
"Maaf, Ratu. Saya mengganggu waktu anda."
"Ada apa, penjaga?"
"Saya mau melaporkan sesuatu, Ratu."
"Melaporkan sesuatu? Katakan?"
Penjaga Istana lantas menceritakan apa yang baru saja di saksikan. Jenita dan yang lainnya, yang saat itu sedang duduk di salah satu sisi arena pertandingan, merasa terkejut luar biasa. Jenita yang paling tidak menyangka, ayahnya akan berbuat sejauh itu demi ambisinya.
"Baiklah, terima kasih atas laporannya. Kamu boleh pergi dan awasi terus mereka," ucap Jack yang sedang menenangkan Jenita karena sangat terpukul mendengar laporan dari penjaga istana.
Sang penjaga Istana langsung pergi untuk melanjutkan tugasnya. Sedangkan Jack dan yang lainnya merasa iba melihat Jenita yang begitu syok dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Sudah, Ratuku. Sabar ya? Aku yakin semua akan baik baik saja," ucap Jack sembari mengusap kepala Jenita dengan lembut. Sang Ratu tidak bereaksi, mulutnya masih terbungkam, tak ingin mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku yakin, ini pasti ada campur tangannya Ratu Amuba," ucap Nafata. "Kalau hanya Raja Damendra, tidak mungkin akan kepikiran cara cara licik seperti itu."
"Darimana kamu tahu, Putri?" tanya Nikki.
"Kata ayahku, sebenarnya Raja Damendra itu lebih suka kekerasan. Dia lebih baik bertarung daripada pakai cara seperti ini. Main halus dan pengecut. Jadi kalau ada hal hal semacam ini, aku yakin ini ada campur tangannya Ratu Amuba."
"Astaga! Bener benar ya?" ucap Rahul geram. "Ambisinya terlalu gede sampai mau melakukan apapun demi kekuasaan."
"Mungkin dulu, ibuku juga diracun seperti itu," kelima orang yang ada disana langsung membeliakkan matanya mendengar ucapan tiba tiba. "Tiba tiba ibu terjatuh saat sedang makan malam. Padahal yang lain menikmati makanan yang sama seperti yang ibu makan."
__ADS_1
"Astaga! Kamu serius?" tanya Nafata.
Jenita mengiyakan. "Tak lama setelah Ibu meninggal, Ayah menikah dengan Ratu Amuba. Sungguh, mereka benar benar jahat. Mereka keterlaluan hiks ... hiks ..."
"Sudah, sudah," ucap Jack. "Sepertinya aku harus memberi pelajaran pada Ratu Amuba."
"Maksudmu, Jack?" tanya Nikki.
"Dia sudah bertindak terlalu jauh, jadi saya harus memberinya pelajaran."
"Caranya?"
"Ikuti saja permainan yang sedang dia rencanakan, lalu ..." Jack menceritakan rencana yang seketika muncul dalam otaknya karena melihat kesedihan dan kekecewaan Jenita.
"Ide yang masuk akal, kita bisa lihat bagaimana Raja Damendra saat Ratu Amuba tidak ada," ucap Nafata.
"Oke!"
Ke enam anak manusia itu pulang ke kerajaan dengan berjalan kaki, karena memang jarak arena latihan dan istana cukup dekat. Hingga sampai istana, Jack memanggil beberapa pelayan dan penjaga lalu memberi tahu rencananya kepada mereka. Setelah semuanya mengerti, para penjaga dan pelayan langsung membubarkan diri dan melakksankan tugas masing masing.
Tak lama kemudian dua wanita itu datang dan memberi salam pada Jenita.
"Loh, kalian disini?" tanya Jenita yang memang mengenali dua dayang ayahnya itu karena mereka sering ikut berkunjung kesitu bersama Raja Damendra.
"Iya, Yang mulia. Kami hanya ingin bertemu dengan teman teman di sini."
__ADS_1
"Oh begitu. Baiklah, silakan."
Setelah itu Jenita dan yang lain masuk dan menuju meja makan. Dua wanita itu bukannya pergi tapi mencari tempta untuk mengintip dan terus mengawasi gerak gerik pemuda incaran mereka. Keduanya cukup senang saat melihat Jack membalik piring yang sudah di olesi cairan racun. Jack juga menggunakan sendok yang dilumuri racun juga.
"Ternyata kita tepat sasaran ya?"
"Benar, nggak sia sia kita ngajak ngobrol para dayang tentang kebiasan pria itu."
"Hihihi ... sekarang tinggal nunggu kabar baiknya saja."
"Betul!" dan keduanya sontak tertawa bersama sambil terus mengawasi meja makan. Tanpa mereka sadari, gerak gerik mereka sedang di awasi.
Jack pun terlebih dahulu mulai mengisi piring dengan nasi dan beberapa lauk dan langsung melahapnya meninggalkan teman temannya. Hingga beberapa saat kemudian Jack mulai berackting keracunan.
"Jack!" pekik Jenita
"Jack! Kamu kenapa?" tanya Nikki dan semua memasang wajah panik.
"Tolong! Tolong!" teriak mereka semua. Tentu saja orang orang langsung berhamburan mendekat termasuk dua wanita itu. Diam diam mereka tersenyum menyaksikan Jack kejang kejang.
"Lebih baik kita segera pergi dan memberi kabar bahagia ini kepada Ratu," ucap salah satu wanita itu sambil berbisik.
"Baiklah, Ayo!" dan mereka diam diam langsung pergi. Begitu mendapat kabar dua orang itu keluar dari istana, Jack langsung bangun dan semua yang panik tadi langsung tersenyum.
"Sekarang lanjut rencana berikutnya."
__ADS_1
...@@@@@...