NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Ketakjuban Para Warga


__ADS_3

Pada akhirnya apa yang terjadi di istana Kagomara mengundang rasa penasaran berbagai kerajaan yang mendengarnya. Kerajaan yang beberapa tahun silam telah ditinggalkan oleh kaum laki laki, kini rame kembali dengan datangnya para laki laki. Tentu perubahan yang sangat mencolok seperti itu mengundang rasa penasaran siapapun yang melintasi pulau tersebut.


Kedatangan tiga pemuda ke kerajaan tersebut tentu saja memiliki andil besar dari apa yang terjadi pada kerajaan Kagomara. Kerajaan yang awalnya sepi, kini menjadi ramai dan menjadi sorotan kembali. Beruntung, tiga pemuda itu bergerak cepat mengatur segala sistem yang berhubungan dengan pertahanan kerajaan tersebut.


Setelah langkah pertama berhasil memikat para lelaki, kini langkah berikutnya adalah memberi kekuatan kepada para lelaki dan wanita agar menjadi ahli bela diri dengan cara berlatih bersama. Tentu saja itu semua untuk menutupi satu hal tentang manfaat berendam di dalam air rendaman batu bercahaya ungu.


Yang mereka tahu, berendam di dalam air berwarna ungu hanya memberi ketahanan dan kekuatan agar mereka percaya diri dalam menghadapi musuh suatu saat nanti. Namun yang mereka tidak tahu, mereka menjadi ahli bela diri secara tidak sadar dan berkat keahlian tersebut, mereka menjadi punya percaya diri yang besar juga kesiapan mental untuk bertarung jika ada kerajaan lain atau seseorang yang mengusik mereka.


Hiiyaaat!


Hiyyaaat!


Hiyaaat!


Suara suara dari orang orang yang sedang berlatih, terdengar menggema di sebuah tanah lapang yang biasa digunakan untuk arena bertarung. Mereka tampak sekali bersemangat karena mereka merasakan perubahan saat melakukan beberapa gerakan bela diri. Seperti yang dirasakan lima pria yang sedang beristirahat setelah berlatih sedari tadi.


"Gila! Kenapa aku menjadi hebat begini?" ucap seorang pria antara percaya dan tidak percaya.


"Sama, aku juga tidak menyangka akan menjadi hebat seperti ini. Benar benar keajaiban," ucap pria yang lain menimpali.


"Apa ini ada hubungannya dengan air yang kita minum saat kita akan melakukan ritual menghilangkan kutukan pada wanita?"

__ADS_1


"Bisa jadi itu. Apa lagi setelahnya kita disuruh berendam di dalam air berwarna ungu. Mungkin saja semua proses yang kita lakukan menjadikan kita hebat seperti ini."


"Eh tapi ngomong ngomong kalian sadar tidak sih? Kalau semua ini sepertinya ada campur tangan pria yang tubuhnya penuh dengan gambar dan juga dua temannya?


"Nah iya, aku juga mikirnya gitu. Sepertinya dia memang orang hebat. Lihat saja gambar gambar pada tubuhnya, seperti sebuah simbol. Dan aku denger nih dari mulut wanita yang aku nikmatin mahkotanya, katanya pria itu dan temannya entah datang darimana. Tiba tiba mereka sudah ada di pulau ini. Awalnya mereka mau dihukum mati, tapi pria yang tubuhnya penuh gambar memberi janji kepada Ratu, kalau dia akan melenyapkan kutukan naga laut timur dan semua terbukti. Kita bisa melenyapkan kutukan naga berkat pria itu!"


"Berarti benar, dia bukan pria sembarangan. Kalau begitu, bagaimana kalau kita dukung pria itu menjadi Raja di pulau ini? Bukankah itu akan lebih bagus kalau pria itu menjadi raja?"


"Kalau itu aku setuju. Pria itu terlihat hebat disegala hal, sangat cocok jika jika dijadikan Raja."


"Setuju!"


"Aku juga!"


"Baiklah kalau semua pada setuju. Lebih baik kita juga bilang sama yang lainnya untuk mendukung rencana kita, bagaimana?"


"Ide bagus! Ayok kita bergerak!"


"Siap!"


Sekelompok pria itu akhirnya membubarkan diri. Mereka langsug menyebar dan menghasut semua orang untuk mendukung Jack menjadi Raja di kerajaan Kagomara.

__ADS_1


Di saat nama Jack sedang menjadi perbincangan, disaat itu juga pria bernama Jack justru sedang bertingkah seperti bayi. Di atas ranjang kamar utama istana Kagomara, Jack sedang asyik menikmati pucuk bukit kembar milik Jenita. Dia benar benar seperti bayi, jika pucuk itu dilepas, Jack akan merengek yang membuat Jenita menjadi gemas.


"Mau sampai kapan kita berada di dalam kamar terus, Tuan?" ucap Jenita dengan menahan segala kesabaran dalam dadanya.


"Sampai besok juga tidak apa apa," balas Jack acuh. Dia hanya melepas pucuk bukit kembar saat dia akan berbicara saja. Setelahnya, dia akan kembali menyesap pucuk kembar itu satu persatu.


"Astaga!" pekik Jenita. "Apa tidak bosen kamu menyedot dadaku terus? Dari semalam loh, nggak mau lepas."


"Kalau enak mana mungkin bosen, Sayang! Enak banget tahu dada kamu."


"Ya ampun!"


Di saat Jenita dan Jack sedang asyik berduaan, tiba tiba ada yang mengetuk kamar mereka.


"Ya! Ada apa?"


"Maaf, Ratu. Di luar ada Raja Damendra."


"Apa! Ayah datang lagi?"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2