
Di malam yang sama, di saat Nikki mencoba untuk menyembuhkan Nafata, Jack justru sedang merasa senang karena berada di dalam satu kamar dengan wanita berparas cantik, Ratu Jenita. Awalnya Ratu menolak dan ingin mengingkari kekalahannya saat pertarungan siang hari. Namun, yang namanya Jack, dia tidak mau kalah. Dia bisa dengan mudah masuk ke kamar setelah memberi sedikit ancaman pada sang Ratu tentang Nafata. Padahal cuma sekedar candaan, tapi Jenita menganggapnya ancaman itu sangat serius.
Dan disinilah sekarang Jack berada, di atas ranjang yang terbilang mewah pada masanya. Jack sedang terbaring dengan senyum yang terus merekah. Berbeda dengan Jenita, wajah wanita itu tampak kesal, meski hatinya ada sedikit rasa bahagia. Rasa gengsinya lebih mendominasi saat ini. Jenita masih setia duduk di kursi depan cermin tempat biasa dia mempercantik diri.
"Apa Ratu tidak ngantuk? Mau sampai kapan Ratu duduk disitu terus?" tanya Jack yang terdengar meledek di telinga Jenita.
"Terserah saya mau sampai kapan? Bukan urusan anda!" jawab Jenita ketus.
Jack kembali tersenyum tipis. Di mata pria bertato banyak itu, sikap Jenita terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Jack pun bangkit dan turun dari ranjang, lalu melepas semua pakaiannya. Mata Jenita langsung membulat begitu melihat apa yang Jack lakukan dari pantulan cermin.
"Kenapa anda melepas semua pakaian anda?" tanya Jenita dengan suara agak keras sambil menutup mata.
Jack langsung terkekeh. Tentu saja dia merasa geli dengan tingkah Jenita saat itu. "Saya terbiasa tidur seperti ini, Ratuku, kenapa?"
"Kalau tidur di kamar anda ya silakan seperti itu, inikan di kamar saya?" protes Jenita. Tapi sepertinya Jack tidak peduli. Dia malah mendekati wanita yang sedang salah tingkah. Biar bagaimanapun ini pertama kalinya Jenita melihat pria dewasa tanpa busana.
__ADS_1
"Mulai malam ini, kamar Ratu juga akan menjadi kamar saya," bisik Jack hingga Jenita bergidig karena merasa geli dengan hembusan nafas Jack yang menyentuh bagian leher belakang telinga. Jenita langsung bangkit dan memutar tubuhnya menghadap Jack.
"Kata siapa? Anda jangan lan ..."
Cup!
Jack langsung saja membungkam mulut Jenita dengan bibirnya. Mata Jenita sontak membelalak. "Daripada marah marah, mending kita tidur, oke?" ajak Jack begitu bibir terlepas dan dia membungkuk dan mengangkat tubuh Jenita yang sempat mematung.
"Apa yang anda lakukan!" seru Jenita, namun Jack tidak tetap diam dan meletakan tubuh Jenita dengan pelan lalu dia menindihnya. "Kau .."
Cup!
Cup!
Jack kembali menempelkan bibirnya agak lama dan dia juga memainkan bibir Jenita yang hanya terdiam. Ada rasa nikmat merasuki tubuh Jenita saat ini. Rasa nikmat yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. Begitu bibir terlepas, Jack kembali memandang wajah Jenita.
__ADS_1
"Jangan pernah galak lagi sama saya, Ratuku! Jangan pernah meninggikan suara dihadapan saya! Mengerti?"
Jenita yang tiba tiba merasa takut hanya mampu mengangguk dengan sesekali menelan ludahnya yang terasa sulit.
"Baguslah, sekarang kita tidur. Dan ingat! Mulai malam ini, kita akan selalu tidur bersama, mengerti?" Jenita kembali mengangguk. Jack langsung saja tersenyum. "Bagus!"
Sementara itu, di kamar lain, tepatnya di kamar Nikki. Setelah menceburkan tubuh Nafata ke dalam kolam, Nikki terdiam dengan perasaan tak menentu. Hingga beberapa waktu berlalu, Nikki masih membiarkan tubuh Nafata berada di dasar kolam.
"Sepertinya ini bukan cara untuk menyembuhkan Nafata," gumam Nikki, lalu dia kembali turun ke dalam kolam untuk mengangkat tubuh Nafata karena takut terjadi apa apa. Namun saat tubuh Nikki hendak membungkuk, dia dikejutkan dengan sesuatu yang keluar dari dalam kolam.
"Kamu mau membunuh saya? Hah!"
Mata Nikki tentu saja langsung membelalak tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya.
...@@@@@...
__ADS_1