
Beberapa kali Naga nampak manggut manggut. Dia mengerti kekhawatiran yang Jack hadapi. Naga jantan menatap sejenak sang istri di sebelahnnya, lalu kembali dia menatap Jack. "Mungkin ada satu cara yang bisa kalian lakukan, jika terjadi serangan mendadak pada Pulau ini."
"Satu cara?"
"Ya, satu cara. Mungkin cara ini belum tentu bisa memenangkan kalian dari perangan, tapi cara ini bisa membuat siapapun memiliki keberanian yang tinggi untuk mempertahankan dan juga memperjuangkannnya."
Kening Jack dan Jenita sontak berkerut. Sejenak mereka saling tatap sembari mencerna ucapan Naga jantan, lalu mereka kembali menatap Naga jantan. Sedangkan Naga betina terlihat biasa saja sikapnya. Hal itu dikarenakan, Naga betina sudah tahu apa yang ada dipikiran Naga jantan.
"Cara seperti apa itu, Tuan naga? Apa itu sangat sulit?" tanya Jack lagi.
"Tidak, itu sangat mudah. Rendamlah batu bercahaya ungu dalam air yang sangat banyak. Jika air itu berubah warna menjadi ungu yang pekat, perintahkan orang orang agar mereka berendam disana beberapa saat. Hasilnya akan sangat terlihat saat terjadi petarungan."
Jack tercengang mendengarnya. Dia tahu betul cara yang dikatakan Naga jantan karena Jack sendiri mengalaminya. "Ah iya, kenapa aku baru ingat ada cara seperi itu?" semua mata yang ada di sana, kini serius menatap Jack.
"Kamu sudah tahu cara seperi itu?" tanya Jenita.
"Sudah, gara gara berendam air batu naga itu, aku, Nikki dan Rahul menjadi ahli bela diri. Awalnya aku kaget pas melawan Ratu, tapi setelah diselidiki, ternyata benar, cuma itu cara yang masuk akal meski aneh," terang Jack.
__ADS_1
"Oh yang pas kita tanding?" tanya Jenita dan Jack mengangguk. "Pantas, kamu kelihatan hebat banget. Rupanya kamu habis berendam air batu bercahaya ungu?"
"Itu tidak di sengaja," ucap Jack dan dia pun meneciratakan kejadian di malam itu dan juga sembuhnya Putri Nafata.
"Nah, sekarang kamu sudah tahu beberapa rahasia kehebatan batu itu, bukan?" tanya Naga.
"Yah, seperti yang anda dengar tadi," balas Jack. "Aku tidak sengaja mengetahuinya."
"Berarti kita harus membuat kolam yang sangat luas ya? Soalnya kan yang berendam banyak sekali," ucap Jenita mengutarakan pemikirannya.
"Tidak perlu membuat kolam terlebih dahulu," ucap Naga jantan yang seakan mengerti kegundahan pria di hadapannya. "Gunakan saja air terjun yang biasa digunakan untuk ritual tumbal? Bendung bagian hilirnya dan jadikan itu buat kolam berendam."
Kening Jack berkerut, lalu sejenak kemudian matanya berbinar, lalu dia menatap Jenita. "Ah iya, benar! Bukankah di bawah tempat kalian melakukan ritual persembahan, ada kolam air yang cukup luas? Kita gunakan saja kolam itu, bagaimana?"
Jenita nampak manggut manggut sembari mencerna ucapan Naga dan Jack. "Baiklah, sepertinya itu satu satunya cara tercepat yang bisa kita lakukan," ucap Jenita. Pada akhirnya dia setuju dengan apa yang dikatakan Naga juga Jack.
Semua nampak lega. Akhirnya Jack dan Jenita menemukan jalan untuk melindungi pulau ini. Bahkan dari perbincangan yang sedang berlangsung, Naga jantan berkata kalau dia siap membantu pasukan jika mereka kewalahan. Jack dan Jenita langsung saja menyambutnya dengan senang.
__ADS_1
Sementara itu, Raja Damendra dan Ratu Amuba masih diliputi amarah meski sudah sampai di istana mereka. Keduanya sangat tidak menyangka, akan dipermalukan anaknya sendiri bersama pria yang sama sekali tidak dia kenal.
"Bagaimana ini, Yang mulia? Jenita sudah susah dikendalikan, dan sekarang di pulau itu sudah banyak kaum pria. Ini bisa berbahaya," oceh Ratu Amuba dengan wajah yang masih terlihat sangat kesal.
"Aku sendiri juga bingung. Bagaimana kalau kerajaan Kagomara jatuh ke tangan pria itu? Tidak, itu tidak mungkin," ucap Raja Damendra nampak sangat frustasi.
"Tidak bisa!" seru Ratu Amuba lantang. "Itu kerajaan milik kita! Kita harus bisa merebutnya, Yang mulia. Ingat! Di sana masih ada banyak harta yang tersembunyi. Kita harus bisa menguasai kerajaan itu."
"Terus, apa kita harus secepatnya melakukan penyerangan?"
"Nah! Itu ide bagus, Yang mulai. Di saat mereka lengah, kita serang mereka. Aku yakin kita akan menang telak dan Jenita tak bisa berkuti melawa kita lagi, bagaimana?"
"Baiklah, kita adakan rapat mendadak, ayok!"
"Baik, Yang Mulia."
...@@@@@...
__ADS_1