NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Damendra Dibuat Tercengang


__ADS_3

"Biarkan saja, Yang Mulia. Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," ucap Ratu Amuba dengan senyum penuh kemenangan.


"Ah iya. Dia mau melenyapkan nyawanya sendiri, Bodoh!" gumam Raja Damendra lirih.


Raja Damendra dan Ratu Amuba tersenyum sinis. Mereka yakin akan ada satu nyawa melayang tanpa mereka harus turun tangan.


Dihadapan mereka, Jack terpaksa mengambil tindakan dilur batas nalarnya. Bukannya tidak tahu malu,tapi menurut Jack, satu satunya cara untuk membungkam mulut dua manusia yang penuh keserakahan adalah dengan cara seperti itu.


Jack terpaksa mengajak Jenita berhubungan badan sejenak dihadapan ayahnya. Hal ini Jack lakukan untuk meruntuhkan keangkuhan serta penindasan yang dilakukan Raja Damendra kepada putri kandungnya. Sungguh, sepanjang hidupnya, Jack baru menemui pria tak sadar diri seperti itu.


"Tuan Jack," panggil Jenita lirih saat kedua kaki wanita Jack bentangkan.


Jack pun mencondongkan badannya dan berbisik kepada Jenita. "Tenanglah, ini cuma sebentar."


Jenita mengangguk pasrah. Jack pun bersiap diri memasukkan benda menegang miliknya ke dalam lubang nikmat yang tersaji dihadapannya. Sedangkan di balik punggung Jack, Raja Damendra dan Ratu Amuba masih tersenyum senang dan merasa akan menang tanpa melakukan apapun.


Bless!


"Akh!"


Benda yang kekar milik Jack sudah amblas tanpa sisa ke dalam lubang nikmat milik Jenita. Jack diam sejenak untuk menetralkan keadaan, lalu dia mulai menggerakan pinggangnya maju mundur secara perlahan.

__ADS_1


Hingga beberapa saat berlalu, senyum Raja Damendra dan Ratu Amuba berangsur sirna. Melihat Jack yang baik baik saja saat sedang bercinta, membuat dua manusia itu ternganga dibuatnya.


"Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin?" gumam Raja Damenda dengan mata yang terbuka lebar.


"Kenapa dia tidak mati? Harusnya dia mati?" Ratu amuba pun bertanya tanya dalam benaknya.


"Apa kalian mengharapkan aku mati?" Jack bersuara tanpa menghentikan gerakan pinggangnya. Beberapa saat kemudian, Jack memutuskan menghentikan aksinya. Dia mengeluarkan benda yang masih menegang dari dalam lubang Jenita. Jack menyatukan kaki Jenita dan merapikan pakaain wanita itu yang tersingkap ke atas, lalu Jack merapikan pakaaiannya sendiri.


Setelah rapi, Jack berbalik badan dan tersenyum penuh kemenanngan. "Bagaimana? Sudah cukup bukan, bukti yang anda inginkan?"


"Tidak mungkin, anda pasti dusta! Anda pasti bukan utusan Dewa dan Naga! Anda pasti bohong, iya, kan?" teriak Ratu Amuba tak terima.


"Apa!" pekik Raja Damendra dan Ratu Amuba hampir bersamaan. "Tidak mungkin?"


"Hahaha ... terserah kalian, saya tidak mengharapkan kalian untuk percaya lagi. Dan saya juga meminta dengan sangat hormat, Raja Damendra dan Ratu Amuba meninggalkan istana ini dengan segera."


"Apa! Berani beraninya kau ..."


Sebelum Ratu Amuba melanjutkan ucapannya tangan Jack melepas genggaman tanga Jenita dan meraih bangku kotak yang ada di sebelahnya lalu bersiap untuk melemparnya ke arah wanita itu, hingga mulut Ratu Amuba diam dengan sendirinya.


"Silakan anda pergi dengan baik baik, sebelum saya mengusir anda secara kasar," Jack bangkit dari duduknya sembari menarik tangan Jenita. Mereka berdua beranjak meninggalkan Raja Damendra dan Ratu Amuba yang masih tak terima diperlakukan seperti itu.

__ADS_1


"Kurang ajar! Awas saja kalian, akan aku balas perbuatan kalian lebih dari ini!" sumpah Ratu Amuba di dalam hatinya.


Sedangkan Jack dan Jenita langsung masuk kamar dalam kondisi berpelukan.


"Sudah jangan sedih, Ratuku," ucap Jack dengan pelan sembari mengusap lembut kepala wanita yang sedang terbenam di dadanya.


"Kenapa Ayah selalu tega sama aku? Apa hebatnya wanita itu sampai Ayah tidak peduli pada anaknya sendiri," rintih Jenita sembari terisak. Jack pun terdiam dan membiarkan Jenita mengeluakan tangisnya agar hati wanita itu bisa sedikit lega karena beban akibat perbuatan ayahnya.


Raja Damendra dan Ratu Amuba, keluar istana tanpa membawa hasil apa apa. Mereka bahkan dipersilakan untuk segera pergi oleh Jenderal yang mendapat laporan dari penjaga kerajaan tentang apa yang terjadi.


"Apa benar, para pria yang datang ke Pulau ini untuk melunturkan kutukan Naga laut timur?" tanya Raja Damendra sebelum meninggalkan istana kepada Jenderal.


"Benar, Yang mulia. Bahkan kutukan yang ada pada tubuh saya sendiri juga telah hilang sejak semalam," jawab sang Jenderal dengan wajah terlihat sangat bahagia.


"Kasih tahu saya, apa rahasianya?" titah Ratu Amuba.


"Maaf itu rahasia, Yang mulia."


"Apa! Sialan!


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2