
"Ambilah secukupnya, tapi jangan sentuh tiga mahkota itu jika kalian ingin selamat."
Semua mata memandang pada tiga mahkota yang menempel pada dinding tanah. Mereka tahu maksud Nafata dan mereka mematuhinya. Disaat mereka asyik mengambil koin emas, tiba tiba Rahul menemukan sesuatu.
"Loh! Ini kan ..."
"Nemu apaan kamu, Hul?" tanya Jack.
"Lihat!" Rahul mengambil sebuah kantonng besar dari kulit dan menunjukkannya pada semuanya. "Ini senjata dari negara negara cina dan barat kan?"
"Ah iya benar!" seru Nikki. "Kenapa ada senjata beginian di pulau disini?" tanya Nikki sambil menatap Nafata.
"Aku mana tahu, emang senjata negara cina dan barat itu apa?" Nafata malah memberi pertanyaan.
"Ini tuh senjata yang juga ada di dunia kita, cuma beda negara dan pulau, yang bisa digunakan untuk melawan musuh selain pedang dan tombak," terang Jack.
Ketiga wanita yang ada disana hanya terdiam. Dari reaksi yang ditunjukkan wajahnya, kelihatan sekali kalau mereka bingung dan tidak mengerti dengan penjelasan Jack.
"Ini boleh di bawa nggak?" tanya Rahul.
"Ya silakan kalau memang bermanfaat," ucap Nafata.
"Sip!"
Setelah merasa cukup dengan harta yang mereka ambil, ke enam orang itu segera saja kembali keluar melewati jalan yang sama menuju jalan pulang.
__ADS_1
Hingga beberapa waktu berlalu, Jack dan yang lainnya sampai di istana di saat hari sudah gelap. Suasana istana masih sedikit ramai dengan orang orang yang bercinta di dalam beberapa tenda. Selain karena ritual menghilangkan kutukan, ada juga yang sengaja ingin mengulang kenikmatan saat bercinta.
Jack dan Jenita segera saja masuk ke dalam kamar utama. Sebelum tidur, mereka memilih membersihkan badan terlebih dahulu. Sekarang kedua orang itu sedang berendam air hangat di dalam kolam.
"Kamu kok lebih banyak diamnya, Ratuku? Kamu masih marah sama aku?" tanya Jack. Dia memang sedari pagi memperhatikan Jenita yang lebih banyak diam setelah kembali dari gubug.
Jenita hanya menggeleng tapi dia tetap terdiam tanpa memberi tahukan kenapa dia lebih banyak diam hari ini. Jack yang merasa bersalah, tentu saja merasakan perubahan sikap wanita yang sedang dia peluk dari belakang.
"Terus ada apa? Kenapa sedari tadi irit bicara? Ngomong dong? Kalau aku ada salah ya tunjukkan?" cecar Jack tapi masih dengan nada lembut.
"Aku hanya lelah," jawab Jenita pelan.
Jack sontak menghela dalam dalam nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan. "Baiklah, kita selesaikan mandinya lalu kita tidur, ya?" Jenita hanya mengangguk pelan.
"Aku jadi tidak sabar, Yang mulia. Ingin melihat kehancuran Tuan Jack," ucap Ratu Amuba. Saat ini Raja dan Ratu tersebut sedang berada dalam kamar mereka.
"Itu juga yang sedang aku rasakan, Ratu. Aku tidak sabar menguasai Istana Kagomara kembali."
"Tapi Yang mulia, bagaimana dengan Putri Nafata? Apa Raja Roma mengetahui kalau Putri Nafata masih hidup?"
"Belum, Sayangnya aku lupa untuk memberikan hal itu, Ratu."
"Bagaimana Yang mulia bisa lupa dengan hal sepenting itu? Aku yakin jika Raja Roma mengetahui kalau Putri Nafata masih hidup, pasti akan membuat Raja Roma semakin ingin menghancurkan Kagomara."
"Begitukah?"
__ADS_1
"Iya, Yang mulia."
"Bagaimana kalau kita berkunjung balik untuk menyampaikan berita itu?"
"Saya setuju, Yang mulia. Agar Raja Roma segera saja bertindak menghancurkan kerajaan kagomara."
"Baiklah." Keduanya nampak menyeringai.
Sementara dari pihak Raja Roma sendiri, dia sedang berkumpul bersama para petinggi kerajaan membahas tentang Jack dan segala yang Raja Roma ketahui saat berkunjung ke istana Raja Damendra. Semua yang ada di sana nampak terkejut mendengar cerita yang disampaikan Raja mereka.
"Titisan dewa dan naga?"
"Iya, pria asing yang sekarang berkuasa di kerajaan Kagomara mengaku kalau dia adalah utusan dewa dan naga," balas Raja Roma.
"Tapi, mendengar cerita dari Yang mulia dengan apa yang terjadi pada kerajaan itu, mungkin saja itu benar, Yang mulia. Karena dia keturunan dewa dan naga, pria itu tidak membutuhkan batu bercahaya ungu sama sekali."
"Maka itu, aku ingin mencoba bertarung melawan dia. Aku ingin membuktilan sehebat apa orang itu."
"Kalau begitu apa yang harus kami lakukan, Yang mulia?"
"Siapkan beberapa pasukan. Aku ingin berkunjung sendiri ke sana."
"Baik, Yang mulia."
...@@@@@...
__ADS_1