
"Masih sakit, Sayang?" Jenita menggeleng dan Jack tersenyum senang. "Sekarang aku masukin lagi ya?" dan Jenita mengangguk.
Jack langsung duduk diantara dua kakinya. Setelah puas membangkitkan hasrat Jenita, kini tiba saatnya dia menuntaskan hasrat dirinya. Jack mulai mengusap usap lubang nikmat dengan ujung benda miliknya yang sudah sangat menegang. Tidak butuh waktu lama Jack langsung saja mengaragkan benda menegang miliknya masuk ke dalam lubang yang masih sangat sempit itu.
"Akhh ... ini terlalu enak!" racau Jack dengan lantang begitu punya miliknya masuk sempurna tanpa ada sisa. Setelah diam sejenak, pinggang Jack perlahan langsung bergerak maju dan mundur secara teraturan.
Di tatapnya tubuh Jenita yang mulai menggeliat mengekpresikan rasa nikmat yang luar biasa. Jack menyeringai dan dia mencondongkan badannya lalu mendaratkan bibirnya di leher kanan Jenita. Wanita itu merengkuh tubuh Jack.
"Nikmat sekali, Tuan," bisik Jenita dengan suara yang terdengar sangat seksi.
Jack menatap wajah Jenita. "Mulai sekarang, rasa nikmat akan terus aku berikan, Sayang. Kamu mau, kan?" Jenita mengangguk pasrah. "Dan patuhi aku, jangan panggil anda dan saya, tapi adanya aku dan kamu, mengerti?" Lagi lagi Jenita mengangguk. "Ingat itu!"
"Iya, Tuan."
"Bagus!" Jack langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Jenita dengan pinggang yang masih bergerak pelan menyodok nyodok lubang nikmat Jenita.
Sementara itu di pagi yang sama, di salah satu kamar, di dalam bangunan belakang Istana, Rahul juga baru saja membuka matanya. Setelah selesai melakukan ritual bersama Insana, tak lama setelahnya mereka tertidur.
Saat mata terbuka, senyum Rahul terbesit begitu matanya menangkap sosok wanita yang masih terlelap dalam dekapan selimut. Rahul langsung bergeser sedikit dan meletakkan tangannya di atas perut si wanita yang bernama Insana.
Tak sengaja saat tangan Rahul bergerak, kain yang menutup tubuh Insana agak ketarik ke bawah, sehingga dada Insana sedikit menyembul. Keduanya memang belum memakai baju sejak ritual semalam selesai. Tangan Rahul menarik selimut yang menutupi dada Insana hingga sekarang terpampanglah bukit kembar nan indah dan kenyal yang ukurannya lumayan besar.
Rahul tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Kepalanya langsung saja bergerak dan mulutnya langsung mendarat di salah satu bukit kembar itu dan menyesapnya.
__ADS_1
"Tuan!" pekik Insana beberapa saat kemudian setelah terbangun dari tidurnya.
Rahul sedikit terkejut dan melepas mulutnya dari pucuk bukit kembar milik Insana lalu dia mendongak. "Eh, udah bangun. Aku gangguin ya?"
"Tuan kenapa seperti bayi yang sedang haus. Apa enak, Tuan?" bukannya menjawab pertanyaan Rahul, insana malah melempar pertanyaan.
Rahul tersenyum lebar sembari terkekeh lirih. "Enak lah, kalau nggak enak, aku nggak bakalan doyan. Apa kamu juga nggak merasakan enak juga?"
"Ya merasakan, Tuan. Apalagi sambil dipijat lembut seperti semalam, rasanya enak banget."
"Ya udah, aku buat enak lagi yah?" Insana menganganguk. Mulut Rahul kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat berhenti. Bukan hanya mulut yang memberi kenikmatan, tangan Rahul juga merayap ke bawah perut Insana dan menyalurkan kenikmatan dari sana.
"Tuan," panggil Insana dengan suara berat penuh hasrat.
"Saya ingin di bawah perut saya dimasukin lagi, Apa Tuan mau?"
Rahul langsug tersenyum senang. "Oh, tentu saja aku mau, baiklah, aku masukin lagi ya?"
Begitu Insana mengangguk, Rahul langsung bangkit dan mengambil posisi duduk diantara dua kaki Insana. Benda miliknya yang sudah sangat menegang langsung saja Rahul gesekkan di bibir lubang nikmat sejenak. Setelah merasa cukup, Rahul langsung saja mengarahkan benda menegang miliknya masuk lubang nikmat yan masih terasa sempit.
"Aaakhh ..."
Di saat Rahul baru saja menancapkan benda menegang miliknya, di kamar sebelah justru suara khas dari tubuh orang yang berhubungan badan, terdengar menggema memuhi ruang kamar.
__ADS_1
Plok! Plok! Plok! Plok!"
Suara itu berasal dari kamar yang digunakan Nikki dan Nafata. Kedua penghuni itu sedang meriah kenikmatan kembali sama seperti semalam.
"Sayang, sepertinya aku mau keluar," racau Nikki.
"Keluarin saja, Sayang," balas Nafata dengan nafas yang sudah tersengal sengal.
Hingga tak lama kemudian, tubuh Nikki menegang dan bergetar hebat, disusul dengan keluarnya cairan putih nan kental.
" Akhh ... akh ... akh ..."
Nikki ambruk diatas tubuh Nafata. Nafasnya tersengal sengal. Benda menegangnya masih berkedut mengeluarkan sisa sisa air kental. Setelah tuntas, Nikki menelentangkan tubuhnya di samping tubuh Nafata.
"Kamu bahagia?" Tanya Nikki saat nafasnya berangsur normal kembali.
"Bahagia sekali, Tuan," balas Nafata. "Tuan tahu apa yang membuat saya bahagia?"
"Apa?"
"Tuan masih hidup dan memenani saya. Itu yang membuat saya bahagia."
Nikki tersenyum lalu menarik tubuh Nafata ke dalam pelukannya. "Terima kasih."
__ADS_1
...@@@@@@...