NEGERI SEJUTA PERAWAN

NEGERI SEJUTA PERAWAN
Ketahuan


__ADS_3

"Tolong! Tolong!"


Rahul dan Insana yang sedang bersenda gurau, sontak terkejut mendengar suara wanita berteriak meminta tolong. Mereka pun segera bangkit dan bergerak mencari sumber suara berasal.


"Sepertinya suaranya dari arah sana!" ucap Insana sembari menunjuk ke arah sebuah bukit.


"Tolong!"


"Benar! Suara itu berasal dari sana!" seru Rahul. "Ayo! Kita kesana!"


Insana mengangguk. Mereka segera saja lari secepat mungkin menuju ke arah bukit dimana suara teriakan minta tolong semakin terdengar jelas berasal dari bukit itu. Betapa terkejutnya mereka berdua saat melihat seorang wanita sedang bergelantung di tepi sebuah bukit. Tanpa pikir panjang mereka langsung menangkap tangan wanita itu dan menariknya sekuat tenaga.


Wanita itu berhasil diselamatkan. Entah apa yang akan terjadi dengan wanita itu jika Rahul dan Insana terlambat memberi pertolongan. Wanita itu juga nampak terkejut saat melihat Rahul ada disana. Bagaimana bisa ada laki laki di pulau ini?"


"Aduh!" pekik si wanita itu sembari memegangi kakinya.


"Sepertinya kaki anda terluka Nyonya," ucap Insana sembari mematap pergelangan kaki wanita yang terlihat agak tua.


"Iya, tadi saya tergelincir," ucap wanita itu.


"Apa anda sendirian?" tanya Insana lagi.


Wanita itu bukannya langsung menjawab, dia malah mengedarkan pandangannnya ke sekeliling dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Anda terlihat pucat, apa anda baik baik saja?" tanya Insana lagi.


"Aku ..."


Belum sempat wanita itu menyelesaikan ucapannya, Rahul segera saja menimpali, "Lebih baik kita bawa dia pulang. Lihat! Dia terluka, dan sepertinya dia sendirian. Bagaimana?"


"Maaf, tidak perlu, saya baik baik saja," tolak wanita itu agak gugup. Bola matanya terus berlari memandang ke segala arah. Dari sikapnya, sepertinya wanita itu sedang mencari seseorang.


Rahul yang menyadari gerak gerik wanita itu lantas berkata, "Sepertinya tidak akan ada yang datang. Bukankah tadi anda berteriak sangat kencang? Selain kita, sepertinya tidak ada orang lain lagi."


Wanita itu semakin terlihat bingung. Entah apa yang sedang dia pikirkan, tapi saat dia melihat Rahul berdiri lalu membungkuk membopong si wanita, mata wanita itu sontak membulat saat melihat sesuatu yang keluar dari balik leher pemuda itu.


"Bukankah itu batu bercahaya ungu?" gumamnya dalam hati. "Tapi kenapa bentuknya seperti itu?"


"Kalau anda tidak mau di tolong ya sudah, lebih baik saya pergi," ucap Insana dengan kesal dan hal itu membuat si wanita dan Rahul menjadi terkejut dibuatnya. Insana segera saja melangkah cepat dengan perasaan dongkol.


"Loh, loh, loh, Insana! Tunggu!" teriak Rahul langsung berdiri tegak lalu melangkah cepat menahan tangan wanita yang dia kejar. "Kenapa malah pergi? Kasian wanita itu."


"Percuma kita kasian, dia sendiri juga menolak untuk kita tolong," sentak Insana lalu melanjutkan langkah kakinya.


"Ya nggak gitu juga," Rahul kembali menahan langkah Insana. "Kita tungguin dia sebentar lagi, kali saja nanti ada yang mencarinya kesini."


Insana menoleh dan menatap tajam ke arah Rahul. "Kalau anda mau menemaninya, silakan! Saya lebih baik pulang! Permisi!"

__ADS_1


Insana langsung bergegas meninggalkan Rahul yang kebingungan. Wanita itu pun tersenyum menatap pria yang nampak friustasi.


"Pergilah! Sebentar lagi, pasti akan ada yang datang. Saya sudah terbiasa datang kemari," ucap wanita itu dusta.


"Benarkah?" tanya Rahul memastikan, dan wanita itu mengangguk dengan senyum yang masih terkembang. "Baiklah, saya harap anda berhati hati lain kali. Saya pergi dulu."


Wanita itu mengangguk, dan tak lama kemudian Rahul segera lari menyusul Insana. Sedangkan si wanita, senyumnya terus terkembang melepas kepergian Rahul.


Beberapa saat setelah keduanya pergi, datanglah seekor naga menghampiri wanita itu. Naga itu langsung menjelma menjadi manusia dan menghampiri si wanita dengan wajah panik.


"Istriku, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu berada disini?" tanya Naga jantan bertubi tubi.


Sang istri langsung mengulas senyum kembali. "Aku tidak apa apa, suamiku, aku hanya terkilir."


"Astaga! Kenapa bisa sampai terkilir?"


"Tenang, suamiku, aku tidak apa apa, dan aku punya berita bagus untuk kamu."


"Berita bagus?" Sang istri mengangguk. "Berita bagus apa?"


"Aku melihat batu bercahaya ungu."


"Apa!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2