NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Rahul Dan Insana


__ADS_3

"Aku punya berita bagus untukmu, Suamiku."


"Berita bagus?" Sang istri mengangguk. "Berita bagus apa?"


"Aku melihat batu bercahaya ungu."


"Apa! Dimana?" tanya naga jantan dengan raut wajah terlihat berbinar meski rasa terkejut juga tidak bisa dia sembunyikan.


"Batu itu ada pada tubuh seorang laki laki, Suamiku."


"Laki laki?" tanya naga jantan dengan kening berkerut. "Bagaimana bisa? Bukankah pulau ini tidak ada penduduk laki laki?"


Naga betina pun mengiyakan, lalu dia menceritakan apa yang terjadi selama naga jantan pergi. Betapa terkejutnya naga jantan saat mengetahui fakta tentang keadaan batu bercahaya ungu sekarang.


"Jadi benar, batu itu tidak utuh lagi?"


"Benar, suamiku. Entah apa yang terjadi dengan batu itu."


"Ini aneh, istriku? Jika batu itu terbelah, lalu bagaimana bisa kamu merasakan kekuatannya? Harusnya saat kekuatannya terasa, batu itu dalam keadaan utuh?"


Naga betina terdiam dan mencerna setiap kata yang diucapkan naga jantan. Ini memang aneh. Apa yang terjadi sebenarnya dalam pada batu itu?

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan, istrku. Nanti aku akan menyelidikinya. Aku juga penasaran, kenapa ada laki laki di pulau ini? Apa mungkin kutukannya telah berhasil dihilangkan? Jika benar, berarti ada hubungannya dengan batu itu, istriku."


Lagi lagi naga betina mencerna ucapan suaminya dan beberapa saat kemudian dia mengangguk tanda mengerti dengan apa yang dikatakan naga jantan.


Sementara itu, Rahul merasa kewalahan mengejar wanita yang tiba tiba sikapnya berubah tanpa Rahul tahu apa penyebabnya. Karena merasa lelah dan gemas, begitu jarak mereka dekat, Rahul langsung menarik tangan Insana. Namun sayang, karena terlalu terkejut, Insana menabrak tubuh Rahul lumayan keras hingga tubuh keduanya ambruk ke tanah dengan posisi tubuh Insana menghadap Rahul.


Bugh!


"Auw!" pekik Insana.


"Aku yang di bawah kok kamu yang kesakitan sih?" ledek Rahul sambil cengengesan. Tangannya melingkar erat pinggang wanita yang sedang cemberut di atas tubuhnya.


"Lepaskan!" hardik Insana dengan tubuh terus bergerak agar bisa terlepas dari jeratan tangan kekar milik Rahul.


"Siapa yang marah? Lepaskan, Tuan."


"Nggak mau! Ngaku dulu, kenapa tiba tiba marah? Baru aku lepasin?"


Semakin Insana berontak, maka semakin kencang jeratan tangan Rahul memeluknya. Tubuh Insana yang langsing dengan tinggi standar jelas kalah jauh tenaganya dengan tubuh Rahul yang tegap dan atletis. Hinngga gerakan memberontak yang awalnya sangat kencang lama kelamaan melemah dan Insana terdiam dan menyerah.


Meski badannya berada di atas tubuh pria, wajah wanita itu sama sekali enggan menatap pria di bawahnya. Dengan wajah ketus, Insana terus membuang muka. Sedangkan Rahul hanya bisa senyum senyum memandangi wajah kesal wanita itu. Bahkan dengan sangat sadar, ada bagian tubuh Rahul yang sudah membesar dan mengeras karena gerakan badan Insana. Namun pria itu tidak bisa melalukan apa apa karena takut kena kutukan jika dia nekat menerjang.

__ADS_1


"Jawab! Tadi kenapa tiba tiba marah, hmm?" desak Rahul dengan menatap insana hampir tak berkedip.


"Dia memandangi wajah anda terus," jawab Insana tanpa berani membalas tatapan Rahul.


Seketika kening Rahul berkerut. "Dia? Dia siapa?" tanya Rahul bingung. Dia benar benar lupa dengan kejadian di bukit tadi.


"Wanita itu."


"Wanita? Wanita yang mana?" tanya Rahul sambil mengingat ingat sesuatu.


"Masa kejadian tadi sudah lupa? Atau jangan jangan anda hanya pura pura?" sungut Insana sembari menatap tajam pria di bawahnya.


"Serius aku lupa! Bentar, aku inget inget dulu," Rahul pun langsung berpikir, dan tak lama kemudian wajah Rahul berbinar. "Ah iya, aku ingat. Astaga! Kamu cemburu?"


Siapa yang cemburu?" Kilah Insana, dan dia kembali memberongak minta dilepasin. "Ini lepakan! Saya sudah jawab pertanyaan Tuan, kan?"


Rahul masih senyum senyum sambil terus menatap wajah salah tingkah wanita di atasnya. "Cemburu ya? Ngaku aja."


"Jangan asal nuduh, Tuan! Siapa yang cemburu? Ini lepaskan!" rengek Insana.


Rahul malah semakin erat memeluknya. Hingga saat dia asyik menikmati wajah salah tingkah Insana, timbul niat iseng dalam hatinya. Tangan kakan Rahul bergerak dengan cepat dan meraih kepala bagian balakang milik Insana dan mendorongnya ningga wajah Insana maju, lalu bibr Rahul langsung menyambar bibir Insana.

__ADS_1


Cup!


...@@@@@...


__ADS_2