
"Kenapa di luar istana terlihat sangat ramai? Apa yang terjadi? Kok mereka terlihat bahagia?" hati Raja Damendra bertanya tanya. Begitu juga dengan Ratu Amuba dan para pengawalnya. Mereka merasa heran saat mata mereka melihat istana Kagomara sangat ramai dan dipenuhi banyak orang.
"Apa semua orang sengaja berkumpul di isana? Tapi sepertinya mereka tidak nampak sedang bersedih? Ada apa ini?" ucap Ratu Amuba.
"Kita berhenti di sini dulu," titah Raja Damendra, lalu dia menatap pengawalnya. "Kamu berdua, coba cari tahu kesana, apa yang sebenarnya terjadi," titah Raja Damendra pada dua pengawalnya.
"Baik, Yang mulia," dua pengawal itu segera saja pergi menuju istana yang jaraknya memamg sudah lumayan dekat. Sedangkan Raja Damendra memilih menunggu di depan sebuah balai sekalian beristirahat bersama Ratu Amuba dan enam pengawal yang lain.
"Ada apa? Apa yang terjadi disana?" tanya Raja Damendra setelah dua pengawal itu kembali beberapa saat kemudian.
"Di sana sedang terjadi pengangkatan Ratu yang baru, Yang mulia," salau satu pengawal melaporkan, dan laporan itu sukses menampilkan wajah terkejut Raja Damendra dan Ratu Amuba.
"Apa! Pengangkatan Ratu yang baru? Maksudnya?" cecar Raja Damendra nampak begitu terkejut. Dia butuh penjelasan lebih dari berita yang baru saja dia dengar.
"Benar, Yang mulia. Saat ini kerajaan Kagomara dipimpin oleh Ratu yang baru. Namanya Ratu Nafata."
"Apa! Tidak! Ini tidak mungkin!" pekik Raja Damendra dengan tatapan tak percaya.
__ADS_1
"Terus Jenita dan pemuda asing itu bagaimana?" Kalian dapat informasisnya juga?" kini giliran Ratu Amuba yang bertanya.
"Dapat, Yang mulia ratu," jawab salah satu pengawal. "Mereka memutuskan menjadi rakyat biasa saja."
"Apa!" Seru Damendra. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Tidak bisa!"
Ratu Amuba juga terlihat sama terkejutnya. Apa lagi dia sudah menyusun rencana yang menurut dia sangat bagus. Dengan adanya kabar seperti itu tentu saja dia takut rencananya akan gagal.
"Bagaimana ini, Yang mulia?" tanya Ratu Amuba dengan cemas. "Bagaimana dengan rencana kita?"
"Aku sendiri tidak tahu, Ratu. Apa Nafata bisa kita ajak kerja sama? Dia pasti sangat membenciku, bagaimana mungin aku akan mengajaknya bekerja sama," balas Raja Samendra.
"Bagaimana kalau kita mencoba saja, Yang mulia?" usul Amuba. Dia juga sebenarnya malu karena biar bagaiamanapun, dialah otak dibalik pengkhianatan yang dilakulan Raja Damendra. Tapi, demi bisa menguasai kerajaan milik Raja Roma yang sedang tidak ada Rajanya, Ratu Amuba menepis rasa malunya
"Mencoba bagaimana? Apa kita masih punya muka dihadapan Nafata?" balas Raja Damendra terlihat sangat frustasi.
"Kan kita tinggal bilang saja kalau kita minta maaf atas kesalahan kita dulu. Dan kita bilang aja kalau kita menyesal. Aku yakin Nafata pasti akan luluh asal kita tidak terlihat mencurigakan," desak Amuba tidak putus aja.
__ADS_1
Raja sontak menatap Ratunya lekat lekat sembari mencerna usulan wanita itu. Raja Damendra mempertimbangakan usulan istrinya dengan baik. Apa lagi alasan yang diutarakan cukup masuk akal, jadi apa salahnya kalau dia mencobanya.
"Baiklah, mari kita lakukan," ucap Raja Damendra pada akhirnya.
Di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Rasa bahagia jelas terlihat dari wajah para penduduk yang menyaksikan berlangsungnya acara penyerahan mahkota kepada Ratu kerajaan Kagomara. Hampir semuanya mendukung keputusan Ratu Jenita yang menyerahkan kekuasannya kepada keturunan asli dan satu satunya dari kerajaan kagomara.
Nafata sebagai Ratu baru juga sangat tidak menyangka kalau para penduduk sangat mendukungnya sebagai Ratu kerajaan. Rasa takut yang menghinggap di hatinya, musnah seketika oleh rasa haru dan juga optimis, berkat dukungan orang orang terdekatnya dan juga para penduduk. Ucapan selamat tak henti hentinya mengalir kepada Ratu yang baru dari para penduduk termasuk petinggi kerajaan, dayang dan para prajurit.
Pesta tiga hari tiga malam langsung saja digelar saat itu juga sebagai pesta rakyat dalam menyambut dan merayakan hadirnya pemimpin yang baru di kerajaan Kagomara. Nafata sendiri, kini sudah duduk di singgasana kerajaan bersama yang lainnya di Aula istana. Mereka sedang bercengkrama dan terlihat sangat bahagia. Hingga beberapa saat kemudian sang penjaga datang menghadap. Mau tidak mau obrolan mereka pun terhenti sejenak.
"Maaf, Ratu, saya mengganggu waktu anda," ucap pengawal itu merasa tidak enak.
"Tidak apa apa," jawab Nafata agak canggung. "Ada apa?"
"Ada Raja Damendra, Ratu. Dia ingin bertemu."
"Raja Damendra?"
__ADS_1
...@@@@@...