NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Nafata Kemana?


__ADS_3

"Tunggu saja sebentar lagi, kalian pasti akan saya bebaskan dari kutukan Naga Laut timur."


"Tuan Serius?" Jack mengangguk.


"Benarkah?" Jack kembali mengangguk.


"Wah! Kapan, Tuan?"


"Tunggu saja yah? Secepatnya!"


"Yeee!" sorak semua wanita.


Namun sorakan itu tak berlangsung lama, saat suara menggelegar penuh amarah terdengar diantara mereka.


"Dasar pria! Lagi ditungguin malah asyik bermain asmara dengan yang lain. Tidak bisa dipercaya!"


Sontak saja suara tawa tiga pria dan enam pelayan yang ada di taman samping Istana langsung berhenti. Wajah mereka menjadi panik saat saat melihat penguasa pulau itu menatap tajam dengan penuh amarah.


Setelah memergoki apa yang sedang dilakukan para pria, Ratu Jenita segera saja pergi tanpa menunggu penjelasan dari salah satu pria tersebut. Sedangkan tiga pria yang ada disana, langsung menunjukkan wajah bingung dan khawatirnya.


"Maaf, Tuan. Lebih baik kami pergi dulu. Kami takut kena hukuman karena telah lalai mengerjakan tugas kami," ucap salah satu pelayan dengan wajah panik dan suara gugup.

__ADS_1


Enam pelayan yang ada disana langsung undur diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Sudah pasti, mereka akan mendapat hukuman dari pengawas Istana dan Ajudan karena telah lalai mengerjakan tugas yang belum selesai.


"Aduh! Gimana ini, Jack?" ucap Rahul dengan wajah paniknya.


"Ya gimana lagi? Udah terjadi, hadapi saja," balas Jack. Meski khawatir, dia masih bisa bersikap tenang dan sangat santai.


"Bukan begitu. Nasib para pelayan itu loh, gimana? Pasti mereka akan mendapat hukuman kan?" ucap Rahul.


"Nah iya. Kalau kita sih mungkin santai, Jack. Tapi ada pelayan yang nasibnya bisa hancur gara gara kita," Nikkki ikut bersuara. Jack pun terdiam. Biar bagaimanapun memang dia yang mengajak para pelayan yang sedang bekerja untuk berhenti sejenak menemani mereka.


"Lebih baik kita kembali ke kamar, Jack," ucap Nikki lagi dan dia langsung berdiri dari duduknya lalu beranjak meninggalkan taman. Rahul juga menyusul Nikki dan meninggalkan Jack yang masih terdiam dengan pikiran berkelana ke mana mana.


"Loh? Nafata mana?" tanya Nikki pada diri sendiri begitu dia memasuki kamarnya. Dia tidak melihat Nafata di dalam kamar itu. Di kamar mandi pun tak ada. Tadi di luar juga tidak kelihatan. Nikki pun kembali keluar kamar dan berteriak memanggil nama wanita itu.


"Ada apa, Nik?" Tanya Rahul yang kembali keluar kamar karena mendengar teriakan Nikki.


"Nafata tidak ada di dalam kamar," ucap Nikki dengan wajah paniknya. "Insana mana?"


"Insana lagi di dapur ngambil makan siang," jawab Rahul. Tak perlu menunggu lama, Insana dan beberapa pelayan datang mengantar makanan.


"Insana, kamu melihat Putri Nafata tidak?" tanya Nikki begitu melihat Insana datang.

__ADS_1


"Tadi Putri Nafata ada di kamar, Tuan," jawab Insana yang merasa heran dengan pertanyaan Nikki.


"Tidak ada! Dia tidak ada dikamarnya."


"Apa!" Pekik Insana terkejut. "Tadi begitu mendengar kabar Tuan Nikki sudah pulang dan berada di taman dengan para pelayan, Putri Nafata langsung masuk kamar, Tuan."


Mendengar jawaban dari Insana, tentu saja Nikki langsung tekejut. "Apa! Jadi dia tahu kalau aku sudah pulang?".


"Iya, Tuan. Dari tadi dia nungguin kepulangan Tuan Nikki bersama saya dan Ratu Jenita."


"Aduh! Dia pasti marah, Nik," ucap Rahul lalu dia mengalihkan pandangan ke arah Insana dan menyuruh pelayan lainnya pergi. "Kamu tidak marah aku tadi lebih dulu menemui pelayan itu?"


Mendengar pertanyaan dari Rahul, Insana malah mengembangkan senyum bukan meluapkan amarahnya. Hal itu membuat Rahul merasa heran melihatanya. "Kenapa kamu malah tersenyum? Kalau pengin marah, marah saja? Nggak perlu ditutup tutupi dan pura pura baik baik saja."


"Loh, buat apa saya marah, Tuan. Bagi saya, dikhianati itu sudah terbiasa."


Deg!


Rahul dan Nikki terkejut bersamaan mendengar jawaban dari mulut Insana. Kening mereka berkerut dan tatapannya langsung tertuju pada satu wanita yang ada disana menuntut penjelasan.


"Saya, Ratu Jenita dan Putri Nafata sedari tadi menunggu Tuan pulang. Kami nunggu dengan rasa khawatir, karena kami tahu, Tuan tuan akan menemui Naga dari laut timur. Tapi saat kembali, Tuan Tuan malah terlebih dahulu menemui para pelayan. Bukannya menemui kami yang sedari pagi menunggu. Ya kami sadar, mungkin karena mahkota kami sudah Tuan Nikmati, jadi kami tidak dibutuhkan lagi, dan Tuan langsung mencari wanita lain sebagai gantinya."

__ADS_1


"Aduh!"


...@@@@@...


__ADS_2