NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Raja Roma Dan Empat Cenayang


__ADS_3

"Bagaimana?"


"Maaf, Yang Mulia."


"Saya tidak butuh maaf kalian! Yang saya butuhkan adalah batu bercahaya ungu!"


"Tapi kami sudah mencarinya kemana mana, Yang Mulia."


"Saya sudah tidak mau tahu! Pokoknya cari batu itu sampai ketemu!"


"Baik, Yang Mulia."


"Dan jangan lupa! Cari juga putri Nafata. Bukankah dia kunci untuk menemukan batu itu!"


"Hamba tahu, Yang Mulia. Bukankah lonceng itu belum berbunyi? Jadi kemungkinan putri Nafat belum sembuh juga."


"Ya sudah, sekarang kalian boleh pergi."


"Baik, Yang Mulia.


Raja yang terkenal dengan sifat arogan dan serakahnya itu nampak begitu emosi. Bertahun tahun sudah dia berburu untuk mendapatkan sebuah batu penuh kekuatan, belum nenemukan hasil sama sekali. Dia bahkan rela mengorbankan apapun demi mendapatkan batu yang memiliki kekuatan luar biasa.


Menurut legenda, nenek moyang kerajaannya pernah mendapatkan batu itu dan menjadikannya penguasa dunia yang tidak ada tandingannya. Dengan batu itu, semua yang di inginkan pasti akan sangat mudah terkabul. Namun sayang, batu itu berhasil direbut kembali oleh sang naga.

__ADS_1


Karena cerita itulah, Raja yang memiliki nama Raja Roma, bertekad mendapatkan batu itu kembali agar bisa menjadi legenda seperti nenek moyangnya. Demi ambisinya, dia mengorbankan sebuah kerajaan yang penuh cinta damai dan menjadikan kerajaan itu alat untuk meraih ambisinya.


Raja Kagomara dengan segala kedamaian penduduknya menjadi sasaran fitnah yang digunakan Raja Roma saat menyerang naga betina beberapa tahun lalu. Karena ulah dia lah, Raja Kagomara harus kehilangan nyawanya dan para penduduknya mengalami kesulitan hidup.


Penduduk kerajaan yang Roma pimpin juga mendapatkan imbas dari kemurkaan sang naga jantan dengan mendapat kutukan bagi rakyat wanitanya. Namun Roma bukannya takut dan prihatin, dia malah merasa tertantang unuk menaklukan kutukan tersebut dan semakin berambisi untuk mendapatkan batu bercahaya ungu.


"Anda kenapa, Yang mulia?" sebuah suara wanita mengejutkan Raja Roma yang sedang meredamkan amarahnya. Sambil menatap lonceng kecil di tangannnya. "Apa para cenayang berulah lagi?"


Raja Roma menghempas kasar nafasnya. "Cenayang tidak berguna!"


Wanita itu tersenyum lalu duduk dipangkuan Raja dan melingkarkan tangannya pada leher pria itu. "Bersabarlah, Yang Mulia. Saya yakin, dimanapun batu itu berada, batu itu akan tetap menjadi milik anda, Yang Mulia."


"Harus! Batu itu sudah ditakdirkan untuk saya! Tak akan saya biarkan siapapun untuk memilkinya!"


"Benarkah?" tanya sang Raja dengan wajah berbinar dan wanita itu mengangguk. "Baiklah, mari kita ke kamar!"


"Dengan senang hati, Yang Mulia."


Sementara itu empat orang yang baru saja di usir kedatangannya oleh sang raja, nampak sangat begitu kesal dan juga sangat frustasi. Sudah beberapa tahun ini, mereka selalu saja menjadi pelampiasan amarah sang Raja. Padahal berbagai usaha sudah mereka upayakan, tapi sampai detik ini, belum ada tanda tanda kalau usaha mereka membuahkan hasil.


Di kerajaan Roma, keahlian cenayang itu sudah tidak bisa diragukan lagi. Bahkan mereka pula yang sebenarnya bisa mendeteksi keberadaan naga pada saat itu hingga naga betina dapat mereka taklukan. Tapi untuk kali ini, mereka benar benar tidak bisa merasakan keberadaan batu bercahaya ungu itu hingga Raja Roma selalu murka kepadanya.


"Apa mungkin batu itu hilang dari dunia ini?" tanya cenayang satu saat mereka sedang beristirahat di sebuah gubug.

__ADS_1


"Hilang bagaimana? Bukankah kamu lihat sendiri saat batu itu dibawa seekor burung," balas cenayang dua.


"Iya, Saya tahu. Tapi kan kamu tahu sendiri burung itu entah pergi kemana saat itu," balas cenayang satu.


"Kalau menurut aku, batu itu pasti berada di dunia yang berbeda dengan kita," cenayang tiga ikut menyuarakan pemikirannya.


"Dunia yang berbeda dengan kita? Mana ada?" ucap Cenayang dua.


"Bisa saja ada, apa kalian tidak ingat pada saat itu ada awan gelap berpetir biru? Bukankah awan itu seperti menarik burung dengan sangat kuat hingga burung itu masuk ke dalamnya," terang cenayang tiga.


"Ah iya benar, saya ingat," ucap cenayang empat. "Tapi apa mungkin awan itu penyebabnya? Aku rasa tidak mungkin."


"Mungkin saja," balas cenayang tiga. "Bukankah setelah burung itu tertarik dalam pusaran angin di bawah awan gelap, burung itu langsung menghilang?"


"Benar juga apa kata kamu, terus kita harus bagaimana? Apa kita mencari awan itu dulu?"


"Sepertinya itu ide yang bagus."


"Baiklah, kalau begitu, mari kita mengembara lagi."


"Ayok!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2