NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Kejutan!


__ADS_3

"Kalau aku sendiri yang meminta Tuan Jack menjadi Raja, bagaimana?" sebuah suara tiba tiba datang dari arah dalam kerajaan. Raja Damendra dan yang lain langsung menoleh melihat siapa yang bersuara. Betapa terkejutnya Raja Damendra dan Ratu Amuba saat mengetahui siapa yang baru saja berbicara.


"Nafata!" pekik Raja Damendra dan Ratu Amuba hampir bersamaan.


"Kenapa? Kaget melihat saya masih hidup?" ucap Nafata sambil bersilang tangan di depan dadanya. Sementara Nikki dan Rahul hanya bisa mengikutinya dari belakang.


"Tidak mungkin! Ini pasti bukan Nafata," gumam Damendra dengan tatapan hampir tak berkedip dan suara agak gemetar. Nafata sendiri hanya menyeringai dengan tatapan penuh benci kepada dua orang yang sudah menghancurkan hidupnya.


"Putri Nafata, kenapa kamu menampakkan diri?" tanya Jenita.


"Aku tidak mungkin sembunyi terus, Jenita. Aku tidak tahan dengan sikap Raja Damendra terhadap kamu. Dengan seenaknya dia menyebut kerajaan ini miliknya. Aku tidak tahan!" balas Nafata dengan segala amarah yang dia pendam. Dia lalu menatap tajam Damendra. "Sekarang, siapa yang lebih berhak atas kerajaan ini? Saya atau anda!"


Damendra terkesiap. Dia tidak bisa berkata kata lagi. Damendra tidak bisa beralasan lagi untuk membela diri. Berbeda dengan Ratu Amuba. Meskipun dia terdiam, tapi dari gerak gerik matanya, dia sedang berpikir keras mencari alasan yang tepat untuk membela diri.


"Tapi kami melakukan itu semua untuk menjaga kerajaan ini dari orang asing seperti dia," ucap Ratu Amuba sambil menunjuk ke arah Jack. "Bayangkan kalau istana ini jatuh ke tangan dia. Pasti sudah hancur. Dia memang sudah merencanakan ini semua secara matang."


Nafata tentu saja langsung menyeringai. "Terus kalau saya ikut andil dalam rencana pria ini, bagaimana?"


"A-apa? Mana mungkin?" Ratu Amuba tergagap tak percaya. Dia kalah telak hingga kehabisan kata kata untuk berasalan lagi.

__ADS_1


"Jadi kamu merencanakan ini semua?" tanya Damendra mempertegas dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Seperti yang saya katakan. Saya ikut andil dalam rencana Tuan Jack," ucap Nafata tenang, dan pastinya apa yang di ucapkan Nafata adalah dusta. Dia terpaksa harus besandiwara menghadapi Raja Damendra dan Ratu Amuba. Dia sudah muak dengan dua orang itu dan ingin segera memberi pelajaran yang berharga pada mereka.


Sebenarnya Jack dan yang lainnya juga merasa bingung dengan sikap Nafata dan kebohongannya. Namun mereka memilih diam dan akan meminta penjelasan nanti setelah dua orang itu pergi.


"Pantas saja pria ini menolak menikahi Jenita, ternyata diam diam Nafata dan Tuan Jack bekerjama sama untuk menghancurkan Jenita. Permainan yang sangat bagus," cibir Ratu Amuba. "Lihat, Jenita! Kamu telah dibodohi selama ini. Ternyata Putri Nafata dan Ratu Jenita lebih dari pengkhianat. Menjijikan! Mari, Yang mulia sebaiknya kita pergi. Biarkan Jenita menikmati kebodohannya sendiri."


"Kalian, tunggu pembalasan dari saya," ancam Raja Damendra dan dia langsung pergi dengan tatapan penuh amarah. Begitu juga dengan apa yang dilakukan Ratu Amuba. Kedua orang itu pergi dengan segala dendam yang sangat membara.


"Jadi, kalian mau menikah?" ucap Jenita tiba tiba begitu Damendra dan Amuba menghilang dari pandangan mereka.


"Tapi kan kamu tadi menolak untuk menikah denganku?"


"Hahaha ..." Jack tergelak lumayan kencang lalu manarik tubuh Jenita ke dalam pelukannya. "Tadi hanya sandiwara untuk mempermainkan pemikiran mereka. Terbukti kan, pikiran mereka langsung kemana mana."


"Lagian mana mungkin Nafata menikah dengan Jack," Nikki ikutan bersuara sambil melingkarkan tangannya di pinggang Nafata. "Kalau mereka menikah, Jack harus melawanku dulu."


"Wuih ngeri!" seru Jack.

__ADS_1


"Kalian enak berpelukan, nah aku?" sungut Rahul. "Mending aku pergi nonton orang bercinta daripada lihat kalian bermesraan. Menyebalkan!"


"Hahaha ..." Jack dan Nikki sontak terbahak melihat Rahul yang langsung saja pergi sambil menggerutu.


"Putri, tadi kok kamu bisa pas banget ngomongnya soal pergantian Raja? Bisa tepat banget kata katanya gitu? Emang kalian dengar pembicaraan kita?" tanya Jack.


"Iya, tadi kita sempat nguping sebentar, Jack," Nikki yang menjawab. "Sedari tadi dia maksa keluar kamar, tapi aku tahan. Eh dia terus merengek, ya udah kita keluar."


Jack nampak manggut manggut. "Terus diluar ada keributan yang meminta aku jadi Raja, itu ulah siapa?"


"Itu inisiatif orang orang Jack. Memurut mereka, kamu orang hebat dengan apa yang kamu lakukan untuk kerajaan ini," jawab Nafata.


"Hahaha ... hebat apanya? Biasa aja perasaan."


"Cih! Sok merendah!" Cibir Nikki. "Terus kamu siap nggak ditunjuk jadi Raja, Jack?"


"Aku ...."


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2