NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Semua Nampak Terkejut


__ADS_3

"Ada apa dengan Putri Nafata?" tanya Ratu.


"Tadi ada yang mendengar Tuan Nikki teriak teriak menyebut nama Putri Nafata, Ratu."


"NIkki berteriak teriak menyebut nama Nafata? Memang apa yang terjadi?" kali ini Jack yang bertanya karena kaget mendengar ma Nikki di sebut.


"Kami kurang tahu, Tuan. Kemungkinan Putri Nafata menghilang lagi."


"Apa!"


Mendengar kabar dari pelayan, Jenita langsung saja bergegas beranjak menuju ke bangunan di belakang istana. Begitu juga dengan Jack, dia mengikuti langkah Jenita tanpa berniat menyapanya. Jack tahu, pasti suasana hati Jenita saat ini semakin bertambah buruk.


Sesampainya di tempat tujuan, ternyata disana sudah ada ajudan dan penasehat kerajaan serta beberapa pelayan dan penjaga istana. Semua langsung memberi hormat begitu Jenita sampai di temqat mereka berkumpul.


"Bagaimana, Tuan Nikki? Apa yang terjadi dengan putri Nafata?" tanya Jenita langsung kepada pria yang terduduk sambil menunduk.


Mendengar pertanyaan dari Jenita, Nikki langsung saja mendongak. Wajahnya sudah terlihat sangat frustasi. "Aku kurang tahu, Ratu. Saat aku kembali, aku tidak menemukan Putri Nafata dimanapun."


"Kok bisa!" seru Jenita langsung merasa kesal. Dia lalu menoleh ke arah Insana. "Bukankah terakhir tadi Putri Nafata masih bersama kamu, kan, Insana?"


"Iya, Ratu, tapi setelah Ratu pergi, Putri Nafata pamit ke dalam kamar, terus saya pergi ke dapur untuk menyiapkan buat para pria," jawab Insana apa adanya meski ucapannya agak terbata karena merasa takut.


Jenita langsung menghembukan nafasnya secara kasar, lalu dia memerintahkan semua penjaga dan pelayan istana untuk mencoba kembali mencari Putri Nafata sebelum berita keberadaanya berada dikatahui orang luar.

__ADS_1


"Sekarang Ratu lihat sendiri, kan? Pria pria ini tidak bisa dipercaya? Kenapa Ratu malah memberinya kesempatan? Mereka diam diam menyembunyikan Putri Nafata dan sekarang mereka malah menghilangkannya. Sudah pasti, mereka bertiga itu pengkhianat!" seru sang Ajudan dengan lantang dan berapi api.


"Justru kami menyembunyikannya karena kami ingin melindungi Putri Nafata! Anda jangan asal bicara! Anda seharusnya buka mata dan telinga. Tanyakan pada Ratu Jenita dan Insana, berkat siapa Putri Nafata sembuh dari sihir Raja Roma! Tanya!" Jack yang tidak terima dengan ucapan si ajudan, amarahnya langsung meluap begitu saja.


"Kau ..."


"Apa!" bentak Jack saat Ajudan hendak menghardiknya. "Anda tidak terima? Beraninya cuma mengancam, mentang mentang punya kedudukan tinggi di Istana."


"Diam!" teriak Jenita dengan mata melotot ke arah Jack. "Bisa diam tidak?"


"Tapi, Ratu, dia ..."


"Diam!" bentak Jenita lagi hingga Jack berhenti merengek.


"Benar, merekalah yang telah menyembuhkannya," balas Jenita tanpa menatap ketiga pria itu. Semua yang mendengar jawaban Ratu tentu saja merasa kaget. Terutama sang Ajudan.


"Bagaimana mungikin, Ratu?" tanya Ajudan dengan wajah tak percaya. "Bukankah kesembuhan Putri Nafata adalah tanda adanya batu bercahaya ungu? Lalu dimana batu bercahaya ungu sekarang?"


"Nih!" ucap Jack sambil menunjukkan kalungnya. Semua mata yang ada disana seketika membelalak sempurna. "Aku dan dua temanku yang anda tuduh pengkhianat, memilki batu yang kalian cari."


"Bagaimana mungkin?" Sang Ajudan masih tidak bisa mempercayainya.


"Tapi itu benar, Ajudan. Merekalah yang membebaskan Putri Nafata," ucap Jenita, dan berhasil membungkam mulut Ajudan.

__ADS_1


"Lalu? Kenapa Putri Nafata menghilang lagi? Apa terjadi sesuatu sebelumnya?" tanya penasehat.


Sebelum menjawab, Jenita menoleh ke arah Rahul yang sedang menatap ke arahnya dan Nikki yang sedang menunduk karena merasa bersalah pada Nafata. Tapi Jenita sama sekali tidak melayangkan matanya ke arah Jack.


Sedangkan Jack, dia terus menatap Jenita dengan perasaan yang tidak menentu. Rasa percaya diri yang tadi dia tunjukkan, seketika luntur dan menjadi rasa bersalah dan rasa iba saat dengan mata kepalanya sendiri melihat Jenita harus kuat di depan rakyatnya.


"Mungkin Putri Nafata takut dikhianati lagi, jadi dia memilih menghilang," ucap Jenita. Semua merasa kaget dengan jawaban Jenita. Bahkan Nikki sampai mendongak dan menatap ke arah Jenita.


"Takut di khianati?"


"Itu perkiraan saya saja. Benar atau tidaknya saya tidak tahu," balas Jenita lalu dia memerintahkan salah satu penjaga istana untuk menyiapkan kuda.


"Ratu mau kemana?"


"Aku mau ke suatu tempat, mungkin saja Putri Nafata ada di tempat itu."


"Aku ikut!" Jack mengeluarkan suaanya.


Jenita yang sudah beranjak dua langkah kaki, langsung berhenti dan menoleh ke arah Jack. "Tidak perlu. Anda urus saja pelayan pelayan sesuai keinginan anda. Anda jangan terlalu peduli dengan apapun yang terjadi pada kerajaan ini."


Deg!


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2