
"Ratu mau kemana?"
"Aku mau ke suatu tempat, mungkin saja Putri Nafata ada di tempat itu."
"Aku ikut!" Jack mengeluarkan suaranya.
Jenita yang sudah beranjak dua langkah kaki, langsung berhenti dan menoleh ke arah Jack. "Tidak perlu. Anda urus saja pelayan pelayan yang anda inginkan. Jangan pedulikan apapun yang terjadi pada kerajaan ini."
Mata Jack membeliak. Semua orang yang mendengar ucapan Jenita juga terkejut. Meski ucapannya halus dan pelan, tapi ucapan Jenita tersirat jelas kalau dia marah serta kecewa pada pria bertato banyak itu.
"Pokoknya aku harus ikut!" ucap Jack lagi. Sudah pasti dia akan tetap memaksa. Jack berkata sambil melangkah melewati Jenita. Namun saat Jack sudah berjalan setelah beberapa langkah, Jack merasa kalau dia berjalan sendirian. Jack pun menoleh dan benar saja. Jenita masih berdiri mematung di tempatnya. Jack pun terpaksa kembali menghampiri Jenita.
"Kenapa tidak jalan? Ayo!" ajak Jack begitu dia sampai di dekat Jenita kembali.
"Anda diam disini atau saya yang tidak pergi," balas Jenita memberi penawaran.
__ADS_1
Jack tercengang. Semua yang ada disana terdiam tanpa berani buka suara. "Kamu jangan kekananakan seperi ini dong! Jangan egois! Nafata bisa saja sedang dalam bahaya saat ini. Jangan bawa masalah pribadi disaat seperi ini," ucap Jack dengan sedikit emosi atas sikap Jenita.
Jenita memandang sinis ke arah pemuda itu. "Saya yang egois atau anda!" seru Jenita lantang. "Anda tahu benar, anda sedang ditunggu kabarnya? Saya dan Nafata menunggu dengan rasa khawatir kepulangan anda. Tapi apa anda peduli? Tidak. Anda lebih peduli dengan kesenangan anda sendiri!"
Jack kembali dibuat tercengang. Begitu juga dengan Nikki dan Rahul yang nampak terkejut dengan ucapan Jenita. Secara tak lansung, Nikki dan Rahul juga tersindir dengan apa yang Jenit katakan. Mereka tahu benar kalau kembalinya mereka sedang ditunggu, tapi hanya gara gara isengin pelayan malah jadi masalah besar.
"Jadi saya tegaskan! Lebih baik anda tetap disini. Bersenang senanglah dengan pelayan seperti yang anda mau! Tidak usah pedulikan keselamatan saya dan Putri Nafata!" ucap Jenita penuh penekanan, lalu dia melangkah pergi meninggalkan semuanya.
Jack terpaku. Dia sadar kalau dia salah dan egois. Tidak seharusnya dia berpikiran picik seperti tadi. Menuduh Jenita kekanakan dan egois. Tapi nyatanya, dia sendiri yang egois. Wajar jika Jenita berpikir kalau dia dan teman temannya tidak peduli. Saking asyiknya bercanda dengan pelayan yang aduhai membuat mereka lupa kalau mereka sedang ditunggu kepulangannya.
"Apa benar? Kalian sedari tadi menunggu kami?" tanya Jack pada Insana, dan wanita itu mengangguk serta membenarkan.
"Nggak usah ditanyakan lagi, Jack. Kemarahan Jenita dan menghilangnya Nafata juga sudah cukup jelas kalau mereka kecewa karena yang ditungguin malah asyik dengan yang lain," ucap Rahul.
Jack menggembus kasar nafasnya. "Nggak di dunia kita, nggak disini. Kenapa wanita selalu sama? Paling bisa bikin pria merasa bersalah," sungut Jack lalu dia memandang Insana. "Kamu nggak marah? Rahul tadi bersama para pelayan."
__ADS_1
"Nggak dong! Dia kan cewek paling pengertian di dunia," Rahul yang menjawab dengan penuh kebanggaan.
"Yang aku tanya tuuh Insana, bukan kamu!" sungut Jack.
"Yang pastinya saya juga marah dan kecewa, Tuan. Tapi saya hanya bisa pasrah. Kalau sudah pernah dikhianati, pasti Tuan juga akan tahu bagaimana rasanya," jawab Insana dengan santainya, tapi cukup membuat ketiga pria itu tersinggung.
"Siapa yang mau berkhianat?" sungut Rahul tidak terima.
"Ya ampun, Tuan. Mungkin saat ini Tuan bilang tidak akan berkhianat, tapi kita tidak pernah akan tahu apa yang akan terjadi hari esok, Tuan. Harusnya anda juga tahu, ayah saya dan ayah putri Nafata, meninggal juga karena hasil dari seorang pengkhianat. Maka itu,Tuan. Mendengar Tuan tuan tadi sedang bergurau dengan pelayan, membuat saya sadar kalau anda berpeluang menjadi penghianat."
Deg!
Ucapan Insana seperti menampar hati tiga pria itu. Ketiganya langsung menatap lekat wanita yang berusaha tegar padahal hatinya penuh luka yang sengaja dia sembunyikan. Jack, Nikki, dan Rahul sontak terbungkam dan kehabisaan kata kata. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara Insana berseru sangat keras dengan mata yang membelalak.
...@@@@@...
__ADS_1