
Setelah melakukan musyawarah, akhirnya Jack dan teman teman sepakat untuk berbagi tugas dalam menyiapkan tentara perang. Mereka harus mempersiapkan segalnya dengan cepat dan tepat. Jack dan kawan kawan harus menyiapkan segalanya dengan matang dan terkonsep dengan baik. Jack tidak ingin menyiapkan semuanya dengan tergesa gesa tapi hasilnya kurang maksimal.
Langkah pertama yang Jack ambil adalah dengan membendung aliran sungai di bawah air terjun. Dengan dibantu beberapa orang pria dan wanita, mereka bahu membahu membendung aliran sungai sesuai saran dari naga. Aliran bendungan sungai itu akan digunakan untuk berendam semua orang yang ada di pulau itu.
Meski menggunakan batu bercahaya ungu, tapi sebisa mungkin Jack masih merahasiakan keberadan batu itu. Karena Jack tahu batu itu merupakan sumber masalah, maka itu Jack masih merahasiakan tentang batu tersebut.
Jack juga sudah mempersiapkan jawaban jika nanti ada yang bertanya kenapa airnya berubah menjadi ungu pekat. Jack juga sudah memilih tempat untuk merendam batu itu dan waktu yang dipilih Jack adalah petang hari.
Setelah aliran air terbendung sempurna, Jack, Nikki dan Rahul beranjak naik ke atas air terjun. Jack akan meletakkan batu bercahaya ungu di sana. Sedangkan Jenita, Nafata dan Insana bertugas mengggiring semua orang menuju kolam di bawah air terjun.
"Loh? Airnya kok keruh?"
"Iya, tapi aneh. Keruhnya berwarna ungu!"
"Apa yang sebenarnya terjadi di atas sana?"
Beragam pertanyaan dan tebakan bermunculan dari mulut penduduk yang melihat keanehan tersebut. Tapi tiga wanita yang ada disana malah tersenyum dan langsung melangkah masuk ke dalam air.
"Masuklah kalian semua. Percayalah! Air ini adalah air khusus yang akan membuat kalian takkan gentar menggadapi peperangan!" Seru Jenita kepada rakyatnya.
__ADS_1
"Benarkah?" Jenita mengangguk. "Tapi, Ratu. Ini air apa?"
"Saya sendiri tidak tahu namanya apa air ini, tapi yang pasti, ini ada sangkut pautnya dengan Naga dari laut timur. Naga lah yang merubah air ini menjadi berwarna ungu pekat."
"Jadi diatas sana, Tuan Jack sedang bertemu Naga, Ratu?"
"Benar. Maka itu cepatlah kalian berendam karena waktu naga tidak banyak."
"Baik, Ratu."
Semua langsung percaya dan mereka bergegas turun ke dalam air dan membasahi badan mereka. Meski masih banyak juga yang melakuan ritual di dalam tenda, tapi bagi yang sudah selesai, mereka di arahkan agar segera berendam di lembah air terjun yang letaknya tak jauh dari istana.
"Baguslah. Tapi sepertinya di Istana masih banyak orang ya?" ucap Jack.
"Masihlah, kebanyakan mereka para pria yang baru datang dan para wanita yang masih mengantri untuk melepas mahkota mereka," jawab Nikki.
"Jangan khawatir, Jack. Bukankah para pejabat kerajaan sudah dikasih tahu apa tuga mereka?" Rahul ikut membuka suara.
"Iya aku tahu. Aku cuma khawatir saja. Kalian lihat kan wanita wanita itu? Aku nggak tega aja jika para wanita harus turun ke medan perang. Mereka harus ikut berjuang untuk hidup mereka sendiri," ucap Jack dengan wajah terlihat sangat serius.
__ADS_1
"Aku juga sama kayak kamu, Jack. Aku juga nggak tega melihatnya. Membayangkannya saja enggan. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah jalan hidup mereka dan mereka memang harus menghadapi keadaan seperti ini."
"Intinya benar kata Naga, gara gara keserakahan sekelompok orang, yang lain menjadi kena dampaknya. Dan yang paling sangat disayangkan orang yang serakah itu tidak sadar kalau mereka telah menyengsarakan banyak orang," Rahul ikut menimpali.
Jack menghembus kasar nafasnya. Tatapannya terus memandang ke arah lembah. "Terus apa yang terjadi dengan mereka, jika secara tiba tiba kita menemukan jalan pulang? Apa mungkin mereka siap untuk ditinggalkan?"
Nikki dan Rahul tertegun seketika. Mereka menatap lekat wajah Rahul, lalu mereka saling pandang, dan tak lama kemudian, mereka memandang ke arah yang sama seperti yang Jack lakukan. Nikki dan Rahul langsung terdiam. Mereka tidak tahu, jawaban apa yang tepat dari pertanyaan yang Jack lontarkan.
Sementara itu di ruang utama Istana milik Raja Damendra, semua nampak dibuat terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh Raja dan Ratu mereka.
Bagaimana mungkin, Yang Muia."
"Itulah yang aku lihat, Ajudan. Mereka bercinta di depan mata saya dengan bahagia!"
"Tapi aku tidak yakin kalau pria itu utusan Dewa dan Naga."
"Aku sendiri juga bingung, Ajudan. Astaga!"
"Jika pria itu adalah utusan naga, bisa saja pria itu yang memegang batu bercahaya ungu, Yang mulia."
__ADS_1
...@@@@@...