NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Terungkap Secara Perlahan


__ADS_3

"Sejak aku diasingkan disini, mereka bukan orang tuaku lagi. Mereka hanya makhluk egois dan serakah yang rela mengorbankan anaknya demi kepentingan mereka sendiri," ucap Ratu penuh dengan rasa benci. Bahkan Jack sempat terkejut mendengar ucapan kebencian itu.


"Serakah? Mana mungkin? Bukankah mereka kesini karena mereka rindu sama anda?"


"Hahaha ... rindu?" Ratu tergelak. "Mereka kesini hanya untuk mencari tahu, harta yang tersembunyi di Pulau ini."


"Apa! Harta?"


Ratu Jenita langsung menutup mulutnya dengan mata membelalak. Dia kelepasan dalam berbicara hingga tanpa sadar, dia mengatakan rahasia pulau ini kepada Jack. Jenita segera saja beranjak dan hendak pergi meninggalkan Jack, tapi dengan cepat Jack menahan tangannya.


"Lepas!" bentak Ratu dengan tatapan tajamnya.


"Tidak! Sebelum anda memberi tahu saya tentang harta yang anda ucapkan tadi!" balas Jack tidak mau kalah. Entah kenapa, sejak berada di pulau ini, Jack benar benar menemukan banyak hal terduga yang menumbuhkan rasa penasaran.


"Anda hanya salah dengar, Tuan! Sebaiknya anda fokus saja dengan perlindungan nyawa anda!"


Bukannya takut, Jack malah menyunggingkan senyum dan terkesan meremehkan. "Nyawa saya akan tetap bersama raga saya, Ratu. Sampai kapanpun!"


Ratu Jenita semakin melotot tapi dengan sengaja Jack menarik tangan Jenita hingga wanita itu terhuyung dan jatuh tepat di hadapan Jack. Mata mereka saling tatap dan mengunci dalam jarak yang sangat begitu dekat.


Dengan keberanian penuh, Jack memajukan wajahya dan menempelkan bibirnya pada bibir Jenita.

__ADS_1


Cup!


Mata Jenita langsung membelalak dengan jantung yang berdegup lebih cepat. Jack menyesap sejenak bibir Jenita lalu melepaskannya sambil tersenyum lebar.


"Sekarang, nyawa saya, telah saya bagi untuk anda, Ratu," bisik Jack lalu dia bangkit dan melepaskan tangan Ratu kemudian dia beranjak meninggalkan Ratu Jenita yang mematung.


"Argghh! Dia benar benar sengaja melakukannya!" erang Jenita begitu Jack tidak kelihatan. Namun wajah marahnya berangsur berubah menjadi wajah ceria dan malu malu sembari mengusap bibirnya.


Sementara itu Jack kembali ke tempat di mana dia tinggal. Karena benar benar tidak ada kerjaan, Jack berniat ingin mengistirahatkan tubuhnnya. Sesampainya di tempat tujuan, Jack melihat Rahul, Nikki dan Insana sedang bercanda di depan rumah yang Jack tuju.


"Dari mana, Jack?" tanya Rahul begitu Jack duduk bersama mereka.


"Cari angin. Bingung, disini mau ngapain. Nggak ada kerjaan sama sekali," keluh Jack.


"Insana, boleh saya bertanya?"


Insana sedikit kaget dengan pertanyaan Jack yang memasang wajah serius. "Silakan, Tuan. Mau tanya apa?"


"Kamu penduduk Pulau asli sini bukan?"


"Iya, Tuan, kenapa?"

__ADS_1


"Apa kamu tahu tentang harta yang tersembunyi di pulau ini?"


Sontak rasa terkejut langsung ditunjukkan oleh Insana. Nikki dan Rahul juga ikutan terkejut mendengarnya. Alih alih langsung menjawab, Insan malah memalingkan wajah yang tampak sedih.


"Insana," panggil Rahul.


"Apa anda datang ke pulau ini karena harta juga, Tuan?" tanya Insana dengan tatapan penuh selidik.


"Jadi disini banyak hartanya?" tanya Rahul dengan rasa terkejut yang semakin menjadi besar.


Insana menatap pria berwajah india itu dan dari ekspresi wajah Rahul dan pertanyaan yang terlontar dari bibirnya, adalah bukti kalau ketiga pria itu tidak tahu apa apa.


"Karena harta itu lah, semua malapetaka menimpa pulau ini," ucap Insana. Wajahnya kini nampak sedih bersamaan dengan cerita yang keluar dari mulutmya. "Karena harta itu, kedamaian pulau ini hilang, menjadi malapetaka bertubi tubi termasuk kutukan naga laut timur. Bahkan Raja Kagomara dikhianati habis habisan hingga dia meninggal oleh kerajaan lain. Satu satunya orang yang mengetahui dimana letak harta itu tinggal putri Raja Kagomara. Namun tidak ada yang tahu, dimana sang putri saat ini. Entah dia masih hidup, atau sudah tak bernyawa."


Jack mendengar dan mencerna dengan teliti cerita Insana. Lalu dia menyambungkan semuanya dengan kejadian yang dia alami seharian ini. Jack jadi teringat dengan wanita yang dipanggil Nafata oleh Ratu Jenita. Seketika Jack menyangkut pautkan nama Nafata dengan putri raja yang hilang.


"Apa kamu tahu? Siapa nama putri Raja yang hilang itu?" tanya Jack mencoba memastikan dugaan dalam hatinya.


Insana menatap Jack dengan wajah serius. "Namanya Putri Nafata."


Deg!

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2