
Nafata sontak tersenyum. "Penawaran yang sangat menarik," ucap Nafata dan hal itu membuat Raja dan Ratu yang ambisius itu semakin kegirangan. "Tapi saya tidak tertarik."
"Apa!" pekik Raja Damendra dan Ratu Amuba hampir bersamaan. "Bagaimana mungkin anda tidak tertarik dengan penawaran kami? Bukankah ini penawaran yang sangat bagus untuk kerajaan ini?" ucap Ratu Amuba dengan segala usahanya.
"Bagus buat anda, tapi tidak bagi saya," ucap Nafata dengan santainya. "Apakah anda lupa kalau kami memiliki harta yang tersembunyi?"
Deg!
Mata Raja Damendra dan juga Ratu Amuba seketika membulat sempurna. Mereka melupakan fakta yang satu itu. Karena terlalu bersemangat dengan segala rencana yang sudah tersusun rapi, Raja dan Ratu tersebut melupakan kenyataan yang ada pada kerajaan Kagomara.
"Bukankah dulu anda berkhianat pada ayah saya, karena harta? Dan sekarang anda juga akan berkhianat kepada Raja Roma karena harta juga?" cecar Ratu Nafata. Lembut tapi cukup menohok di hati yang mendengarnya.
"Bukan begitu, Ratu," Damendra mencoba mencari alasan. "Kami hanya ingin membalas serangan yang dilakukan secara mendadak oleh pasukan Raja Roma kepada kami."
"Benarkah?" tanya Ratu Nafata dengan senyum tipis yang mengandung ketidak percayaan.
"Benar, Ratu Nafata," jawab Raja Damendra agak terbata.
"Baiklah biar saya panggilkan para tahanan dari pasukannya Raja Roma. Agar saya lebih yakIn tentang pnyerangan yang mereka lakukan."
Lagi lagi, untuk kesekian kalinya, Raja Damendra dan Ratunya dibuat terkejut dengan segala yang diucapkan Nafata. Merek tidak menyangka, Nafata akan bepikir menggunakan prajurit raja Roma yang telah menjadi tahanan untuk sumber informasi.
__ADS_1
"Tapi apa yang kami sampaikan memang benar adanya, Ratu Nafata," balas Ratu Amuba. "Bisa saja mereka nanti malah berbohong untuk semakin menjatuhkan kami."
Sungguh, semua yang ada di sana, sudah jengah dengan kelakuan dua orang itu.
"Ratu," sang ajudan kembali mengeluarkan suaranya. "Kenapa anda terlalu menanggapi ucapan Raja Damendra dan Ratu Amuba? Semakin anda menanggapi, maka mereka akan semakin terus mencari alasan. Apa tidak memuakkan?"
Ratu Nafata sungguh terkejut dengan ucapan sang ajudan yang sangaf pedas tapi penuh kebenaran. Dia memang terlalu bertele tele menangggapi sepasang ratu dan raja tersebut.
"Benar yang dikatakan nyonya ajudan, Ratu," sang penasehat ikut menimpali. "Masih banyak hal penting yang harus Ratu kerjakan. Apa untungnya Ratu Nafata menaggapi permintaan mereka?"
Di sana, orang yang paling tidak terima dengan ucapan ajudan dan penasehat, tentu saja Raja Damendra dan Ratu Amuba. Mereka jelas tidak terima karena mereka merasa menjadi tamu dengan niat yang baik. Lontaran bernada protes pun terucap dari mulut Ratu Amuba.
"Apa salahnya kalau kami niat baik mengajak kerja sama dengan Ratu kalian? Bukankah ini juga untuk kebaikan kerajaan kalian juga?" ucap Ratu Amuba begitu kesal. Dia tidak ingin menyia nyiakan segala kesempatan yang ada.
"Tapi Ra ..." Ratu Amuba tergagap dan terlijat sangat terkejut.
"Tidak ada tapi tapian!" tegas Nafata memotong ucapan Amuba. "Saya sudah memaafkan anda berdua, dan silakan, anda bisa pergi saat ini juga."
"Anda mengusir kami?" Amuba terpancing emosi.
"Ya! Saya mengusir anda! Atau anda mau saya hancurkan istana anda?" tantang Nafata.
__ADS_1
Glek!
Raja Damendra dan Ratu Amuba sontak ternganga, tak bisa berbuat apa apa.
"Jika itu yang anda inginkan, saya akan meminta Naga laut timur menghanguskan istana anda secepatnya, bagaimana?"
Wajah Raja dan Ratu itupun semakin pias. Dengan suara yang tergagap, mereka akhirnya pamit undur diri dengan wajah ketakutan. Nafata dan yang lainnya akhirnya bisa bernafas lega dan kembali melanjutkan ke acara yang sedang mereka gelar.
Hingga tanpa terasa, waktu kini beranjak menuju sore. Langit yang awalnya cerah, tiba tiba berubah menjadi agak mendung. Semua berpikir kalau hujan mungkin akan segera turun. Kini Jack dan yang lainnya sedang berada di kamar masing masing dengan pasangan mereka. Acara penyerahan jabatan kerajaan cukup melelahkan hingga mereka memilih beristirahat di sore itu.
Di saat ketiga pemuda sedang asyik bercengkrama dengan pasangan masing masing, mereka dikejutkan dengan suara keributan yang berasal dari luar istana. Tentu saja Jack dan yang lainnya penasaran. Mereka bergegas keluar kamar.
"Apa yang terjadi?" tanya Jack kepada salah satu penjaga istana.
"Ada angin kencang tapi angin kencangnya sangat aneh, Tuan," balas sang penjaga.
"Aneh gimana?"
"Di atas langit ada awan gelap berpetir biru, Tuan?"
"Apa! Awan gelap berpetir biru? Jangan jangan?"
__ADS_1
...@@@@@...