
Di pagi hari, pada saat Jack, Nikki dan Rahul lagi asyik ngobrol, tiba tiba mereka di datangi Ratu Jenita. Dengan memasang wajah galak, Jenita lansung menatap tajam Jack.
"Siang ini, saya tunggu anda di arena pertarungan! Kita tanding satu lawan satu! Mengerti!"
Setelah memberi tantangan, Ratu Jenita langsung saja pergi meninggalkan tiga pemuda yang melongo bersamaan. Ketiga pemuda itu pun saling tatap lalu terbahak.
"Hahaha ... Ratu kenapa?" tanya Rahul disela sela suara tawanya.
"Mana aku tahu, kesambet kali," balas Jack sembari menatap ke arah perginya Jenita.
"Terus? Kamu mau ladenin dia nggak?" tanya Nikki.
"Iya, Jack, emang kamu bisa bela diri?" sambung Rahul.
"Kalau sekedar berkelahi sih aku bisa. Lihat saja nanti. Susah kalau yang nantangin cewek."
"Susah gimana?"
"Ya susah aja. Diladenin, dia cewek. Nggak diladenin, nanti dikira aku pengecut. Kalah atau menang pun nggak ada artinya."
"Bener, Jack. Cowok kalau udah lawan cewek serba salah. Padahal cewek juga sering berbuat salah, tapi tetap saja, cowok yang disalahin."
__ADS_1
"Kamu curhat, Nik?" ledek Rahul, dan dia langsung terbahak. Nikki hanya mendengus kemudian dia ikut tertawa juga.
Entah apa yang terjadi pada Jenita pagi ini, tapi yang jelas dia hari ini bawaanya ingin marah terus. Tapi di balik rasa ingin marahnya ada sesuatu rasa dimana hati dan namanya selalu mengingat satu wajah lelaki yang akhir akhir ini berani menyentuh bibirnya.
Setelah memberi tantangan kepada Jack, hati Jenita justru semakin gelisah tak karuan. Dia bertindak seperti orang yang frustasi di dalam kamarnya.
Dan seperti yang telah diberitahukan, siang harinya Jack dan Nikki bertemu di arena pertandingan. Keduanya kini telah saling hadap dan bersiap diri. Tidak banyak yang menyaksikan pertandingan pria dan wanita tersebut. Hanya ada Nikki, Rahul dan beberapa dayang serta pengawal yang semuanya adalah wanita.
"Kira kira hadiah apa yang akan saya dapatkan jika menang dari pertandingan ini?" tanya Jack dengan senyum nakalnya yang membuat hati Jenita semakin berdebar tak karuan.
"Jangan bermimpi di siang hari, Tuan. Justru anda yang akan bertekuk lutut di hadapan saya," balas Jenita sinis.
"Sudah siap, Ratu?" tanya seorang wanita yang bersikap sebagai wasit.
"Mulai sekarang saja," titah Jenita.
"Baik, silakan berdiri di tempat yang sudah disediakan, Ratu."
Jenita bangkit dari duduknya dan menuju ke dalam arena yang sudah disiapkan. Begitu juga dengan Jack. Meski wajahnya tidak menunjukkan rasa takut, tapi di dalam hatinya dia sebenarnya sedang ketir ketir.
Wajar jika Jack merasa tak tenang. Dia sama sekali tidak memiliki ilmu bela diri, bisa bisanya malah diajak bertarung seperti ini. Tapi untuk mundur pun kepalang tanggung. Bisa bisa Jack akan semakin diremehkan oleh wanita yang menantangnya. Jack langsung mengambip posisi kuda kuda sebisanya. Dengan mengingat gerakan dalam film aksi yang pernah Jack tonton, dia meniru gaya kuda kuda dari film.
__ADS_1
"Baiklah, apa kalian siap?"
"SIAP!" ucap keduanya lantang.
"Satu, dua, tiga, mulai!"
Jack dan Jenita langsung bergerak ke arah samping dengan tatapan tajam dan sangat waspada ke arah lawan. Mereka sama sama sedang mencari celah untuk menyerang serta bersikap waspada untuk bertahan.
"Kenapa anda hanya mutar mutar mengikuti gerakan saya? Sini, anda maju serang saya!" tantang Jenita yang merasa kesal karena hingga beberapa waktu berlalu, Jack seperti meniru gerakan Jenita saja.
"Silakan anda yang maju, bukankah anda yang memberi tantangan?" balas Jack tak mau kalah. Padahal hatinya sedang bingung bukan main.
"Baiklah, kalau itu mau anda! Terimalah serangan saya! Hiyaaat"
Jenita melayangkan pukulan dengan cepat hingga Jack merasa terkejut dan tidak ada kesempatan untuk menghindar. Tapi tanpa sadar tangan Jack terangkat dan menangkis ala pendekar profesional.
Keduanya terkejut. Jenita kembali melakukan penyerangan, tapi lagi lagi Jack mampu menahannya dengan mudah tanpa sadar. Jack tidak percaya kalau dia mampu menahan semua gerakan Jenita yang terlihat jago bela diri.
"Aku? Bisa bela diri?" gumam Jack terkejut.
...@@@@...
__ADS_1