NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Setelah Semuanya Usai


__ADS_3

Paginya di tempat persembunyian sang naga, senyum naga jantan terkembang sempurna saat membuka matanya. Dia segera bangkit dan beranjak dari tempat tidurnya, mencari sang istri yang terlebih dahulu bangun dari tidurnya.


"Istriku! Istriku!" teriak sang naga jantan. "Istriku! Kamu dimana!"


"Aku di luar, Suamiku!" balas naga betina dengan suara yang keras juga.


Mendengar suara sang istri, Naga jantan langsung bergegas keluar untuk menemuinya. Begitu matanya menangkap sosok yang dia cari, Naga jantan langsung memeluk tubub Naga betina yang sedang berdiri sembari meregangkan otot ototnya.


"Ada apa, Suamiku? Kenapa kamu terlihat sangat bahagia?" tanya Naga betina dengan wajah terkejutnya.


"Iya, Istriku, kamu benar, aku sedang sangat bahagia," jawab Naga jantan antusias.


"Apa yang membuat kamu bahagia sepagi ini, Suamiku? Aku jadi penasaran."


Tanpa melepas pelukannnya, Naga jantan tersenyum sambil menatap wajah sang istri yang memang terlihat sangat penasaran. "Coba tebak? Apa yang membuatku bahagia?"


Kening Naga betina berkerut, namun tak lama kemudian senyumnya terbesit. "Jangan main tebak tebakan, Suamiku. Aku lagi malas berpikir."


"Hahaha ..." Naga jantan langsung tergelak. "Baiklah, baiklah. Dengarkan aku ya? Sebentar lagi kamu akan sembuh, kekuatanmu juga akan pulih, Istriku."


Naga betina kembali mengerutkan keningnya. "Apa maksudnya, Suamiku?"


Naga jantan tersenyum dan mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Pria itu berhasil melunturkan racun sihir kita."


"Apa! Benarkah?" tanya Naga betina dengan wajah yang sangat terkejut.


Naga jantan mengangguk yakin. "Aku merasakannya, Istriku. Semoga secepatnya pemuda itu menyerahkan kembali batu bercahaya ungu milik kita."

__ADS_1


Naga betina tak bisa berkata kata lagi. Karena terlalu bahagia dengan berita yang baru saja dia dengar, dia sampai meneteskan airmata. Naga betina langsung memeluk suaminya.


"Kamu senang?"


"Iya, Suamiku, aku senang, aku bahagia, terima kasih."


Keduanya saling tersenyum dalam kehangatan pelukan mereka.


Sementara itu di pagi yang sama, di sebuah kerajaan yang di pimpin oleh Raja Damendra. Terlihat sang Raja sudah terbangun dari tidurnya. Begitu matanya terbuka, dia langsung melihat sosok istrinya yang sedang bersolek di depan cermin.


"Kamu sudah bangun?" tanya Raja Damendra sembari bangkit dan duduk bersandar di atas ranjang.


"Sudah, Yang mulia. Sedari tadi. Yang mulia juga sebaiknya segera mandi. Bukankah hari ini Yang mulia harus mengumumkan pengumuman penting?" ucap Ratu Amuba dengan manatap wajah suaminya dari pantulan cermin di hadapannya.


"Pengumuman penting?" tanya Raja Damendra dengan wajah terlihat bingung.


"Oh yang itu? Mau cari dimana? Kita sama sekali tidak memiliki petunjuk."


"Petunjuknya itu kita harus menemukan putri Nafata. Seperti yang dikatakan mata mata kita."


"Dimana kita mencarinya?"


Amuba langsung melayangkan tatapan tajamnya. "Kenapa kita yang harus mencarinya? Kan ada anak buah dan prajurit? Suruh saja mereka yang mencari?"


Raja Damendra lansung menepuk keningnya. "Oh iya."


"Astaga!"

__ADS_1


Dan masih di pagi yang sama. Namun kali ini di kamar utama, di dalam istana, kerajaan Kagomara.


"Akhh ... akhh ... akhh ..."


Tubuh kekar bertato pria itu menegang dan bergetar bersama dengan keluarnya caiaran putih kental di dalam lubang yang hangat milik wanita di bawahnya. Tubuhnya ambruk, nafasnya tersengal sengal. Pria itu membiarkan benda miliknya yang masih berkedut, menuntaskan kerjanya di dalam lubang hingga tuntas. Setelahnya tubuh itu tumbang dan telentang di sisi wanita dengan senyum yang terkembang.


Si wanita menoleh, menatap wajah pria yang matanya sedang terpejam dengan nafas yang mulai berangsur angsur normal. Tubuh keduanya basah. Keringat ada di mana mana. Si wanita lantas mengalihkan pandangannya ke langit langit kamar. Sejenak hening melanda diantara mereka. Pikiran berkelana dengan berbeda cerita.


"Tuan," panggil si wanita bernama Jenita.


"Hum? Ada apa, Ratuku?" jawab si pria bernama Jack tanpa membuka matanya.


"Apa anda ..."


"Kamu!" tegas Jack sembari menoleh ke arah Jenita. "Ingat! Bukan anda, tapi kamu! Kamu dan aku!" ucap Jack penuh penekanan.


Jenita terperanjat, tapi tak ada pilihan lain selain dia harus menurutinya meski dengan rasa canggung. "Em ... apa kamu siap kalau aku mengumumkan berita tentang hilangnya kutukan yang bersarang di tubuhku?"


Kening Jack berkerut kemudian tersenyum tipis. "Kenapa tanya sama aku? Kan kamu yang sembuh, Ratuku?"


"Tapi kan ini ada hubungannya dengan kamu, Tuan Jack."


"Ada hubungannya dengan aku? Apa?"


"Kamu juga harus bisa melunturkan kutukan seluruh wanita di pulau ini."


"Waduh!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2