
"Enak?".
Satu pertanyaan muncul dari mulut pria yang baru saja menodai bibir wanita yang sama sekali belum pernah tersentuh oleh pria manapun. Wanita itu sontak mendelik dan mendengus serta kembali berusaha melepaskan diri.
"Tolong, Tuan! Lepaskan badan saya! Saya mohon."
Senyum Rahul semakin melebar karena rasa gemas akibat sikap yang ditimbulkan Insana. Melihat wanita itu sampai memohon, ada rasa tak tega yang hadir dalam hati pria itu. Namun entah kenapa rasa ego dalam jiwa Rahul menginginkan terus berada dalam posisi seperti itu.
"Tempelin bibir kamu lagi, kali ini aku janji, aku bakal lepasin kamu," balas Rahul malah memberi penawaran.
"Tidak mau!" tolak Insana lantang.
"Ya sudah, berarti kita akan begini terus sampai malam."
"Tuan ..."
"Makannya nurut. Cepat!"
Mau tidak mau dan dengan sangat terpaksa, Isnana perlahan memajukan wajahnya hingga bibir Insana dan bibir Rahul menempel. Meski bibir Insana hanya diam, tapi tidak dipungkiri, dalam hati wanita itu merasakan kehangatan dan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan. Bahkan tanpa sadar, mata Insana sampai terpejam menikmati setiap gerakan bibir Rahul.
Begitu Insana tersadar dari pengaruh rasa nikmat itu, dia langsung melepas bibirnya. Rahul terbahak dan mengurai tangannya hingga Insana langsung bangkit dan berjalan cepat menahan kesal dan malu. Rahul pun langsung bangkit dan mengejar wanita itu serta meledeknya.
"Enak ya?"
"Tidak!"
__ADS_1
"Ngaku aja, jangan malu?"
"Saya bilang tidak ya tidak, Tuan!"
"Di mulut bilang tidak, tapi di hati bilang iya. Dasar wanita."
"Apa sih? Hih"
"Hahaha ..."
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi gerak gerik mereka dengan tatapan heran. Banyak pertanyaan yang timbul dalam benak sosok tersebut saat mengawasi interaksi dua sejoli itu. Sosok itu lantas pergi menuju ke tempat dia dan pasanganya bersembunyi.
"Bagaimana, suamiku? Kamu melihatnya?" tanya Naga betina begitu melihat naga jantan datang.
"Aneh kenapa?"
Naga jantan menatap naga betina lekat lekat. "Sepertinya kutukan itu telah hilang, istriku."
"Apa kamu tadi melihat mereka sedang ..."
"Tidak, tapi dari gerak gerik yang mereka tunjukkan, seperti sebuah pertanda kalau kutukan itu telah hilang."
Mendengar jawaban dari naga jantan, rasa gelisah langsung menyergap relung hati naga betina. Dia terdiam seperi kehabisan kata kata dengan adanya kabar tersebut.
"Jangan bersedih, istriku," ucap naga jantan yang menangkap kegelisahan dihati istrinya. Digenggamnya tangan wanita yang sangat dia cintai agar suasana hati istrinya merasa damai. "Semua ini baru dugaan. Kita harus menyelidikinya lebih dalam lagi, istriku."
__ADS_1
Naga betina menoleh dan menatap suaminya. Samar samar senyumnya terkembang. "Aku tidak apa apa, suamku."
Naga jantanpun ikutan mengulas senyum. "Sepertinya, kita harus masuk ke perkampungan pulau ini, istriku. Kita harus cari tahu, apa yang sebenarnya terjadi."
"Kenapa kita tidak berubah saja ke wujud kita, suamiku? Bukankah mereka pasti akan takut dan mematuhi semua perintah kita?" ucap naga jantan memberi saran."
"Tidak," tolak naga jantan sembari menggeleng. "Ingat, istriku, batu bercahaya ungu masih berada di tangan manusia. Kita harus lebih hati hati dalam bertindak."
"Ah iya, aku lupa. Maaf, suamiku, aku hanya ..."
"Tidak perlu minta maaf, saya tahu. Baiklah, sekarang kita siap siap mendatangi kampung utama pulau ini."
"Baiklah."
Sementara itu di pulau lain, terlihat sebuah perdebatan seorang pria dan wanita di sebuah kamar dalam sebuah istana. Wajah keduanya terlihat sangat tegang dan saling menatap tajam dan mulutnya melontarkan kata kata yang pedas.
"Anda itu ayah Jenita Raja. Bertindak tegaslah pada putri anda. Ingat! Kerajaan kita sangat membutuhkan harta itu. Namun sikap Anda terlalu lemah, makanya Jenita mudah melawan," ejek wanita itu terang terangan.
"Yang butuh harta itu kerajaan atau kamu, Ratu Amuba?" ucap Raja Damendra penuh penekanan dan rasa kesal. "Jika kamu tidak suka berpesta, kita tidak akan mengalami nasib seperti ini!"
"Apa? Anda menyalahkan saya? Ingat Raja Damendra, kalau bukan karena bantuan saya, anda tidak akan pernah menjadi raja. Camkan itu!" Amuba langsung pergi meninggalkan Damendra yang sedang mengepalkan tangannya dengan tatapan penuh amarah.
"Sial! Dia selalu ngancam saya! Menyesal aku telah kerja sama dengan wanita ular itu!"
...@@@@...
__ADS_1