
"Terus menurutmu? Mereka memancing siapa? Bukankah saat ini kerajaan sedang aman?" Jack kembali bertanya.
Nafata pun terdiam sambil berpikir. Tapi tak lama kemudian dia menatap tajam tiga pria didekatnya.
"Dia memancing pemilik batu bercahaya ungu!"
"Apa! Bagaimana bisa?" tanya Jack dengan tatapan tak percaya.
"Iya, bagaimana mungkin ada yang tahu tentang batu ini? Apa diantara kita ada yang berkhianat?" Rahul ikut menimpali dengan menatap semua orang yang ada disana dengan tatapan curiga.
"Kalau nuduh itu yang benar! Pake logika!" Sungut Nikki.
"Ya kan kali aja?" ucap Rahul tak mau kalah. Akhirnya Nikki menjelaskan apa yang dia tahu tentang batu itu sama seperti yang Nafata pernah jelaskan. Jack juga ikut berbicara untuk memperkuat apa yang Nikki certikan. Mendengar kebenaran itu, Rahul hanya manggut manggut sambil cengengesan.
Jack melangkah mendekati Jenita lalu memegang tangannya. "Kamu tidak boleh pegi!" titah Jack dengan tatapan khawatir.
"Apa makud anda? Lepaskan! Rakyat dalam bahaya!" balas Jenita sembari menepis tangan Jack.
__ADS_1
Tapi Jack tak mau mengalah. Dia kembali memegang tangan Jennita. "Kalau kamu ke sana, maka kamu yang ada dalam bahaya!" ucap Jack lantang dengan tatapan yang tajam.
"Saya di sini Ratu! Sudah sepantasnya saya harus berkorban untuk rakyat saya, paham!" balas Jenita tak kalah sengit. Tangan Jack kembali dihempas dan Jenita langsung keluar dari kamar Nikki dengan segala amarah yang bergemuruh di dada.
Jack pun terdiam. Rahangnya mengeras. Matanya tajam menatap Jenita. Lalu dia mengeram frustasi. Jack kembali bergabung dengan yang lain.
"Aku harus pergi! Aku tidak mau Jenita kenapa kenapa," ucap Jack lagi.
"Pergilah, aku yakin kamu bisa melindunginya," ucap Nikki. Jack menangangguk lalu dia juga langsung lari mengejar Jenita.
"Kalian berdua juga lebih baik ikuti mereka," usul Nafata.
"Kemungkinan yang melakukan penyerangan ada dua. Kalau bukan Raja Roma, berarti dia naga jantan. Tapi yang lebih berpeluang melakukan penyerangan seperti ini adalah sang naga."
"Naga?" Nafata mengangguk. "Darimana naga bisa tahu kalau batu ini ada di sini?"
Nafata tersenyum dan menatap Rahul juga Nikki. "Bagi Naga, batu bercahaya ungu adalah separuh nyawanya. Mereka akan merasakan kehadiran batu itu meski dalam jarak yang jauh namun di bumi yang sama. Mungkin benar kalian dari dunia lain saat mendapatkan belahan batu itu, makanya naga tidak bisa mendeteksi keberadaannya selama bertahun tahun."
__ADS_1
Nikki dan Rahul sontak saling tatap dan mengangguk. Apa yang dijelaskan Nafata sangat masuk akal. Mereka juga kembali teringat, sebelum mereka datang ke pulau penuh misteri ini, mereka sama sama melihat awan gelap berpetir biru. Bisa dipastikan ini ada hubungannya. Nikki dan Rahul seperti menemukan benang merah dari peristiwa yang menimpa mereka.
"Baiklah, aku sama Rahul akan mengikuti Jack dan Jenita," ucap Nikki memutuskan. "Insana, tolong, kamu jaga Nafata baik baik."
Insana mengangguk. Nikki mendekat dan menentap wajah Nafata dengan sangat dekat. "Tunggu aku pulang," ucap Nikki dan Nafata mengangguk, lalu Nikki memegang dagu Nafata dan mendongakkan kepalanya. Wajah Nikki maju.
Cup!
Nikki mengecup bibir Nafata cukup lama, lalu saat bibir itu terlepas, mereka saling senyum.
Rahul yang melihat adegan romantis di hadapannya, sudah pasti iri. Dia menoleh ke arah Insana dan Rahul tersenyum penuh arti. Insana yang tiba tiba merasa tidak enak dengan tatapan Rahul, langsung berbalik badan memunggu pria keturunan itu. Seketika Rahul langsung mendengus kesal.
Di lain tempat, Jack berhasil menyusul Jenita yang sudah berada di atas kuda dan bersiap untuk pergi. Jack langsung menghadangnya.
"Apa yang Anda lakukan? Minggir!" seru Jenita lantang. Tapi Jack tidak peduli. Dia segera mendekat dan naik ke atas kuda yang sama yang Jenita tunggani. "Anda ..."
"Tidak perlu mengancam atau melarang! Kamu ingat apa perkataanku semalam bukan?" Jenita seketika langsung terbungkam. "Dan satu lagi yang harus kamu ingat. Dianatara kita tidak ada kata Anda dan saya, tapi yang ada hanya kamu dan aku, paham?"
__ADS_1
Jenita hanya terdiam, hingga Jack yang akhirnya memberi perintah. "Berangkat!"
...@@@@@...