
"Siapa yang berbohong, Nafata? Bahkan semalam kami sudah berbaikkan saat bertemu di kandang kuda."
Deg!
Jack tertegun mendengarnya. Bagaimana mungkin Jenita malah berbohong dan menutupi sikapnya yang mengabaikan Jenita? Dada Jack bergemuruh saat itu juga. Sesal kembali menelusup di hatinya.
"Kamu tahu, bahkan Tuan Jack meminta maaf duluan, lalu mengajakku masuk menyusul kalian. Aku menolaknya karena masih ingin menikmati suasana malam. Dan aku memilih pergi karena aku sadar, jika bersamaku, ayah dan Ratu Amuba akan mencelakai Tuan Jack. Aku tidak mau gara gara keserakahan, aku kehilangan orang yang dekat denganku."
Lagi lagi hati Jack merasa terkejut. Ada rasa ngilu di dalam hatinya yang paling dalam. Ucapan Jenita yang jauh dari kenyataan membuat Jack semakin merasa bersalah.
"Jika dengan berbohong bisa membuatmu bahagia, maka lakukanlah terus kebohonganmu, Jenita," ucap Nafata sembari dia berdiri. "Kami kembali ke istana dulu. Nanti kami kesini lagi."
Jenita tersenyum. "Semoga kamu bisa menjadi Ratu yang terbaik, Nafata."
Nafata tidak menggubrisnya. Wanita itu menarik tangan Insana dengan kencang karena merasa kesal dengan sikap Jenita yang berbohong menutupi kesalahan Jack. Melihat Nafata dan Insana pergi, Jack yang bersembunyi di belakang gubug segera saja beranjak menuju pintu masuk gubug secara perlahan.
Betapa terkejutnya Jack, begitu dia masuk, matanya melihat Jenita sedang terisak sembari menikmati buah yang Jenita petik dari hutan. Jack pelan pelan mendekat dan berdiri di belakang Jenita. Jack langsung jongkok dan merengkuh tubuh Jenita ke dalam pelukannya.
Sontak saja Jenita kaget dibuatnya. Sejenak dia terdiam dan memperhatikan tangan orang yang memeluknya. Jenita langsung menghapus sisa air matanya dan perlahan menoleh.
"Tuan Jack!" pekik Jenita dengan senyum yang dipaksakan. "Anda ..."
"Kamu! Bukan anda, tapi kamu," ucap Jack lirih dan nadanya terdengr bergetar.
__ADS_1
Lagi lagi Jenita memaksakan dirinya tersenyum. "Apa yang Tuan lakukan disini?"
"Maaf," ucap Jack lirih. "Maaf karena semalam aku ..."
"Tuan tidak salah, kenapa harus minta maaf? Apa yang Tuan lakukan ..."
"Sudah cukup. Jangan diteruskan lagi. Aku yang keterlaluan. Aku yang tidak bisa menghargai perasaan kamu. Maaf."
"Tuan ..." hanya itu yang Jenita katakann. Dia pun terdiam hingga suasana menjadi hening.
Sementara di tempat lain.
"Apa! Jenita ada di hutan?" pekik Nikki dan Nafata hampir bersamaan saat mendengar kabar dari Nafata. Sedangkan Insana memilih pergi memberi tahu yang lainnya tentang Ratu Jenita yang sudah ketemu.
"Ya aku tiba tiba keingat saja dengan gubug yang dulu disiapkan Jenita untuk aku bersembunyi saat sakit. Makanya aku coba kesana dan ternyata beneran dia ada di sana."
"Syukurlah kalau gitu," balas Rahul merasa lega. "Tapi kenapa nggak kamu ajak pulang?"
Daripada menjawab sepotong demi sepotong dari pertanyaan beruntun, Nafata memilih menceritakan semuanya apa yang Jenita katakan. Rahul dan Nikki sama sama terkejut mendengar sikap Jenita yang diceritakan Nafata.
"Astaga! Kenapa Jenita harus berbohong segala?" ucap Nikki antara kesal dan heran dengan sikap Jenita yang dia dengar dari mulut Nafata.
"Sekarang Jack mana? Kasih tahu tuh kalau Jenita ngomong kayak gitu? Biar dia semakin ngerasa bersalah," sambung Rahul yang ikutan merasa kesal dengan sikap Jack.
__ADS_1
"Insana lagi ngasih tahu. Kita tunggu saja reaksinya gimana," balas Nafata.
Dan tak lama kemudian Insana datang dengan segala kepanikannya. "Tuan Jack tidak ada dimana mana."
Semua nampak terkejut mendengarnya. "Loh kok bisa?" tanya Rahul.
"Mungkin Tuan jack sedang pergi mencari Ratu Jenita," ucap Insana lagi.
"Benar, ya sudah kita tunggu saja dia pulang. Baru nanti dikasih tahu," Nikki menimpali.
"Niatnya mau lihat harta tersembunyi malah jadi berantakan kayak gini," gerutu Rahul. Nafata dan Nikki juga merasa kekecewaan yang sama, begitu juga dengan Insana. Tapi mau bagaimana lagi. Kadang rencana yang sudah matang memang bisa berantakan karena suatu hal yang tidak terduga.
Hingga beberapa saat kemudian. "Jenita!" seru semuanya. Mereka sangat terkejut melihat Jenita datang bersama Jack.
Sementara itu di tempat lain, Raja Damendra benar benar murka saat ini. Dia sungguh tidak terima dengan apa yang dilakukan Jack terhadapnya pagi ini. Dia juga semakin murka saat mendengar kabar tentang kepergian Jenita dari Istana Kagomara.
"Yang mulia," sapa seoang penjaga di kerajaan Damendra.
"Ada apa?" tanya Damendra dengan suara dinginnya.
"Di luar ada Raja Roma datang berkunjung, Yang mulia."
"Apa? Raja Roma?"
__ADS_1
...@@@@@@...