
"Apa semua sudah siap?"
"Sudah!"
"Ya sudah, lebih baik kita berangkat sekarang agar sampai di lokasi terdekat, kita bisa istirahat," ucap Nafata, dan semuanya nampak setuju.
Tiga pasang pria dan wanita itu langsung menaiki kudanya masing masing. Di pimpin oleh pasangan Nikki dan Nafata, mereka mulai melajukan kudanya meninggalkan istana.
Seperti yang sudah direncanakan, hari ini mereka akan ke tempat dimana tempat itu adalah tempat rahasia incaran para Raja. Sebuah tempat dimana harta yang katanya sangat melimpah terkumpul menjadi satu. Semua yang ada di atas kuda tentu sangat penasaran seberapa banyak harta yang tersimpan sampai semua orang sangat berambisi untuk menguasai pulau tersebut.
Setelah melewati beberapa perkampungan, kini kuda yang Jack tunggangi bersama Jenita dan kawan kawannya mulai memasuki kawasan hutan. Mereka benar benar mengikuti langkah kaki kuda yang ditunggangi Nafata dan Nikki.
Sepanjang perjalanan, Jack sesekali menciumi pundak wanita yang naik satu kuda bersamanya. Meski wanita itu sering menggeram dan memperingati Jack agar tidak berbuat demikian, tapi Jack mana peduli. Dia terus melakukannya di sepanjang perjalanan.
"Tuan Jack!" seru Jenita.
"Apa, Ratuku Sayang?" balas Jack acuh.
"Bisa diam tidak?" hardik Jenita.
"Tidak."
Jenita hanya bisa mendengus kesal, tapi dia tidak bisa berbuat apa apa karena sedang berada diataa kuda. Sedangkan pasangan yang lain hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum tipis melihat Jack dan Jenita yang berada di urutan paling belakang.
__ADS_1
Sebenarnya Jenita dan Jack belum berbaikan secara utuh. Jenita masih merasa kecewa dengan sikap Jack tadi malam di depan kandang kuda. Karena Jack yang memaksa Jenita untuk kembali ke kerajaan dengan sedikit ancaman. Jenita mau tak mau menuruti permintaan Jack dan kembali ke kerajaan.
Awalnya semua berpikir kalau rencana ke tempat harta yang tersembunyi akan ditunda. Tapi begitu melihat Jenita pulang, Rahul mengusulkan untuk segera saja menjalankan rencana mereka. Dan disinilah mereka berada. Di tengah hutan.
"Padahal ini hutan ya? Tapi kok jalannya seperti sering dilewati orang?" ucap Rahul saat memperhatikan jalan yang di lalui kuda membentuk seperti setapak.
"Karena disini masih termasuk pinggiran hutan, jadi masih banyak orang lewat sini," terang Insana.
"Oh ... lah terus nanti kalau kita sampai di dalam hutan, kita jalan kaki? Lalu, gimana dengan nasib kuda kita?" ucap Rahul lagi.
"Jangan khawatir, meski jalan kaki, kita masih bisa membawa kuda kita sampai ke tempat tujuan?" Nafata yang menjawab sembari berteriak.
"Astaga! Terus jika memang harta itu sangat banyak, bagaimana cara orang orang membawanya?" Rahul tak berhenti bertanya.
"Biarin sih wlee! Namanya juga penasaran, wajar dong aku kepo," balas Rahul membela diri.
"Kepo itu apa?" tanya Jenita, dan pertanyaan itu mewakili Nafata dan Insana yang juga sama sama tidak tahu arti kata asing tersebut.
"Kepo itu artinya kasih dan sayang," Jack yang menjawabnya dengan jawaban asal sambil cengengesan.
"Apa benar?" tanya Jenita lagi. Dia merasa tidak yakin dengan jawaban yang Jack lontarkan.
"Bener. Didunia kita tuh kepo artinya kasih dan sayang. Tanya saja sama mereka," balas Jack.
__ADS_1
"Berarti Tuan Nikki dan Tuan Rahul saling menyayangi ya? Wah ternyata," ucap Insana tiba tiba menympulkan ke hal yang lainnya.
"Amit amit!" seru Nikki dan Rahul hampir bersamaan setelah mendengar kesimpulan Insana. Sedangkan Jack langsung terbahak bahak. Tiga wanita yang ada disana malah menatapnya heran.
Saat kuda mereka mulai semakin dalam masuk ke hutan, Nafata memerintahkan mereka turun dari kuda dan melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki. Karena mereka belum merasa lelah, mereka terus melanjutkan perjalannya. Hingga beberapa lama kemudiain Nafata tiba tiba menghentikan langkahnya saat berada di deretan pohon seperti pohon teh yang nemjaulang tinggi.
"Kenapa berhenti? Apa kita akan istirahat disini?" tanya Nikki.
Nafata tidak menjawab. Dia hanya tersenyum sembari melangkah menuju sebuah pohon. Nafata mengitari pohon tersebut dan tangannya menarik salah satu cabang rantingnya.
Lima orang yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nafata dibuat terkejut dengan apa yang mereka lihat. Sebuah pintu rahasia terbuka dari diantara pohon yang mirip pohon teh itu.
"Ini ..."
"Ini jalan rahasia menuju harta tersembunyi."
"Waahhh!" seru semuanya.
"Sekarang ayo kita masuk!"
"Siap!"
...@@@@@...
__ADS_1