NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Bikin Iri Saja


__ADS_3

Setelah melalui paginya dengan masing masing wanita yang sedang dekat. Jack dan Rahul bergegas menemui Nikki untuk mengetahu hasil dari apa yang Nikki lakukan semalam pada wanita yang berada di dalam kamarnya. Betapa terkejut dan senangnya mereka saat melihat Nafata terbebas dari apa yang selama ini mengikat tubuhnya.


"Hebat! Benarkan yang aku bilang, merendam batu ini adalah solusinya!" seru Rahul yang merasa puas dengan hasil bagus dari ide yang dia usulkan.


"Saya pikir, Tuan Nikki akan membunuh saya, tapi dia malah membantu saya buat lepas dari belenggu Raja Roma,," ucap Nafata dengan senyum ceria yang enggan memudar.


"Lalu, apakah ada kabar baik lainnya, Nik?" Jack melontar pertanyaan.


"Kabar baik apa?" balas Nikki bingung.


"Apa kamu semalam tidak melakukan hubungan badan dengan Nafata?" sambung Jack berterus terang hingga membuat wajah Nafata bersemu malu.


"Ah iya, kamu semalam mencobanya nggak, Nik? Siapa tahu, kutukan naga hilang juga?" sambung Rahul.


"Tidak, Nafata melarangnyaa," balas Nikki agak lesu, hingga membuat Nafata merasa tidak enak hati. Wanita itu menatap lekat pria disebelahnya dengan peraaan tak menentu.


"Kenapa kamu melarangnya?" tanya Rahul agak ketus kepada Nafata. "Harusnya kamu membiarkan Nikki mencobanya. Aku yakin kutukan itu pasti sudah hilang dengan cara seperti itu?"


"Anda yakin?" tanya Nafata dengan menatap tajam Rahul. "Kalau anda yakin itu berhasil, silahkan anda yang melakukannya terlebih dahulu. Jika anda berhasil, maka saya bersedia menyerahkan diri saya untuk Tuan Nikki."


Rahul sontak melongo, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kenapa saya?"


"Karena anda yang mengusulkannya! Bukankah lebih baik sekalian and yang mencobanya," balas Nafata. "Anda tidak berani bukan?"


"Sudah, sudah ... janngan berdebat," lerai Nikk.

__ADS_1


"Menyebalkan! Sesama teman jangan egois! Anda ingin teman anda meregang nyawa kalau gagal? Anda hanya meyakini diri anda sendiri tanpa berpikir keselamatan temannya," Omel Nafata.


"Nafata," ucap Nikki sambil mencoba meredam amarah wanita itu. Sedangkan Rahul terbungkam dan terkejut dengan ucapan Nafata. Dari sikapnya, sepertinya Nafata tidak terima dengan usulan Rahul.


"Sudah, ya?" bujuk Nikki sambil mangusap punggung Nafata lalu menggenggam tangan wanita itu.


Mata Rahul sontak membulat melihatnya. "Kalian pacaran? Owalah! Pantes Nafata kayak marah."


"Pacaran? Apa itu pacaran?" tanya Nafata sambil menoleh menatap Nikki.


"Kamu tidak tahu pacaran?" Nafata menggeleng. "Pacaran itu, hubungan pria dan wanita yang saling mencintai sebelum terjadi pernikahan."


Kening Nafata berkerut sembari mencerna ucapan Nikki. "Maksud anda menjalin asmara?"


Nafata mangangguk empat kali lalu menatap tajam Rahul. "Kita tidak menjalin asmara, tapi mulai semalam kita sepakat akan selalu tidur bersama dalam satu ranjang. Jadi saya tidak mau kehilangan Tuan Nikki hanya gara gara mencoba berhubungan badan."


"Ah! Senangnya kalian! Jack juga akan tidur dengan ratu terus, sedangkan aku, susah banget ngajak Insana tidur bareng," gerutu Rahul.


"Insana?" tanya Nafata dengan mata membulat.


"Iya, kenapa?" tanya Rahul kaget. Begitu juga dengan Jack dan Nikki.


"Insana ada disini?" tanya Nikki lagi memastikan.


"Iya, kamu kenal?"

__ADS_1


"Insana, putri dari Jenderal Arda, sahabat ayah saya dan orang yang paling setia."


"Insana anak jenderal?" tanya Jack dengan wajah terkejutnya. Begitu juga dua pemuda lainnya.


Nafata dengan sangat pasti mengagguk. "Dimana dia?"


"Dia ada di luar," jawab Rahul.


"Apa saya boleh ketemu?" kali ini Nafata menatap Nikki seperti sedang memohon.


"Apa kamu sudah siap keluar kamar?" Nikki malah bertanya balik.


"Tapi aku ingin bertemu Insana dan Jenita," rengek Nafata sambil menggenggam tangan Nikki dengan erat. "Tuan, ya? Ijinkan saya bertemu mereka, ya? Tuan? Ya?"


Nikki senyum senyum, Jack geleng geleng kepala, Rahul mencebikan bibirnya.


Nikki mengangguk, Nafata langsung bersorak. Hore!" lalu Nafata langsung melingkarkan tangannya di leher Nikki. "Terima kasih, Tuan."


"Tapi bertemunya di dalam kamar ini saja ya?" pinta Nikki


"Baik, terima kasih, Tuan," balas Nafata tanpa mau melepas pelukannya.


"Sial! Bikin iri aja," sungut Rahul.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2