NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Harta Yang Tersembunyi


__ADS_3

"Oh iya, Putri, aku tuh mau tanya, tapi tolong putri Nafata jangan berpikri yang macam macam."


"Tanya apa?"


"Ini soal harta tersembunyi, apa benar, di pulau ini ada harta itu?"


"Benar, disini memang ada harta yang tersembunyi, tapi itu sangat berbahaya."


"Berbahaya? Berbahaya bagaimana?" semua nampak terkejut mendengar jawaban dari Putri Nafata, bukan hanya tiga pria yang ada disana, tetapi juga Insana dan Jenita.


"Harta itu bisa mengancurkan pulau ini," ucap Putri Nafata. Semua yang mendengarnya nampak mengerutkan kening, seakan menuntut penjelasan yang lebih jelas lagi. Nafata kembali mengulas senyum dan mengerti akan arti tatapan semua yang ada di sana.


"Kerajaan Kagomara memang menyembunyikan harta yang sangat melimpah, terutama, berlian, mutiara dan kepingan emas. Tetapi harta itu tidak bisa kita ambil sesuka hati kita. Para leluhur sengaja merancang tempat harta itu untuk menghindari bencana. Jika harta itu di ambil karena sebuah keserakahan, maka sudah dipastikan harta itu akan lenyap bersama Pulau ini."


Semua tercengang mendengar penjelasan dari Putri nafata. Mereka masih berusaha mencerna penjelasan itu. "Bisa menimbulkan bencana? Bagaimana bisa?" tanya Rahul.


"Saya sendiri juga awalnya tidak mengerti, tapi saat saya melihat sendiri harta tersebut, memang ada sebuah simbol dimana simbol itu menunjukkan ada bagian harta yang sangat dilarang untuk diambil. Jika harta itu di ambil maka bencana besar akan melanda pulau ini."


"Emang letak hartanya ada dimana?"


"Ada di salah satu sisi, di dalam gunung berapi yang ada di pulau ini. Kalian pasti tahu, kan? Gunung yang mana?"

__ADS_1


"Apa? Gila? Kok bisa?" berbagai reaksi ditunjukan dari lima orang yang ada disana.


"Suatu saat, aku akan menunjukanya. Jika kalian memang masih bisa dipercaya. Karena saya sendiri takut, gara gara harta itulah, Pulau ini banyak yang mengincarnya."


"Termasuk ayahku," Jenita menimpali. Bukannya tersinggung, tapi memang seperti itulah keadaannya. "Hingga detik ini, ayahku masih saja menyuruhku untuk mencarinya."


Jack yang melihat perubahan wajah Jenita menjadi sedih, langsung meraih kepala wanita itu dan menengggelamkannya ke dalam pelukan.


"Selama masih bersama Dayang Amuba, ayahku tidak akan pernah sadar dari kesalahannya," Jenita terus mengungkapkan kekesalan dan rasa kecewanya.


"Sudah, nggak apa apa, kita hadapi sama sama ayah kamu, ya?" Jack mencoba memberi ketenangan pada Jenita dengan perkataan lembut dan berusaha menguatkan hati wanita itu.


"Maafkan aku, Putri, gara gara ayahku ..."


"Benar, Ratu, kamu tidak salah. Jangan terlalu membebani pikiranmu dengan hal yang tidak pernah kamu lakukan," Nafata pun ikut bersuara agar Jenita merasa tenang dan menghilangkan rasa bersalahnya.


"Tuh, dengar! Putri Nafata saja mengerti, mana yang salah dan mana yang benar. Sudah ya?" ucap Jack.


"Hati kamu terbuat dari apa sih? Bisa baik banget begini?" puji Nikki setelah meraih dan menggenggam tangan Nafata.


"Ya sama seperti hati Tuan Nikki," balas Nafata seraya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ugh! Kamu benar benar paket komplit, Putri. Udah cantik, baik dan juga bijaksana," Nikki juga langsung menenggelamkan Nafata ke dalam pelukannya.


"Jangan salah! Hati Insana juga baiknya tidak terkira," Rahul pun tak mau kalah. "Meskipun dia anak Jenderal, tapi dia rela jadi pelayan, bahkan nyawanya hampir hilang sebagai tumbal. Padahal, apa yang dia alami juga sama beratnya."


"Apaan sih, Tuan," rajuk Insana dengan wajah memerah karena malu. Tapi hatinya cukup senang karena ada pria yang memujinya.


"Loh? Tapi bener, kan?" ucap Rahul sambil memandang wanita yang sedari tadi menempel kepadanya. "Kamu juga wanita yang hebat. Kamu tidak angkuh mesti kamu putri seorang Jenderal. Kamu bersedia menjadi pelayan tanpa peduli kamu anak siapa. Aku bangga sama kamu."


"Tuan terlalu berlebihan."


"Loh nggak apa apa, yang penting kan, apa yang aku katakan adalah sebuah fakta yang tidak bisa dibantah kebenarannya," balas Rahul dengan suara yang sangat lantang.


"Iya, iya, terserah Tuan Rahul saja deh."


"Astaga! Kamu ini, harusnya kamu senang loh. Malah kayak gitu," Rahul langsung memasang wajah cemberut.


"Iya, iya. Ya udah, lebih baik kita istirahat yuk," ajak Insana.


Senyum Rahul langsung merekah seketika dengan wajah yang berbinar. "Wah! Kode alam nih, ayok!" Rahul langsung menoleh ke arah Nikki dan Jack. "Kita ke kamar dulu, mumpung kita lagi anget angetnya nih, Bye."


Nikki dan Jack hanya menjawab dengan senyuman yang sangat lebar.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2