NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Usaha Jack


__ADS_3

"Pria seperti anda pasti tidak tahan setia dengan satu wanita, bukan?"


Senyum Jack yang awalnya melebar, sekarang perlahan meredup. Pertanyaan Jenita benar benar menjebaknya. Sedangkan wanita yang melemper pertanyaan tersenyum sinis lalu memalingkan wajahnya, menatap lurus ke depan.


"Sudah saya duga, anda juga pasti seorang pengkhianat, ucap Jenita sinis. Sedangkan Jack juga langsung mengalihkan pandangannya di iringi senyuman kecut. Tidak dipungkiri, dengan pesona yang dimiliki Jack, pria itu memang bisa dengan mudah menjalin asmara dengan seorang wanita meski dia sendiri telah menjalin asmara dengan wanita lainnya.


Entah sudah berapa kali pemuda itu menjadi seoang pengkhianat dalam urusan asmara. Bahkan Jack merasa cukup dengan minta maaf, maka semuanya selesai. Jack tidak menyangka, jadi dirinya sebagai pria brengsek bisa ditebak dengan mudah oleh wanita disebelahnya.


"Sekarang ucapan saya terbukti, bukan? Semua manusia berpeluang untuk menjadi seorang penghianat?"


Jack kembali mengalihkan pandangannya ke arah Jenita. "Setidaknya saya tidak berniat untuk menghianati Ratu dan Putri Nafata?"


"Hahaha ..." Jenita langsung terbahak lumayan keras. Suara tawanya menjadi bukti kalau dia meremehkan pria di sebelahnya. "Apa kata kata itu juga yang anda gunakan sebagai senjata agar wanita wanita anda percaya? Hahaha ..."

__ADS_1


Lagi lagi Jack hanya tersenyum kecut. "Semua terserah anda, Ratu. Mau percaya atau tidak."


"Hahaha ..." tawa Ratu Jenita semakin kencang hingga Jack merasa sedikit kesal karena kesungguhannya diragukan secara terang terangan. Bahkan tawa ratu Jenita semakin menjadi saat menatap wajah Jack sekilas.


Melihat suara tawa Ratu yang tidak kunjung menghilang, dengan keberanian penuh, Jack bergerak cepat menggeser tubuhnya ke arah Jenita hingga suara tawa Jenita langsung lenyap dan berganti dengan rasa terkejut yang luar biasa.


"Apa yang anda lakukan?" tanya Jenita dengan suara agak gugup dan sedikit lantang.


"Menjadi pengkhianat," jawab Jack santai sembari mengulas senyum yang penuh kenakalan.


"Teriaklah!" bukannya takut dengan ancaman Jenita, Jack malah memilih memberi perintah. Namun saat Jenita hendak membuka suara, tangan Jack langsung bergerak menangkap kepala belakang Jenita dan bibirnya langsung membungkam mulut wanita itu.


Cup!

__ADS_1


Mata Jenita sontak membalalak dan berusaha memberontak. Namun tenaga dan postur tubuh Jack yang lebih kuat, membuaf pergerakan wanita itu sungguh tidak ada artinya. Bibir Jack terus bergerak menikmati hangatnya bibir Jenita yang terdiam. Pada saat wanita itu kelabakan seperti kehabisan nafas, baru Jack melepaskan gigitannya.


Bagaimana anak panah yang siap meluncur dan menembus jantung, Jenita menatap tajam Jack dengan gemuruh dada yang sangat hebat. Rasa yang ada dihatinya semakin tidak karuan.


"Kau!"


"Kenapa? Mau lagi?"


Jenita langsung berpaling dan Jack tertawa lirih, lalu dia mendekatkan mulutnya ke telinga Jenita. "Sekarang, hati anda juga telah menghianati anda bukan?" bisik Jack lalu langsung bangkit dan meninggalkan Jenita yang semakin merasa kesal. Tapi apa yang dibisikan Jack ada benarnya. Wajah Jenita boleh saja terlihat membenci Jack, tapi tidak dengan hatinya.


Sepanjang langkah kaki Jack, senyum pria itu terus terkembang tipis hingga dia memasuki tempat tinggalnya. Sikap Jenita sungguh menggemaskan hingga Jack terus terbayang. Hingga saat pria itu sampai di dalam kamar, baru Jack berpikir keras mencari cara mengggunakan batu itu untuk menyembuhkan Nafata.


"Cari petunjuk dimana? Apa seperti di film dragon ball, membiarkan batu itu menyala dan menunggu naga datang baru mengucapkan permintaan? Ah ... konyol sekali," pikiran dan hati Jack mulai bertarung. "Lebih baik aku pinjam sejenak kalung Nikki dan Rahul. Siapa tahu aja, nanti ada keajaiban. Ide bagus! Yuhu!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2