NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Saat Wanita Kecewa


__ADS_3

Ucapan Insana seperti menampar hati tiga pria itu. Ketiganya langsung menatap lekat wanita yang berusaha tegar padahal hatinya penuh luka yang sengaja dia sembunyikan. Jack, Nikki, dan Rahul sontak terbungkam dan kehabisaan kata kata.


Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara Insana berseru, "Putri Nafata!"


Sontak semua mata yang ada disana langsung tertuju pada dua sosok yang sedang mendekat ke arah mereka. Tiga pria dan satu wanita yang sedang duduk bersama langsung berdiri. Wanita bernama Insana langsung beranjak menyambut Nafata yang sedang tersenyum kepadanya. Sedangkan ketiga pria itu hanya mematung seperti orang bingung.


"Putri Nafata darimana saja? Kenapa pergi tidak bilang sama saya? Saya sangat khawatir sekali? Saya pikir putri Nafata diculik lagi?" Insana langsung memberondong Nafata dengan banyak pertanyaan.


Nafata hanya mengulas senyum melihat wajah kesal sahabatnya itu. "Aku hanya mengunjungi pemakaman Ayah sama Ibu saja. Maaf sudah membuat kamu khawatir."


"Astaga! Kenapa tidak bilang? Kalau Putri bilang, pasti saya bisa menemani, sekalian saya jenguk makan orang tua saya juga," protes Insana.


"Kan tadi tidak sengaja. Besok besok, kita kesana bersama ya?"


"Oke, Putri."


Dua diantara tiga pria yang ada disana, hanya bisa menatap sendu dua wanita yang seakan enggan menatapnya. Rasa bersalah masih menyergap hati mereka sehingga untuk mengeluarkan suara saja, Jack dan Nikki seperti memiliki kesusahan.

__ADS_1


"Ya sudah, mending kamu istirahat, Putri. Kamu jadi menempati kamar kamu yang lama?" pertanyaan Jenita sontak saja membuat Nikki terkejut.


"Jadi, Ratu, bukankah semua orang sudah tahu kalau aku masih hidup dan ada di Istana ini? Jadi buat apa aku bersembunyi lagi," balas Nafata dengan tenangnya, tapi Nikki yang mendengarnya malah merasa tidak senang.


"Kenapa harus pindah kamar? Tidak! Aku tidak mengijinkan! Kamu harus tetap satu kamar denganku!" Seru Nikki tak terima. Bukan seperti ini yang dia inginkan. Bagaimana bisa dia bisa minta maaf dan memperbaiki hubunganya kalau mereka tidur terpisah.


Nafata kembali menunjukkan senyumnya kepada Nikki. "Tidak, aku sudah tidak punya hak berada satu kamar dengan anda, Tuan! Sekarang anda sudah berhasil melunturkan kutukan Raja naga. Bukankah kamar anda nanti yang akan digunakan untuk melunturkan kutukan yang ada di dalam tubuh wanita lain?"


Nikki langsung terperangah. Bagaimana bisa Nafata sudah berpikir sejauh itu? Nikki ingin membantah, tapi nyatanya apa yang dikatakan Nafata ada benarnya. Kamar itu pasti akan Nikki gunakan untuk para wanita yang ingin menghilangkan kutukannya.


"Cemburu?"


"Ya, kalian pasti cemburu kan? Melihat kita dekat dekat dengan wanita lain? Ngaku aja," balas Jack sambil menyeringai merasa tuduhannya benar.


"Untuk apa cemburu? Kita cuma sadar diri, Tuan. Banyak wanita yang ingin sembuh dan penawarnya dengan melakuan ritual bersama kalian. Bisa saja diantara wanita itu nantinya yang akan Tuan pilih. Buktinya setelah Tuan menikmati mahkota kita, Tuan langsung lupa sama kita dan memilih bersenang senang dengan pelayan," terang Nafata dengan santainya meski hatinya ada perasaan getir yang tidak terkira, tapi dia memang harus bersiap diri sejak dini agar nasibnya tidak seperti orang tua Jenita.


"Sudah, percuma berdebat. Mereka tidak akan pernah peduli dengan kita," ucap Jenita dengan perasaan yang masih sangat kesal. "Insana, bilang ke semuanya kalau Putri Nafata sudah kembali dan suruh semuanya agar berkumpul di aula kerajaan. Ada yang mau saya sampaikan."

__ADS_1


"Baik, Ratu," jawab Insana patuh dan dia segera saja pergi untuk melaksanakan tugasnya.


"Kamu mengumpulkan orang orang, mau mengumumkan kalau aku masih hidup?" tanya Nafata.


"Ya, salah satunya itu," jawab Jenita enteng.


"Salah satunya? Emang, apa lagi yang akan kamu umumkan?"


"Ya tentang Tuan Jack, Tuan Nikki dan Tuan Rahul," balas Jenita tanpa melihat ke arah tiga pria. Sedangkan ketiga pria yang namanya disebutkan, menatap Jenita dengan tatapan penuh tanya.


"Mereka?" tanya Nafata dengan kening berkerut. Jenita mengagguk dengan antusias. "Emang pengumumana apa?"


"Ya bilang ke semua rakyat, kalau tiga pria ini telah siap membantu melunturkan kutukan Naga dari laut timur, dan mulai besok mereka sudah siap melakukan ritualnya."


"Apa! Gila!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2