
Setelah mengetahui salah satu fakta yang terungkap, Jack dan kedua rekannya merenung di kamarnya masing masing. Jika bukan karena waktu yang sudah larut malam, mungkin mereka bertiga akan mengorek informasi yang jauh lebih lengkap dari wanita yang tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak itu.
Jack, Nikki dan Rahul juga penasaran dengan apa yang terjadi dengan Nafata. Bagaimana bisa tubuh wanita itu tidak bisa bergerak dan penuh bekas luka. Sepertinya wanita itu telah mengalami penyiksaan atau semacamnya.
Ketiga pemuda tersebut memegang batu yang menjadi pemberat kalung yang mereka pakai dengan pikiran yang menerawang. Keistimewaan apa saja yang dimiliki batu cahaya tersebut? Sungguh ketiganya sudah tidak tahan untuk mencari tahu dari sumbernya tentang batu berwarna ungu itu.
Kegelisahan juga sedang dirasakan oleh sepasang naga di tengah hutan. Kegelisahan tersebut terjadi lantaran pemikiran mereka sendiri tentang keadaan benda yang sedang mereka cari. Benda tersebut kekuatannya timbul dan tenggelam, membuat sang naga merasa kesulitan mendeteksinya dengan kekuatan yang dia miliki.
"Apa mungkin batu bercahaya ungu hancur berkeping keping, istriku?" tanya Naga jantan unuk mengurai kegelisahannya.
"Sepertinya tidak, suamiku. Mungkin batu itu hanya terbelah menjadi beberapa bagian saja," jawab naga betina dengan sangat yakin.
Naga jantan nampak manggut manggut beberapa kali. Apa yang dikatakan istrinya memang benar. Jika batu itu pecah berkeping keping, maka akan susah untuk mendeteksi kekuatannya.
"Saya berharap, batu itu tidak jatuh ke tangan orang yang salah, suamiku. Jangan sampai batu itu dijadikan alat untuk menguasai dunia dan kita."
"Aku berharap juga begitu, istriku," balas Naga jantan. "Bagaimana kalau kita kembali tidur? Besok kita melakukan penyelidikan."
"Baik, suamiku."
__ADS_1
Hingga tanpa terasa, waktu malam kini telah berganti pagi..seperti biasa, Jack dan kedua rekannya menghabiskan waktu untuk mengolah tubuh mereka. Saat mereka berada di rumah, mereka jarang sekali melakukan olah raga pagi. Namun disini mereka tidak punya pilihan lain untuk menghabiskan waktu pagi mereka.
"Ratu mau kemana itu? Sepertinya buru buru sekali?" ucap Rahul dengan tatapan tertuju pada wanita yang sedang melangkah ke arah sebuah pintu.
"Biar aku ikuti," ucap Jack, dan dia segera berlari kecil menyusul Ratu Jenita. Jack tahu betul Jenita mau kemana. Apa lagi sang ratu membawa dua keranjang.
Sementara itu, Nikki dan Rahul meneruskan olah raga mereka sambil menatap kepergian Jack hingga tubuh pria bertato itu hilang dari pandangan mata mereka.
"Apa kamu sudah tanyakan kembali kepada wanita itu?" Rahul membuka percakapan dengan membahas Nafata dan batu bercahaya ungu.
"Belum, tadi dia masih tidur," jawab Nikki sambil terus melakukan gerakan pengencangan otot perut biar makin rata.
"Sejak kemarin."
Rahul langsung menghentikan gerakan badannya dan matanya memicing tajam menatap Nikki. "Lah terus, yang membersihkan badannya, siapa?"
"Ya aku, siapa lagi? Aneh kamu pertanyaannya," ucap Nikki sembari menghentikan olahraganya dan beranjak meninggalkan Rahul yang melongo.
"Wahh! Jangan jangan kamu sudah menyentuh wanita itu dong?" tanya Rahul agak keras lalu dia beranjak menyusul Nikki.
__ADS_1
"Baru nyentuh pake tangan, belum yang lainnya, bahaya."
"Astaga!"
Nikki hanya tersenyum simpul lalu dia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Dia langsung menyapa Nafata dan mengajaknya ngobrol. Wanita itu mulai berani merespon setiap pertanyaan yang Nikki ajukan meski dengan ucapan yang terputus putus.
"Apa aku boleh tahu, apa yang menyebabkan tubuh kamu tidak bisa bergerak? Apa kamu mengalami penyiksaan?" tanya Nikki sembari duduk ditepi ranjang dan menatap gadis itu dengan lembut.
Mata Nafata berkaca kaca, "aku sendiri tidak tahu, kenapa tangan dan kakiku tiba tiba tidak bisa digerakkan. Seperti ada sesuatu yang mengikatku."
Meski jawaban Nafata terbata, tapi masih bisa didengar dengan baik oleh Nikki.
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di tengah hutan, Ratu Jenita dibuat terkejut saat memasuki gubug, dia tidak menemukan seseorang yang terbaring lemah di tempat itu.
"Nafata? Kemana dia?" ucap Ratu langsung panik dan mencoba mencarinnya, hingga masuk ke dalam hutan. Mata Ratu terus berkeliling dengan wajah panik, dia terus berteriak menyebut nama Nafata. Hingga beberapa langkah kemudian, sebuah suara langsung membuatnya terpaku dan terdiam.
"Nafata berada di tempat yang aman!"
Sontak Ratu Jenita langsung menoleh. Seketika matanya terbuka lebar saat tahu siapa yang bersuara.
__ADS_1
...@@@@@@...