NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Curhat Kekesalan Jack


__ADS_3

"Wajarlah Jack bersikap seperti itu. Dia melakukan segalanya dengan sepenuh hati untuk Ratu, tapi Ratu sendiri yang mematahkan semangatnya. Kalau sudah begini, kita bisa apa?"


Wajah Jenita sungguh terlihat frustasi. Tidak seharusnya dia menantang pria yang ingin menolongnya. Sebenarnya tujuan Jack itu baik, hanya memberi pelajaran kepada dua manusia yang telah berlaku jahat. Tapi entah kenapa mendadak Jenita ada pemikiran kalau tidak selamanya yang jahat harus dibalas yang jahat.


Wajar jika Jenita memikirkan hal seperti itu. Dia punya hati yang bisa saja berubah ubah suasananya selayaknya hati manusia yang lain. Tapi dia tidak menyangka kalau isi hatinya saat itu malah membuat satu satunya pria yang melindungi hidupnya merasa dibuat kecewa.


"Terus Tuan Jack pergi kemana? Apa tidak ada yang melihatnya pergi?" tanya Jenita denga suara pelan dan wajah yang sangat gelisah.


"Coba tanya penjaga, kali aja mereka ada yang lihat?" usul Rahul.


Benar saja, saat bertanya ke beberapa penjaga, mereka melihat Jack keluar dengan naik kuda dan terlihat terburu buru. Rasa bersalah pun semakin Jenita rasakan. Dia terduduk di teras depan Istana dengan airmata yang berlinang.


Sementara itu, jack sendiri melajukan kudanya ke tempat dimana sepasang Naga berada. Entah kenapa hanya mereka yang terlintas dalam pikiran Jack saat dia memutuskan pergi untuk meredam amarah dan kecewanya kepada Jenita.


Jack memang tidak banyak kenalan di pulau itu. Hampiir setiap hari waktunya, Jack habiskan di dalam istana. Makanya sangat masuk akal saat Jack memutuskan pergi ke tempat Naga untuk meredam amarahnya.

__ADS_1


"Wahh! Tumben Tuan Jack bertandang kesini? Bagaimana? Apa ada masalah?" ucap Naga begitu keluar rumah untuk menyambut kedatangan Jack.


"Apa tuan Naga selalu tahu? Apa yang terjadi di dalam istana?" bukannya menjawab, Jack malah melempar pertanyaan kembali.


"Hahaha ... " Naga tergelak. "Saya hanya menebak saja, Tuan Jack. Melihat wajah anda yang nampak muram membuat saya paham kalau ada sesautu yang terjadi."


Jack menghembus kasar nafasnya. "Apa yang anda katakan memang benar. Saya sedang merasa kesal kepada Ratu Jenita dan Ratu Amuba."


Kening Naga sontak berkerut. "Kesal kepada dua ratu? Kok bisa? Apa dua ratu itu sudah damai? Setahu saya, Ratu Jenita dan Ratu Amuba terlibat konflik yang tidak pernah selesai?"


"Begitulah manusia. Yang serakah akan selalu mencari cara unuk mewujudkan ambisinya. Sedangkan yang baik semakin pasrah ditindas tanpa ingin membalasnya. Sebenarnya Ratu Jenita bukan wanita yang lemah, hanya saja dia enggan mengurusi Ratu Amuba yang semakin tidak tahu diri. Tapi saya setuju dengan anda. Biar bagaimanapun anda laki laki, ibaratnya darah harus di lawan dengan darah," ucap Naga Jantan begitu panjang untuk menyemangati pria yang kini memandang ke arah hutan yang gelap.


"Tapi semangat saya seketika runtuh saat Jenita malah menentang saya. Entah apa yang merasuki pikirannya hingga dia berubah arah menentang saya."


Naga jantan tersenyum tipis. "Coba bicarakan lagi dengan kepala dingin. Munngkin saja nanti ada titik temu yang membuat anda dan Ratu Jenita mencapai kesepakatan."

__ADS_1


"Baiklah, nanti setelah suasana hati saya tenang baru saya akan kembali, untuk saat ini saya masih enggan menemuinya."


"Haahaha ... baiklah, terserah anda, Tuan Jack. "Gimana? Sudah berapa mahkota wanita yang sudah anda nikmati?"


Mendengar pertanyaan Naga, Jack sontak tersenyum lebar. Dia pun menjawab apa adanya, dan obrolan keduanya semakin melebar kemana mana. Hingga saat suasana hatinya sudah membaik, Jack lantas pamit undur diri.


Sementara itu di tempat lain, Raja Roma kembali dibuat murka. Dia lagi lagi melampiaskan amarahnya kepada orang yang berada di hadapannya. Segala caci maki dia lontarkan. Seperti biasa, tidak ada yang mampu meredam amarah Raja Roma.


"Bagaimana bisa kalian memberi laporan yang sangat tidak penting seperti ini? Hah!" Teriak Raja Roma penuh dengan amarah. "Jika orang orang suruhan kita menghilang dan tidak ada kabar, harusnya kalian berinisiatif memberi perintah kepada yang lainnya untuk menyelidiki. Bukan malah melapor kepada saya! Terus fungsi kalian punya otak untuk apa? Untuk pajangan? Hah!"


"Ampuni kami, Yang mulia. Maaf, kami tidak bermaksud ..."


"Sudah, sudah, sudah! Saya bosan mendengarkan permintaan maaf kalian. Sekerang kirim lagi orang ke sana. Jangan sampai berhenti sebelum mendapat informasi penting, mengerti?"


"Mengerti, Yang mulia."

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2