
Jack mengendalikan laju kudanya secara pelan. Dia menikmati perjalanan pulang dengan hati yang cukup tenang. Emosi di dadanya sudah cukup mereda. Berbicara dengan Naga jantan, nampaknya ampuh mengusir segala amarah serta kekecewaan yang mendera hatinya karena sikap Jenita beberapa saat yang lalu.
Jack sangat menikmati perjalanan pulangnya. Meski angin malam terasa sedikit dingin menerpa kulitnya, tapi bagi Jack udara dingin itu sama sekali tidak bisa mendinginkan hatinya yang sedang menghangat.
Sepanjang perjalanan, banyak penduduk yang menyapanya. Terutama para wanita muda yang cantik dan sangat menggoda. Sebagai lelaki, tentu saja Jack sangat tertarik dengan tawaran tawaran dari para wanita itu. Tapi Jack menoba bersikap munafik. Untuk saat ini dia lebih menghindar berhubungan badan dengan wanita lain.
"Tuan Jack, silakan mampir. Rumah saya sepi loh!"
"Tuan Jack, kutukan saya belum luntur. Tolong dong dilunturkan?"
"Tuan Jack, di rumah saya ada tiga wanita cantik, silakan mampir."
Jack hanya mampu membalas ucapan mereka dengan sebuah senyuman sebagai tanda penolakan. Sangat disayangkan, tapi Jack tidak punya pilihan lain selain menolak mereka semua.
Tak lama kemudian sampailah dia di istana Kagomara. Jack langsung mengarahkan kudanya ke arah kandang. Suara rintihan kenikmatan terdengar jelas dari tenda tenda yang bergoyang. Jack hanya tersenyum sambil melewatinya.
Saat Jack sampai di dekat kandang kuda, dia terkejut saat matanya menangkap sesosok wanita yang sedang duduk di samping pintu kandang. Jack tahu siapa wanita itu. Ingin rasanya Jack menyapa dan bertanya, tapi rasa gengsinya menahan Jack untuk tetap bersikap acuh. Jack lantas turun dari kuda yang dia tunggangi lalu masuk ke dalam kandang kuda sembari menarik kuda itu.
Wanita yang sedari tadi mencari dan menunggu Jack awalnya senang saat melihat Jack akhirnnya kembali. Senyumnya pun langsung merekah menyambut kedatangan pria itu. Tapi senyum wanita itu perlahan memudar saat melihat sikap Jack yang acuh. Matanya terus menatap Jack yang sama sekali tidak melihat keberadaannya.
__ADS_1
Wanita itu merasa kecewa, dia kembali duduk di atas rumput yang tadi dia duduki sembari bersandar ke dinding kayu kandang kuda. Saat Jack keluar kandang, wanita itu menoleh dan berharap Jack kali ini menyapanya. Tapi hanya rasa kecewa yang dia dapatkan. Jack malah terus berjalan meninggalkan dirinya. Tanpa terasa wanita itu kembali meneteskan air matanya, dia pun bangkit, mengambil obor yang jadi penerang di sekitar kuda dan memilih keluar istana lewat pintu belakang. Dia melangkah ke arah gubug dimana dulu dia menyembunyikan putri Nafata saat masih sakit.
"Jack! Kamu sudah pulang?" seru Nikki yang saat itu sedang duduk bersama Nafata, Rahul dan Insana di depan bangunan belakang istana.
"Dari mana kamu, Jack? Jenita nyariin loh," ucap Rahul memberi tahu.
"Nyari angin, suntuk di Istana mulu," jawab Jack santai setelah dia duduk di kursi yang ada di sana.
"Eh, Insana. Tolong dong, panggilin Jenita di kamarnya," pinta Nafata.
"Baik, Putri," Insana lantas bangkit dan beranjak menuju ke dalam Istana. Jack yang sudah tahu keberadaan Jenita dimana, hanya diam saja.
"Mana mungkin? Tadi aja ada sama aku," ucap Nafata.
"Beneran, Putri. Saya sudah memasuki kamarnya dan Ratu sama sekali tidak kelihatan," ucap Insana meyakinkan.
"Astaga! Kemana dia?" seru semuanya dengan panik. Insana dan Jenita langsung pergi mencari Jenita serta memberi tahu yang lain. Begitu juga Rahul dan Nikki. Mereka tidak menyadari kalau Jack tidak menunjukkan rasa panik sama sekali.
Di saat semua sibuk mencari Jenita, Jack memilih masuk ke dalam istana dan menuju kamar utama untuk mengistirahatkan tubuhnya. Jack yakin kalau orang orang pasti akan menemukan Jenita berada di kandang kuda. Makanya dia memilih diam. Jack berpikir urusan Jenita, dia selesaikan esok hari saat bangun tidur. Jack pun terlelap karena merasa lelah.
__ADS_1
Hingga beberapa lama kemudian.
"Jack! Woy! Bangun! Malah enak enakan tidur kamu!" seru Nikki saat melihat Jack justru terlelap. "Jack! Bangun!"
"Apa sih? Teriak teriak! Ganggu aja!" sungut Jack tidak terima tanpa mau membuka matanya.
"Kok kamu malah enak enakan tidur sih? Jenita hilang!" Seru Rahul.
"Hilang bagaimana? Jelas jelas tadi dia duduk di depan kandang kuda," balas Jack kesal.
"Kandang kuda? Kandang kuda yang mana?"
"Ya yang mana lagi. Di sini kan kandang kuda hanya ada satu."
"Mana ada? Kita udah nyari kesana tapi nggak ada. Kudanya ajaj masih utuh!"
"Apa! Nggak mungkin!"
...@@@@@@...
__ADS_1