
"Apa yang terjadi?" tanya Jack kepada salah satu penjaga istana.
"Ada angin kencang tapi angin kencangnya sangat aneh," balas sang penjaga.
"Aneh gimana?"
"Di atas langit ada awan gelap yang berpetir biru, Tuan?"
"Apa! Awan gelap berpetir biru? Jangan jangan?"
Di saat Jack sedang terkejut dengan berita yang dia dengar, Jack kembali dibuat terkejut dengan kedatangan Nikki dan Rahul yang berjalan cepat ke arahnya sembari berteriak dengan wajah terlihat panik.
"Jack, kamu udah lihat? Apa yang terjadi diluar istana?" tanya Nikki dengan nafas tersengal sengal.
"Belum, ini baru keluar kamar. Emang apa yang terjadi? Kata penjaga, ada kejadian aneh?" cecar Jack dengan wajah yang mendadak ikut panik.
"Benar, ada awan gelap berpetir biru," jawab Nikki. "Awan itu sama seperti awan yang kita lihat saat kita kecelakaan dan terdampar disini."
"Apa!" pekik Jack. Perasaannya mendadak jadi tidak tenang.
__ADS_1
"Sepertinya sudah saatnya kita pulang, Jack," ucap Rahul dan wajahya berubah menjadi lesu.
"Mana mungkin! Tidak mungkin itu jalan pulang kita!" bantah Jack dengan suara yang agak tergagap. Entah kenapa hatinya mendadak jadi tidak tenang.
Bukan hanya Jack yang merasakan tidak enak di hatinya. Nikki dan Rahul juga merasakan hal yang sama dengan Jack. Jika itu adalah jalan pulang bagi mereka, maka mau tidak mau mereka harus melepaskan segala yang ada di istana Kagomara, termasuk para wanitanya.
Sungguh, ini terlalu mendadak. Ketiga pria itu memang merindukan rumah mereka, tapi apa harus secepat ini mereka meninggalkan tempat ini? Tidak, mereka belum siap. Namun mereka tidak bisa egois, Jack, Nikki dan Rahul juga memiliki keluarga yang pasti saat ini sedang mencari mereka.
"Pulanglah," sebuah suara lembut tiba tiba hadir diantara kepanikan tiga pria yang sedang terdiam. Mereka menoleh ke arah sumber suara.
"Jenita!" pekik Jack dengan suara pelan. Rasa panik yang datang tiba tiba membuat Jack dan dua temannya lupa kalau disana ada wanita wanita mereka.
"Jenita," Jack sampai tidak bisa berkata apa apa lagi. Dia juga ikut meneteskan airmata karena pada akhirnya saat seperti ini harus tiba disaat mereka sedang merengkuh rasa bahagia.
"Jangan khawatirkan kami, Tuan. Kami pasti akan baik baik saja, hiks ... hiks .. "
Jack langsung meraih tubuh Jenita ke dalam pelukannya. Begitu juga yang dilakukan oleh Nikki dan Rahul. Tangis mereka bahkan sudah pecah. Mereka tidak menyangka, jalan perpisahan harus mereka alami disaat mereka sudah saling sayang dan merasa nyaman bersama pasangan mereka tempat tinggal baru bagi ketiga pria itu.
"Tapi aku tidak akan sanggup meninggalkan kamu disini? Kamu ikut aku yah?" bujuk Jack dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Tidak, aku disini aja. Jangan membuat keluarga kamu bingung dengan kehadiranku. Jangan khawatir, aku akan selalu baik baik saja. Kasihan orang tua kamu, Tuan. Mereka pasti sangat kehilangan kamu."
Jack terbungkam. Apa yang dikatakan Jenita memang benar, tapi ini terlalu berat. Jack tidak menyangka, dia akan dihadapkan pada pilihan yang amat sulit dalam hidupnya.
Setelah saling membujuk dan menenangkan serta mencurahkan isi hati, dengan sangat terpaksa, Jack dan kawan kawan memilih jalan pulang yang sudah ada di depan mata. Sungguh, begitu berat berpisah dengan orang orang yang disayangi. Apa lagi dunia mereka berdua berbeda. Entah mereka bisa bertemu lagi atau tidak, biarlah itu menjadi urusan jalan takdir.
Kini semuanya sudah berkumpul tak jauh dari keberadaan awan gelap. Angin yang begitu kencang tak mennggoyahkan mereka yang hadir untuk melepas tiga pria yang berjasa pada hidup mereka.
"Bawalah harta ini," ucap Jenita sembari menyerahkan tiga kantung kain yang berisi berlian serta emas dari harta yang mereka ambil beberapa waktu lalu. "Semoga dengan ini, kalian akan selalu mengingat kami."
Tiga pemuda itu benar benar tidak bisa mengatakan apa apa lagi. Mereka hanya sanggup memeluk wanita mereka erat erat sebagai pelukan terakhir.
"Baiklah, aku pulang. Jaga diri kamu baik baik," ucap Jack lembut. Jenita mengangguk, Jack melepas pelukannya dan mencium kening Jenita dengan penuh perasaan.
Dengan langkah yang sangat berat, ketiga pemuda itu berjalan ke arah tanah di bawah langit gelap berpetir ungu. Hingga tak lama setelah sampai, tubuh mereka seperti ada yang menariknya dengan cepat dan mereka pun menghilang.
"Selamat jalan, tuan Jack, selamat jalan, hiks hiks ..."
...@@@@@@@...
__ADS_1