
"Raja Damendra, apa anda tidak melihat keanehan lainnya yang sangat menonjol disana?"
"Ya, ada."
"Apa itu?"
"Pengakuan dari pria itu."
"Pengakuan? Pengakuann tentang apa?"
"Pria bernama Jack itu mengaku kalau dia adalah utusan dewa dan juga naga."
"Apa!" pekik Raja Roma dengan wajah yang begitu sangat terkejut mendengar nama yang baru saja disebut oleh Raja Damendra. "Utusan dewa dan naga? Mana mungkin?"
"Itulah, Raja Roma. Aku sendiri juga tidak percaya saat mendengarnya. Tapi melihat keberanian pria itu dan juga perubahan penduduk kerajaan yang sangat mencolok, bukankah itu mungkin saja benar kalau pria itu memang utusan Naga dan juga dewa?"
Raja Roma tidak langsung menjawab. Keningnya berkerut sembari berpikir dan mencerna ucapan Raja Damendra. Dilihat dari cerita yang disampaikan Raja dihadapannya, Raja Roma berpikir bisa jadi itu semua benar. Mungkin itu sebabnya pria itu bisa melunturkan kutukan dari naga karena memang pria itu memilki keistimewaan.
"Berarti pria itu pasti pria yang hebat. Mungkin saja memang benar dia utusan naga dan dewa, makanya dia bisa dengan mudah menghilangkan kutukan itu tanpa bantuan batu bercahaya ungu."
"Bisa jadi. Tapi yang membuat saya kepikiran, bagaimana nasib putriku?" ucap Raja Damendra dengan wajah sendu. "Saya yakin, putri saya pasti sudah dibunuh oleh pria itu diam diam, dan dia menyebarkan berita palsu kalau putriku pergi dari istana karena malu dan kecewa pada saya."
Raja Roma lantas tersenyum. "Tenang saja, aku pasti akan membalaskan dendam putri anda?"
__ADS_1
Mata Raja Damendra sontak membeliak. "Maksud anda?"
"Jika dia memang pria yang hebat, saya harus mencoba seberapa hebatnya pria itu, bukan?" ucap Raja Roma langsung menunjukkan sifat angkuhnya.
Dengan kening berkerut dan mata sedikit menyipit sembari menatap Raja Roma, Raja Damendra mencerna kata yang baru saja diucapkan Raja dihadapannya. Namun tak lama kemudian raut wajah Raja Damendra berunah menjadi berbinar. "Saya tahu dan saya mendukung anda sepenuhnya."
Kedua raja itu lantas terbahak penuh keangkuhan dengan membayangkan sebuah kemenangan yang mereka yakini akan menjadi milik mereka.
"Biarlah Raja Roma yang menghancurkan Tuan Jack. Aku hanya akan diam dan menikmati hasilnya saja," gumam Raja Damendra dalam hatinya.
Ssmentara itu, orang yang sedang dibicarakan oleh dua raja terlihat sedang memasuki pintu rahasia menuju ke sebuah tempat dimana tempat itu berisi harta yang melimpah incaran para Raja. Selain Nafata, Jack dan yang lainnya sangat takjub dengan apa yang mereka lihat di sepanjang jalan yang mereka lewati.
"Apa sekarang kita berada di bawah perut bumi?" tanya Rahul.
"Apa lorong ini menembus sampa ke perut bumi?" tanya Rahul lagi.
"Kenapa memang?" Jack yang bersuara.
"Serem aja. Kalau ada gempa, kita bakalan langsung terkubur. Hih! Ngeri!"
"Tuan, jangan bicara yang seram seram dong!" protes Insana. "Orang lagi takut, pake ngomong yang tidak tidak. Mending tadi Tuan tidak perlu ikut masuk."
"Astaga! Aku kan cuma ..."
__ADS_1
"Bisa diam tidak!" Insana langsung mengeluarkan nada tinggi hingga Rahul terbungkam, tidak berani membantah lagi. Jack dan Nikki sontak terkekeh melihat Rahul yang mati kutu dibentak wanita yang bergandengan tangan dengan Rahul.
Saat langkah kaki sudah lumayan jauh, tiba tiba Nafata menghentikan langkah kakinya dan melepas tangan Nikki. Semua yang ada disana ikut berhenti dan memperhatikan gerak gerik Nafata tanpa ada yang bertanya.
"Tuan, tolong dorong batu ini," ucap Nafata pada Nikki sembari menunjuk ke arah batu yang menonjol dari dalam tanah. Nikki lantas mendekat dan melakukan perintah wanita itu.
Begitu batu didorong dengan sekuat tenaga, tiba tiba lorong itu bergetar dan cukup membuat panik orang yang ada disana. Bersamaan dengan getaran itu, lagi lagi Jack dan yang lainnya dibuat takjub saat ada pintu rahasia yang lainnya terbuka di depan mata mereka dan perlahan mengeluarkan cahaya terang dari balik pintu itu.
"Wow! Keren!" seru Rahul takjub.
Begitu pintu rahasia itu berhenti, Nafata melangkah melewati pintu itu dan diikuti yang lainnya. Lagi lagi saat mereka keluar dari sana, mereka begitu takjub dengan apa yang mereka lihat.
"Gila! Indah banget!"
"Benar!"
Disaat semua sedang takjub dengan pemandangan yang mereka lihat, Nafata memetik buah seperti buah rambutan namun ukurannya lebih kecil mirip buah kelengkeng. Nafata menyerahkannya kepada Rahul.
"Makanlah!"
Rahul yang merasa heran tentu saja menerima buah itu, mengupas kulitnya dan memakan isinya. Saat biji dari buah itu terlihat, mata Rahul sontak membelalak.
"Ini ...."
__ADS_1
...@@@@@...