NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Penolakan Jack


__ADS_3

"Terus diluar ada keributan yang meminta aku jadi Raja, itu ulah siapa?"


"Itu inisiatif orang orang Jack. Memurut mereka, kamu orang hebat dengan apa yang kamu lakukan untuk kerajaan ini," jawab Nafata.


"Hahaha ... hebat apanya? Biasa aja perasaan."


"Cih! Sok merendah!" Cibir Nikki. "Terus kamu siap nggak ditunjuk jadi Raja?"


Jack terdiam, dia menatap setiap wajah yang juga sedang memandangnya. "Aku nggak tahu. Sepertinya menjadi Raja tidak cocok untuk aku."


Jenita mendongak menatap wajah tampan pria yang tubuhnya penuh gambar itu. "Kamu punya jiwa pemimpin, Tuan. Kenapa tidak kamu coba?"


Jack pun mengulas senyum. "Apa aku siap? Kamu tahu? Aku memang orang asing yang sedang mencari jalan pulang, terus kalau jalan pulang itu ada, maka aku akan dipersimpangan pilihan yang berat, Ratuku."


Kening Jeniita berkerut, lalu dia kembali merebahkan kepalanya di dada bidang Jack tanpa berbicara lagi. Pelukannya semakin erat. Mendengar kata jalan pulang dari mulut Jack adalah hal yang membuat Jenita dilema dan merasa was was. Dia juga pasti akan berada diperimpangan pilihan yang sangat berat juga.


Bukan hanya Jenita dan Jack saja yang merasaikan dilema. Dua orang yang sedari tadi tersenyum di sebelah mereka juga langsung saling pandang begitu mendengar kata jalan pulang. Nikki dan Nafata mendadak merasa getir mendengar kata kata itu. Nikki langsung menenggelamkan tubuh Nafata ke dalam pelukannya.


"Dulu, apa yang menyebabkan kalian bisa sampai berada di pulau ini, Tuan?" tanya Nafata.


"Dulu, meski aku, Jack dan Rahul berasal dari tempat yang berbeda, kami sama sama mengalami musibah yang membuat kami tak sadarkan diri. Namun anehnya, saat kami terbangun, kami sudah berada di pulau ini. Awalnya aku yang datang kemudian Rahul, baru Jack datang terakhir," jelas Nikki.

__ADS_1


Kening Nafata berkerut. "Lalu? Apa ada keanehan saat kalian mengalami musibah?"


"Kita duduk dulu aja, nanti aku ceritakan semuanya," ucap Nikki lalu mereka mengurai pelukannya dan duduk di kursi yang ada disana. Begitu juga dengan Jack dan Jenita. Mereka duduk di kursi yang berhadapan dengan Nikki dan Nafata.


"Saat kecelakaan, kita sama sama melihat sebuah awan hitam dengan kilatan petir bewarna biru. Awalnya aku tidak yakin kalau itu penyebabnya. Tapi, begitu mendengar cerita dari Rahul dan Jack, baru aku percaya. Di tambah lagi dengan adanya batu bercahaya ungu. Mungkin kita memang sengaja di undang ke pulau ini dengan missi khusus" Nikki menyambung ceritanya.


"Nyatanya memang benar bukan? Di pulau ini terjadi masalah yang sangat memptihatinkan?" Jack pun menimpali. "Seandainya dulu aku jadi dihukum mati, bagaimana nasib kalian coba?"


"Ya maaf," cicit Jenita. "Dulu kan aku takut kalau kalian musuh yang mengincar harta."


"Hmm ... ngapain minta maaf, Ratuku. Kamu nggak salah. Keadaan yang memang kurang mendukung."


"Iya, Jack, mending kamu coba aja jadi Raja mereka. Aku yakin kamu pasti bisa," desak Nikki.


"Nih ya dengar, daripada kita berdebat soal aku yang mau atau tidak menjadi Raja, bukankah lebih baik kita fokus pada persiapan prajurit. Ingat, musuh bisa saja menyerang kapan saja, dan kita tidak boleh lengah," ucap Jack lantang.


Tiga orang yang berada di sekitar Jack nampak terdiam mencerna ucapan Jack yang memang benar adsnya. Mereka lalu setuju dengan apa yang Jack katakan.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sekitar tenda yang ada di samping Isntana. Rahul nampak sedang mengamati pria dan wanita yang sedang berhubungan badan. Dengan alasan mengawasi, Rahul menikmati setiap adegan yang disuguhkan. Meski kebanyakan menggunakan gaya yang sama yaitu pria di atas dan di bawah, tapi tontonan seperti itu tetap bisa menghibur.


"Tuan," sebuah suara serak serak basah menyapa Rahul yang sedang fokus menatap adegan di depannya. Rahul sontak menoleh dan seketika matanya berbinar saat melihat siapa yang memanggil.

__ADS_1


"Ada apa, Nona cantik? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rahul dengan sok kerennya.


"Dari tadi saya perhatikan, Tuan hanya diam saja. Apa tidak ada wanita yang menenami?"


"Wanitaku sedang sibuk ngurusin orang lain, aku sendirian," balas Rahul dengan memasang wajah sendu.


"Duh, kasihan. Boleh saya temani, Tuan?"


Hati Rahul langsung bersorak, tapi wajahnya memasang wajah kalem. "Apa tidak merepotkan, Nona?"


"Tidak, Tuan. Saya juga sedang mencari lawan. Maklum, kutukan di tubuh saya belum ada yang menghilangkannya, Tuan."


Mata Rahul sontak membelalak. "Benarkah?" wanita itu mengangguk. "Kalau saya yang menghilangkan kutukan itu, mau tidak?"


"Mau sekali, Tuan!" seru wanita itu langsung tanpa pikir panjang.


"Ya sudah, kita ke tenda itu, yuk. Aku lunturin kutukan di tubuh kamu."


"Baik, Tuan!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2