
"Tapi memang kenyataannya seperti itu, Tuan. Ternyata mereka prajurit wanita yang hebat. Apa lagi mereka dibantu Naga dari laut timur. Makin kuatlah mereka."
"Apa! Kerajaan Kagomara dibantu oleh Naga laut timur?" seru Raja Damendra semakin ternganga tak percaya.
"Benar, kalau Tuan tidak percaya, Tuan datang saja ke sana," ucap sang prajurit, lalu dia bergegas pergi menyusul yang lainnya.
Sedangkan Raja Damendra sendiri masih terbungkam setelah mendengar informasi yang sangat mengejutkan. Bukan hanya Raja Damendra, Ratu Amuba dan yang lainnya juga mengalami keterkejutan yang sama saat ini. Mereka tidak menyangka kalau kerajaan yang selama ini dipimpin Jenita mendapat dukungan dari seekor Naga.
"Bagaimana ini, Yang mulia? Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ratu Amuba dengan wajah paniknya.
"Aku sendiri tidak tahu, Ratu. Ini benar benar tidak terduga," balas Raja Damendra.
"Jika Naga dari laut timur membantu kerajaan Kagomara, berarti benar kalau pria asing itu utusan dewa dan naga, Yang mulia. Apa kita sebaiknya datang lagi ke sana?"
"Datang ke Kerajaan Kagomara?" tanya Raja Damendra dengan suara keras, dan Ratu Amuba mengangguk dengan yakin. "Apa kamu siap? Kita dipermalukan kembali oleh orang asing itu?"
__ADS_1
Ratu Amuba sontak terbungkam. Dia juga tidak mau dihina lagi seperti beberapa waktu lalu. Meski begitu, otak wanita itu langsung berpikir keras mencari jalan keluarnya.
"Bagaimana kalau kita pura pura mengajak damai? Aku yakin mereka tidak tahu kalau kita sudah mengetahui tentang kondisi ratu Jenita. Kita pura pura minta maaf sama Tuan Jack dan bilang ingin berdamai serta bersekutu dengan Raja Kagomara. Bayangkann saja kalau kita berhasil, kita bisa ajak mereka bekerja sama, untuk menguasai kerajaan milik Raja Roma, bagaimana?"
Raja Damendra pun memandang Ratu Amuba sembari berpikir. Apa yang dikatakan sang Ratu memang ada benarnya. Berhubung Raja Roma telah kalah, berarti kerajaan ini tidak ada pimpinannya. Tak terbayang nilai kakayaan yang dimiliki Raja Roma, pasti sangat melimpah. Jika kerajaan ini jatuh ke tangan Raja Damendra, sudah pasti ini akan sangat menguntungkan bagi Raja tersebut.
"Apa Ratu yakin, kali ini kita berhasil?" tanya Raja Damendra.
"Aku yakin, Yang mulia. Asal kita harus benar benar terlihat meyakinkan, aku yakin kita bisa meyakinkan mereka. Kita pura pura tidak tahu kalau Raja Roma telah kalah. Kita bisa bilang kalau kita habis diserang Raja Roma sebelum mereka. Aku merasa hal itu akan membantu kita untuk meyakinkan mereka, Yang mulia," ucap Ratu Amuba semakin yakin dan sangat antusias.
"Baiklah," ucap Raja Damendra pada akhirnya. "Besok setelah pulang dari sini, kita langsung saja menuju istana Kagomara."
Di malam yang sama, di istana Kagomara, semua nampak terkejut mendengar penuturan Jenita, terutama Putri Nafata.
"Apa kamu yakin?" tanya Jack.
__ADS_1
"Sangat yakin sekali," ucap Jenita dengan senyum yang merekah tanpa keraguan. "Aku akan mengembalikan istana kepada orang yang berhak memikinya. Kerajaan ini akan akan aku serahkan Kepada pemilik aslinya."
"Tapi, Ratu Jenita ..." ucap Nafata.
"Eh! Tidak ada kata tapi tapi," Jenita segera memotong ucapan Nafata. "Sekarang Istana ini sudah aman. Berarti sudah saatnya kamu kembali ke takdirmu, Putri Nafata. Mau tidak mau, inilah takdir yang kamu dapatkan dari Dewa. Sekeras apapun kamu menolaknya, ini sudah menjadi jalan hidupmu. Maka itu aku minta, terimalah Takdirmu, putri. Sudah saatnya kamu harus menghadapi dunia sebagai Ratu, sebagai pemimpin kerajaan. Aku harap dan aku mohon, kali ini, kamu jangan menolaknya, putri Nafata."
Nafata memandang lekat ke arah Jenita yang sedang tersenyum kepadanya. Lalu dia mengedarkan pandangan ke yang laianny, dan mereka tampak tersenyum sembari menyemangati. Kemudian tatapan mata Nafata berhenti tepat saat menatap Nikki.
Sama dengan yang lainnya, Nikki juga tersenyum dan menggengam tangannya. "Terima saja, apa yang dikatakan Ratu Jenita benar. Kini sudah saatnya kamu tampil sebagai ratu. Ya?"
Nafata masih terbungkam, dan otaknya juga masih berpikir dan menimbang. Memang benar, Nafata adalah penerus asli kerajaan Kagomara, jadi tidak ada alasan yang tepat jika dia ingin menghindarinya. Dia hanya sendiri dan satu satunya keturunan asli dari penguasa kerajaan ini. Berarti memang sudah sepantasnya Nafata yang memikul tanggung jawab atas berlangsungnya kerajaan Kagomara.
"Baiklah," ucap Nafata setelah beberapa saat tadi dia terdiam. "jika itu memang yang terbaik, saya terima dan saya siap menjadi pemimpin kerajaan ini."
"Yeeeh!" Rahul bersorak paling keras. Semua nampak senang dengan keputusan yang di ambil Nafata.
__ADS_1
"Baiklah, Putri Nafata. Besok kita lakukan upacara pelantikannya," ucap Jenita dengan wajah yang berbinar bahagia.
...@@@@@...