NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Jack Dan Jenita


__ADS_3

Malam kini telah datang. Di sebuah taman samping istana, Ratu Jenita nampak sedang duduk termenung sendirian. Bahkan di sekitarnya sama sekali tidak ada dayang yang menemaninya. Para penjaga juga hanya berjaga dari jarak yang lumayan jauh.


Sambil sesekali memandang langit, Wajah sang ratu terlihat begitu tenang dalam diamnya. Meski dalam hati dan pikiran wanita itu seperti sedang berseteru dengan segala masalah yang membelenggunya.


Tak jauh dari keberadaan Jenita, sepasang mata nampak sedang mengawasi gerak gerik wanita itu dari bangku lain yang ada di taman. Sepertinya Ratu Jenita tidak menyadari kalau segala tingkah yang dia tunjukkan, mengundang senyum seorang pria yang sedari tadi mengawasinya.


Pria yang akrab dipanggil Jack itu beberapa kali mengembangkan senyum saat merasa ada yang lucu dengan tingkah Jenita. Bahkan suara tawa juga sempat keluar ketika Jenita bertingkah konyol. Dimata Jack, tingkah Jenita sangat menggemaskan hingga dia tidak tahan dan akhirnya memilih mendekati wanita itu.


"Sedang ngapain, Ratuku?"


Suara Jack yang berat sontak saja mengagetkan Jenita yang sedang fokus menatap kelip bintang. Mata Jenita langsung melirik tajam dan sikapnya berubah judes. "Lagi ingin makan orang," jawab Jenita ketus.


"Astaga!" pekik Jack lalu dia terkekeh. "Mana orangnya yang ingin dimakan?" tanya Jack sambil duduk satu bangku dengan Jenita.


"Siapa yang menyuruh anda duduk disitu?" protes Jenita.


"Tidak ada," jawab Jack cuek. "Pengin aja duduk di dekat Ratuku," goda Jack sambil cengengesan.


"Tidak sopan! Harusnya anda itu dihukum, biar tahu diri!"

__ADS_1


Jack bukannya takut tapi malah tertawa sedikit keras. "Di hukumnya di kamar Ratu, aku mau."


Jenita sontak mendelik. "Dalam mimpimu!"


"Tapi kalau saya bisa membuat mimpi itu menjadi nyata, berarti anda harus siap tidur dengan saya, bukan?"


"Silakan saja! Anda bersama dua teman anda tinggal memilih. Tapi jika anda berhasil. Jika gagal, anda tahu sendiri bukan, apa yang terjadi pada anda?"


"Pasti! Saya tidak akan lupa akan hal itu, Ratu tenang saja."


"Baguslah," ucap Jenita lalu dia memunggungi Jack dan mengedarkan pandangannya ke arah langit. "Bagaimana keadaan Nafata?"


"Melempar pertanyaan itu seharusnya menghadap pada orang yang diberi pertanyaan, bukan malah memunggunginya. Tidak sopan," protes Jack.


Jack hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali dan dia memilih mengalah daripada mengundang perdebatan. "Dia baik baik saja."


"Syukurlah," balas Jenita merasa lega.


"Kalau boleh tahu, apa hubungan Ratu dengan putri Nafata? Sepertinya Ratu peduli sekali dengan dia?" tanya Jack mulai mencari informasi karena banyak rasa penasaran yang menyelimuti hati dan pikirannya sejak dia berada di pulau ini. Dia ingin memecahkan satu persatu misteri yang dia temukan dan berharap jika semuanya sudah terkuak, Jack bisa menemukan jalan pulang.

__ADS_1


"Sebenarnya kami dekat sejak lama. Tapi karena keegoisan orang orang yang lebih tua dari kita, hubungan saya dengan Nafata merenggang," jawab Jenita masih dengan posisi duduk yang sama, tapi kepalanya tidak mendongak lagi. Melainkan menatap lurus ke arah taman yang gelap.


Sekarang Jack sedikit memahami alasan lain Jenita menyembunyikan Nafata. Ada rasa kagum dalam hati pria itu. Bagaimana bisa seorang Jenita, wanita yang masih muda sama seperti dia, begitu terlihat tegar menghadapi semuanya sendirian. Sebagai Ratu diusia muda, pasti sangat berat untuk seorang Jenita. Tapi wanita itu tidak memiliki pilihan lain selain menjalankannya.


"Apa Ratu tahu, bagaimana cara menyembuhkan Nafata dengan batu sakti itu?"


"Tidak, seandainya saya tahu pun, saya tidak akan memberi tahu anda."


Kening Jack langsung berkerut. "Kenapa?"


Jenita langsung berbalik badan dan menatap lawan bicaranya. "Karena setiap manusia berpeluang menjadi seorang pengkhianat."


Jack langsung tertegun mendengarnya, lalu dia tersnyum lebar. "Apa saya terlihat seperti wajah pengkhianat?"


"Bisa saja. Semua orang memiliki peluang untuk menjadi penghianat. Apa lagi jika dalam hubungan dekat. Bisa saja dalam kehidupan anda sebelumnya, anda juga pernah menjadi penghianat, Tuan."


"Hahaha ... tidak pernah dong," jawab Jack dengan lantang dan sangat yakin.


"Benarkah?" Jack menganggukk dengan cepat. "Pria seperti anda pasti tidak tahan setia dengan satu wanita, bukan? Bukankah itu namanya juga penghianat?"

__ADS_1


Deg!


...@@@@...


__ADS_2