NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Akhirnya ...


__ADS_3

Semenjak kepergian Jack, Nikki dan Rahul, kerajaan Kagomara terlihat lebih makmur dari sebelumnya. Dari segi pertahanan dan keaman, kerajaan itu semakin kuat dengan bertambahnya kaum pria yang ada di sana. Beberapa benteng pertahanan juga dibangun di setiap tempat yang memiliki banyak penduduk. Benteng itu sengaja dibangun guna menunjang keamanan bagi seluruh penduduk Kagomara.


Masalah pangan juga penduduk kerajaan Kagomara tidak pernah merasa kesulitan sama sekali. Begitu juga dengan urusan tempat tinggal, semua penduduk benar benar mendapatkan fasilitas yang sangat layak. Tidak ada penduduk yang mengeluh atau merasa kekurangan karena memang semua kebutuhan sudah terpenuhi oleh pemerintah setempat.


Semua kemakmuran itu tentu saja terjadi berkat kecerdasan Ratu Nafata. Sang Ratu memanfaatkan harta yang tersembunyi untuk mencukupi semua kebutuhan kerajaan termasuk penduduknya. Dibantu oleh Jenita, Insana serta para pejabat kerajaan yang penuh kejujuran, Nafata benar benar menjalankan sistem pemerintahan yang sangat adil dan bijaksana.


Sedangkan nasib Naga dari laut timur, tak kalah menyenangkan dengan nasib yang di alami penduduk Kagomara. Sejak batu bercahaya ungu kembali kepada pemiliknya, naga betina kini berhasil mengandung, seperti yang mereka harapkan sejak lama. Kebahagiaan benar benar melimpah ruah pada kehidupan sepasang naga tersebut.


Namun berbeda dengan nasib dua raja. Raja Roma beserta sekutunya benar benar menjadi tahanan para naga. Bukan hanya naga dari laut timur, tapi juga naga dari berbagai penjuru ikut ambil bagian dalam menghukum raja yang sangat ambisius itu.


Nasib mengenaskan juga di alami oleh Ratu Amuba dan Raja Damendra. Karena kerajaan yang semakin sulit dalam bidang ekonomi, akhirnya kerajaaan itu harus runtuh dan menjadi daerah kekuasan kerajaan lain. Raja Damendra pun ditinggalkan Ratu Amuba yang memilih kabur entah kemana. Sejak saat itu, julukan Raja hilang dari diri Damendra dan dia menjadi penduduk biasa kembali.


Namun beruntung, sejak Damendra kembali manjadi rakyat biasa, hubungannya dengan Jenita semakin membaik. Meski mereka hidup di dua kerajaan yang berbeda, Jenita cukup merasa bahagia karena bisa merasakan kembali kasih sayang dari ayahnya.


"Kamu sedang apa, Jen? Kok bengong disitu?" wanita bernama Jenita yang memang sedang melamun itu sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara, setelah dia tersadar dari lamunannya. Jenita langsung tersenyum.


"Paling sedang teringat tuan Jack, Ratu. Ngapain lagi kalau Putri Jenita duduk disini," Insana yang menjawabnya. Kebetulan Insana datang bersama sang Ratu. Mereka berdua lantas duduk di tempat yang dulu sering menjadi tempat berkumpul mereka bersama para lelakinya.


"Karena di tempat ini, yang paling berkesan bagi aku, Ratu," jawab Jenita dengan senyum tipisnya.


"Bukan hanya kamu saja, kami juga selalu mengingat mereka jika melihat tempat ini," ucap Ratu Nafata. "Sebenarnya di tempat lain juga, cuma ya gitu, tempat ini terlalu banyak kenangan kita bersama Tuan Nikki dan yang lainnya."


"Apa karena itu, Ratu tidak merombak bangunan ini?" tanya Insana.


"Benar, tempat ini terlalu berharga jika aku ubah. Karena bagi aku, Tuan Nikki bukan pria yang pantas untuk dilupakan," balas Nafata.


"Tuan Rahul juga dong. Meski sering bikin kesal, tapi dia hebat dalam segala hal," ucap Insana dengan bangganya.


"Jangan lupa juga dengan jasa tuan Jack. Dia lebih segalanya dari pria pria kalian," celetuk Jenita lebih bangga lagi.

__ADS_1


Mendengar hal itu, sontak saja Nafata dan Insana langsung mencebikan bibir mereka. Tapi mereka sadar, jasa Jack memang luar biasa untuk istana Kagomara.


