NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Rencana Ratu Amuba


__ADS_3

"Jika pria itu adalah utusan naga, bisa saja pria itu yang memegang batu bercahaya ungu, Yang mulia."


Deg Raja Damendra tentu saja sangat terkejut mendengar ucapan Jenderal yang tiba tiba. Begitu juga dengan sang Ajudan dan yang lainnya. Mereka serentak menatap ke arah Jenderal dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa maksudnya, Jenderal? Pria itu memegang batu bercahaya ungu?" tanya sang Ajuda.


"Itu menurut pemikiran saya, Ajudan. Karena yang saya tahu, hilangnya kutukan dari Naga laut timur, harusnya hilang oleh Naga sendiri. Jika pria itu memang benar utusan dewa dan naga, berarti pria itu memang istimewa. Bukankah Yang mulia sendiri melihat kehebatan pria itu?" terang sang Jenderal menyimpulkan hasil pemikirannya.


Raja Damendra nampak diam, tapi pikirannya mencerna ucapan Jenderal dengan baik. Bukan hanya Raja, semua yang ada di sana juga mencerna dengan baik ucapan dari sang Jenderal, termasuk Ratu Amuba.


"Jika benar pria itu utusan Naga, bukankah ini bisa sangat menguntungkan bagi kita, Yang Mulia," ucap Ratu Amuba dengan mata yang berbinar.


Semua yang mendengarnya sontak saja mengerukan kening bersama, termasuk Raja. "Menguntungkan bagi kita? Apa maksudnya?"


Ratu Amuba mengembangkan senyum lalu berdiri di tengah tengah Aula. "Bukankah Yang mulia melihat pria itu sangat dekat dengan Ratu Jenita? Kenapa Yang mulia tidak memanfaatkan saja kedekatan mereka? Seperti menikahkan mereka misalnya."

__ADS_1


Kening Raja Damendra semakin berkerut. "Apa maksudnya dengan menikahkan mereka? Bukankah kamu tahu sendiri kalau Jenita sangat membenci kita?"


"Astaga, Yang mulia. Justru dengan menikahkan putri Jenita dengan pria itu, akan membuat Jenita berpikir kalau kita adalah orang tua yang bijaksana. Bukankah kita melihat sendiri bagaimana kedekatan mereka? Bahkan didepan mata kita, Jenita dan pria itu bercinta dengan suka rela. Maka itu, bukankah lebih baik, kita nikahkan mereka saja."


"Lalu, apa untungnya buat kita?"


"Hahaha ... masa Yang mulia tidak bisa berpikir jernih? Ya jelas saja kalau kita akan sangat diuntungkan. Jika pria itu memegang batu bercahaya ungu dan meminjamkannya kepada anda sebagai ayah dari Jenita. Bayangkan saja, apa yang bisa anda lakukan dengan batu Naga itu?"


Kening Raja Damendra dan yang lainnya semakin berkerut. Dengan wajah yang sangat serus, mereka mencerna ucapan Ratu amuba yang sedang tersenyum bangga dengan kecerdasan yang dia miliki.


"Apa yang dikatakan Ratu Amuba ada benarnya, Yang mulia. Ini bisa jadi keuntungan buat kita. Dengan memiliki batu bercahaya ungu, kita tidak perlu lagi tunduk pada Raja manapun. Termasuk Raja Roma," sang Jenderal ikut bersuara.


"Baiklah. Kalau begitu saya harus menemui putri Jenita saya kembali esok hari."


"Benar, Yang Mulia. Kita harus secepatnya bergerak untuk menguasai batu bercahaya ungu itu."

__ADS_1


Sementara itu di istana Raja Roma. Pria itu dibuat terkejut dengan kabar yang baru saja dia terima. Hari ini, orang yang disuruh mengantar lima wanita untuk menyusup di kerajaan Kagomara, kembali mendatangi pulau tersebut untuk mencari informasi tentang lima wanita itu.


Namun begitu kapal yang dia gunakan akan mendekat ke arah pulau betapa terkejutnya pria itu saat melihat begitu banyak pria berdatangan di kerajaan Kagomara. Sontak saja pria itu mendekat dan mencoba mencari tahu, dan pria itu hanya mendapat satu jawaban yang membuat dirinya semakin penasaran.


"Ada banyak pria berdatangan di Pulau itu? Bagaimana bisa?" tanya Raja Roma dengan wajah tak percaya.


"Benar Yang mulia. Saya menyaksikannya sendiri. Mereka juga bilang katanya Ratu Jenita yang mengundang mereka," lapor pria itu.


"Ini sangat aneh. Bagaimana mungkin para pria mendatangi pulau pengasingan? Apa mereka sedang cari mati?" gumam Raja Roma sembari berpikir keras tentang laporan yang baru dia terima.


"Kenapa kamu tidak sekalian masuk saja dan menyeledikinya lebih dalam? Bukanlah itu kesempatan yang bagus?" tanya sang ajudan kepada pria itu.


"Maaf, Tuan Ajudan, saya tidak ada pemikiran untuk bertindak kesana. Yang ada dalam pikiran saya, saya harus segera melaporkan apa yang saya lihat kepada Yang mulia."


"Baiklah, langkah kamu sudah benar," balas Sang Raja, lalu dia menatap ke arah Jenderal. "Sekarang kita harus kirim lagi beberapa orang untuk mendatangi pulau itu, Jenderal?"

__ADS_1


"Baik, Yang mulia."


...@@@@@...


__ADS_2