
"Aakkhh ..."
"Kenapa kamu suka sekali posisi ini sih, Sayang?"
"Posisi ini enak, Tuan. Aku seperti terbang melayang."
Senyum seorang pria seketika terkembang dengan manisnya. Dia lalu membiarkan tubuh wanita yang sedang duduk di pangkuannya, bergerak naik turun dengan benda menegang yang tertancap sempurna di dalam lubang milik wanita itu.
"Aakkh ... ughhh ... ssshhhtt ..."
Suara rintihan nikmat yang awalnya perlahan, kini mulai terdengar lebih cepat bersamaan dengan gerakan naik turun yang dilakukan si wanita. Sedangkan si pria tetap duduk manis dengan mata terus menatap ke arah wanitanya. Sesekali tangan dan bibir pria itu menyentuh bukit kembar milik si wanita yang bergerak indah seirama dengan tubuh yang naik turun.
Hingga beberapa lama kemudian tubuh keduanya sama sama bergetar dan menegang saat cairan kental penuh cinta keluar dan melebur jadi satu di dalam lubang nikmat si wanita. Suara kenikmatan melengking memenuhi kamar mereka dan tak lama setelah itu tubuh si wanita ambruk di atas tubuh si pria. Nafas keduanya menderu hingga beberapa saat dan suasana mendadak hening.
"Puas?" bisik si pria lembut sambil mendekat tubuh si wanita yang mesih menempel kepadanya.
"Tidak, Tuan Nikki selau bikin aku ketagihan. Mana mungkin aku bisa puas," balas si wanita setelah nafas mereka berangsur pulih.
__ADS_1
"Astaga! Ada ada aja kamu calon ratu," ucap Nikki gemas.
Ya, setelah tadi sudah menjalin kesepakatan kalau istana akan diserahkan kembali ke pemilik yang sah, Jack dan kawan kawan memutuskan masuk ke kamar bersama wanitanya masing masing dengan alasan beristirahat karena sudah malam dan merasa lelah.
Namun pada kenyataannya, di dalam kamar masing masing, mereka lebih memilih melakukan hubungan badan terlebih dahulu daripada langsung memejamkan matanya. Seperti Nikki dan Nafata, yang baru saja memuntaskan hasratnya.
"Besok kamu sudah menjadi ratu, gimana perasaan kamu saat ini, Sayang?"
Sebelum menjawab pertanyaan Nikki, Nafata terlebih dahulu merubah posisi tidurnya menjadi berada disebelah Nikki tapi dengan badan yang masih menempel dan kepala berada di dada bidang laki laki yang selama ini melindunginya.
Nikki lantas tersenyum dan mengusap rambut wanitanya secara pelan. "Nggak apa apa, rasa takut itu wajar, karena kamu baru akan menjalaninya. Nanti kamu bisa mempelajarinya seiring waktu. Kamu bisa belajar dari Jenita serta orang orang disekitarmu yang mengetahui jalannya pemerintahan."
Nafata menghirup dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. "Ya, memang aku harus banyak belajar. Bagaimanapun juga, tidak ada pilihan lain, bukan?"
Lagi lagi Nikki mengulas senyum. "Ya udah, mending sekarang kita tidur ya? Udah malam banget. Apa lagi besok hari yang sibuk bagi kamu, Sayang."
Nafata pun setuju dan mereka langsung terdiam, menunggu rasa kantuk datang. Hingga tak lama kemudian, suasana kamar menjadi hening karena mata keduanya telah terlelap dengan tubuh yang menempel.
__ADS_1
Tanpa terasa waktupun berlalu dan kini hari baru kembali datang. Seperti yang telah direncanakan, Raja Damendra beserta Ratu Amuba dan beberapa pengawalnya, mendatangi kerajaan Kagomara. Setelah mereka menginap satu malam di istana milik Raja Roma, mereka lebih memilih langsung menuju istana Kagomara daripada pulang ke istananya sendiri. Tentu saja itu semua demi misi agar Raja Damendra bisa menguasai kekayaan Raja Roma. Dengan rencana yang telah tersusun dengan sangat matang, kini Raja Damendra dan Ratu Amuba bersiap menjalankan sandiwaranya.
Namun saat kapal Rombongan Raja Damendra mendarat di salah satu pantai di wilayah kerajaan Kagomara, mereka dibuat tercengang karena pantai terlihat sangat sepi. Biasanya pantai yang mereka datangi sangat ramai oleh aktifitas penduduk. Tapi kali ini, tidak ada seorangpun telihat di pantai tersebut.
Begitu juga saat mereka melanjutkan perjalanan menuju ke arah istana, Raja Damendra dan rombongan kembali dibuat tercengang dengan keadaan sekitarnya. Di sepanjang jalan yang mereka lewati, tidak terlihat satu orangpun berada di sana.
"Yang mulia, kok aku merasa aneh ya?" ucap Ratu Amuba. "Ini kenapa sepi sekali? Kemana para penduduk saat ini?"
"Aku juga merasa heran, Ratu," balas Raja Damendra. "Apa mereka sedang berkabung karena banyak yang tewas?"
"Ah iya, mungkin saja mereka sedang melakukan upacara kematian."
Raja Damendra nampak manggut manggut. Kesimpulan yang dikatakan Ratu Amuba memang masuk akal. Mereka pun terus melanjutkan perjalanannya hingga saat mereka hampir sampai di istana, mereka kembali dibuat tercengang.
"Kenapa di luar istana terlihat sangat ramai? Apa yang terjadi? Kok mereka terlihat bahagia?" hati Raja Damendra menjadi bertanya tanya.
...@@@@@...
__ADS_1