"Tidak terasa ya? Sudah enam purnama, Tuan Jack dan yang lainnya meninggalkan kita," ucap Insana. "Kira kira saat ini mereka sedang apa di dunianya? Apa mereka mengingat kita? Apa mereka merindukan kita?"


Janeta dan Nafata tersenyum kecut mendengar ucapan Insana. Mereka berdua juga memikirkan hal yang sama dengan Insana. Dan yang pasti mereka merindukan prianya masing masing.


"Apa tidak ada jalan lagi agar Tuan Jack bisa kembali kesini?" gumam Jenita.


Disaat bersamaan ketiga wanita itu mendengar suara yang amat sangat berisik. Mereka tidak tahu suara apa itu, karena suara itu adalah suara asing yang baru saja mereka dengar. Semakin lama suara itu semakin mendekat ke tempat mereka berada.


Ketiga wanita itu sontak berdiri dengan kening yang berkerut saat mereka melihat tiga orang mengendarai benda seperti kuda tapi memakai dua roda. Benda itu yang mengeluarkan suara berisik. Tiga orang yang kepalanya tertutup itu menghentikan benda beroda dua itu tepat di depann gedung dimana tiga wanita itu berada.


"Penjaga! Penjaga!" teriak Nafata.


"Iya, Ratu!" ucap salah satu penjaga saat dia sudah menghadap Ratu Nafata.


"Siapa mereka? Kenapa kalian membiarkan mereka masuk?" Nafata kelihata murka.


Mata Jenita, Nafata dan Insana sontak membelalak seketika.


"Tuan Jack!"


"Tuan Nikki!"


"Tuan Rahul!"


Ketiga wanita itu memekik memanggil nama tiga orang yang mereka rindukan. Ya, mereka lah Jack, Nikki, dan Rahu. Mereka datang kembali ke pulau Kagomara. Begitu mereka melihat awan gelap berpetir biru di daerah tempat tinggal masing masing. Tanpa perencanaan dan persiapan, ketiganya berinisiatif langsung berdiri di bawah awan hitam hingga terhisap memasuki kembali bayangan aneh awan hitam itu dengan memakai motor mereka masing masing.


Jack dan yang lainnya juga awalnya kaget saat mereka kembali dipertemukan di tempat yang sama, begitu masuk ke dalam dunia lain yang mereka rindukan. Mereka juga sangat senang bisa bertemu kembali. Sebelum memutuskan menuju ke istana, mereka terlebih dahulu saling tanya kabar dan berbagi cerita saat mereka pulang. Puas saling menceritakan keadaan masing masing, mereka bertiga memutuskan pergi ke istana untuk memenui para wanita.

__ADS_1


"Kirain, Tuan tidak akan datang kesini lagi?"


"Awalnya aku pikir juga begitu, eh malah ada awan hitam berpetir biru di daerah rumahku. Ya udah aku langsung aja berdiri dibawahnya. Kenapa? Apa kamu merindukan aku?"


"Sangat, sangat rindu. Enam purnama tidak bertemu, wajarkan kalau rindu?"


"Enam purnama? Padahal di duniaku, aku pulang pulang dan kesini lagi belum ada satu bulan?"


"Masa? Kok bisa?"


"Beneran, sayang."


"Kok aneh ya?"


"Tapi nggak apa apa yang penting kita bisa dipertemukan kembali. Dan sepertinya aku bisa pulang pergi kesini dengan mudah sekarang?"


"Yang benar? Kok bisa?"


"Lebih baik kita masuk kamar yuk, kita ngobrol di kamar saja. Aku rindu lubang kamu, Sayang."


"Hihii ... nakal, aku juga rindu batang kamu, Tuan Jack."


"Ya udah yuk ke kamar."


"Mari."


Tanpa perlu pikir panjang, para wanita itu langsung setuju di ajak oleh prianya masing masing. Mereka bergegas masuk ke dalam kamar yang ada di bangunan belakang istana, untuk menuntaskan hasrat mereka dan mengungkapkan rasa rindu dan bahagia.


...》》》》》》 T A M A T 《《《《《...

__ADS_1


akhirnya kisah ini menemui titik akhirnya. Terima kasih kepada para pembaca yang telah mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Terima kasih atas segala dukungan. Sambil menunggu karya baru yang akan meluncur mulai tanggal dua, nikmati dulu yuk karya lain saya yang masih berjalan. Sekali lagi terima kasih dan maaf jika ada yang kurang puas dengan cerita ini



__ADS_2