu itu, kami juga merasa aneh," balas cenayang, membela diri.
"Benar benar memuakkan!" pekik Raja Roma. "Jenderal, bagaimana dengan lima wanita yang kamu kirim? Apa ada kabar terbaru?"
"Maafkan hamba, Yang mulia, kami belum mendapatkan informasi apapun dari mereka," jawab Jenderal dengan kepala menunduk. Jenderal sudah merasakan aura tak enak saat Raja melempar pertanyaan untuknya.
"Apa! Bagaimana bisa? Bukankah mereka sudah cukup lama diberi tugas!" bentak Raja Roma semakin murka.
__ADS_1
"Maaf, Yang mulia, saya sendiri juga kurang tahu, kenapa mereka belum mendapatkan berita apapun tentang kerajaann Kagomara," balas Jenderal lagi.
"Benar benar tidak bisa dipercaya kalian semua. Tidak ada yang becus! Percuma saya membayar kalian dengan mahal kalau kerjaan yang sangat mudah saja, tidak ada hasilnya, apa kerja kalian sebenarnya? Hah!" Raja Roma benar benar meluapkan amarahnya. "Putri Nafata, Batu bercahaya ungu, Kerajaan Kagomara. Tidak ada satu informasipun yang kalian dapatkan, benar benar tidak berguna!"
"Maaf, Yang mulia, apa saya boleh bicara?" dengan segenap kebaranian yang dikumpulkan, Sang ajudan mengeluarkan suaranya dengan nada agak terbata.
"Bicaralah," titah Raja Roma.
"Begini, Yang mulia, kenapa kita tidak memanfaatkan Raja Damendra saja untuk mencari informasi? Bukankah Putri Raja Damendra menjadi ratu kerajaan Kagomara?"
"Baiklah, ajudan. Segera atur jadwal kunjungaan saya ke istana Raja Damendra, secepatnya," titah Raja Roma pada akhirnya.
"Baik, Yang mulia. Saya akan segera melaksanakanhya."
Sementara Raja Damendra sendiri, hari ini memang berencana mengunjungi putrinya. Tentu saja, kunjungan Raja Damendra kali ini masih dalam tujuan yang sama yaitu tentang harta. Raja Damendra sudah kehabisan daya dan upaya untuk menekan pengeluaran kerajaan. Tapi makin kesini, Raja Damenndra benar benar kewalahan dalam penggunakan dana kerajaan.
"Ratu Amuba! Sudah saatnya berangkat!" teriak Raja Damendra dari lorong istana yang menuju ke kamae utama dimana sang ratu berada.
__ADS_1
"Iya!" balas Ratu Amuba tidak kalah lantanng. "Bener bemar tidak sabaran!" Ratu Amuba keluar kamar dengan tergesa gesa menyusul sang suami yang sudah menunggunya dari tadi.
"Udah ditungguin lama lama, hasilnya sama saja, tidak ada yang berubah," cibir Raja Damendra begitu melihat penampilan Ratu Amuba.
"Sudah cepat jalan! Tidak perlu banyak bicara!" sungut Ratu Amuba.
Mereka segera saja melangkah ke tempat kereta yang akan membawa Raja dan Ratu itu menuju kerajaan Kagomara. Sedangkan di dalam penjara Istana Kagomara, lima tahanan wanita nampaknya sedang merencanakan sesuatu.
"Sekarang kita harus cari cara agar keluar dari penjara ini."
"Bagaimana caranya? Penjagaan sangat ketat."
"Maka dari itu, kita pikirkan sama sama. Kita harus segera kasih tahu Raja, kalau Kerajaan Kagomara sedang menyusun kekuatan."
"Baiklah. Mari kita pikirkan."
...@@@@@@...
__ADS_1